Muhammadiyah Perkuat Kelompok Tani Hutan di Bengkulu: 12.500 Bibit untuk Keberlanjutan dan Kesejahteraan - Al-Ma'un

Muhammadiyah Perkuat Kelompok Tani Hutan di Bengkulu: 12.500 Bibit untuk Keberlanjutan dan Kesejahteraan

Universitas Muhammadiyah Bengkulu bersama Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah memulai kolaborasi dalam rangka program FOLU Net Sink 2030 untuk memperkuat Kelompok Tani Hutan (KTH) di wilayah Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Bengkulu.

Kerjasama ini menitikberatkan pada pembangunan kelembagaan KTH, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penerapan pengelolaan hutan yang berkelanjutan demi melindungi lingkungan dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.

Pada 1 November, serangkaian kegiatan sosialisasi diadakan dan melibatkan warga, anggota KTH, serta perangkat desa Taba Teret dan Tanjung Heran yang berada di sekitarnya.

Direktur KHDTK UM Bengkulu, Ahmad Aminudin, mengajak warga untuk melihat hutan sebagai sumber kehidupan yang dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab tanpa merusak ekosistem.

"Kita dapat mengambil manfaat dari hutan tanpa mengorbankan kelestariannya. Aktivitas kita harus mendukung pelestarian, karena hutan bukan sekadar untuk dinikmati hari ini, melainkan investasi bagi generasi mendatang," ujar Prof. Amin.

Ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan KHDTK diukur tidak hanya dari kondisi hutan, melainkan juga dari kemampuan masyarakat memperoleh keuntungan ekonomi yang berkelanjutan.

Rencana Penanaman 12.500 Bibit Produktif

Sebagai bagian dari FOLU Net Sink 2030, proyek ini menargetkan penanaman 12.500 bibit pohon produktif pada lahan seluas 80 hektar, meliputi jenis aren, alpukat, durian, petai, serta tanaman produktif lainnya.

Pendanaan didapatkan melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dengan skema kerjasama Norwegia, yang mendukung upaya penurunan emisi dari sektor kehutanan dan perubahan penggunaan lahan.

Penanaman tidak hanya bertujuan memperbaiki tutupan vegetasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi jangka panjang bagi penduduk setempat, melibatkan mereka mulai dari penanaman, perawatan, hingga pemanfaatan hasil panen.

Dengan pendekatan ini, bibit yang ditanam diharapkan menjadi aset ekologis sekaligus sumber penghidupan berkelanjutan bagi generasi berikutnya.

Jihadul Mubarok, perwakilan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, menegaskan bahwa semangat kebersamaan didasari nilai khairunnas anfa’uhum linnas—menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama.

Ia menambahkan, peran Muhammadiyah bukan untuk mengambil alih pengelolaan hutan, melainkan mendukung komunitas lokal agar tetap berdaya guna dan berkelanjutan.

Organisasi dan institusi berfungsi sebagai fasilitator untuk menghasilkan manfaat nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan warga.

Kegiatan tersebut juga menampilkan narasumber yang membahas strategi penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas, serta pengelolaan hutan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar melalui model pengelolaan hutan yang inklusif.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id