Kepulan putih yang muncul setiap pagi di Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, sebenarnya berasal dari proses tradisional mengasapi ikan, bukan dari pembakaran sampah.
Generasi Muda Menentang Kebiasaan Lama
Desa itu terkenal dengan ikan asapnya, sehingga asap menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian warga. Bayu, putra seorang pengasap ikan, merasa terganggu karena asap masuk lewat celah jendela rumahnya dan mengganggu kenyamanannya.
Setiap pagi ia membantu ayahnya mengasapi ikan, namun rasa tidak nyaman tetap menggelayut. Bayu, yang sedang menempuh kuliah di kota besar, mulai mempertanyakan mengapa metode tradisional masih dipertahankan di era modern yang menawarkan alternatif lebih praktis.
Pertentangan Pandangan Antara Ayah dan Anak
Suatu pagi Bayu menegur ayahnya, menyarankan penggunaan bahan kimia agar proses menjadi lebih cepat dan bersih. “Kita bisa mengganti asap dengan bahan kimia, hasilnya bahkan lebih menarik,” ujarnya dengan nada frustasi.
Ayahnya menanggapi dengan menekankan nilai kejujuran dan keaslian rasa. Ia menjelaskan bahwa asap dari batok kelapa memberikan cita rasa gurih hingga ke tulang, sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh bahan kimia apa pun.
Ujian Besar: Pesanan 300 Ikan Bandeng
Beberapa hari kemudian ayah Bayu jatuh sakit karena kelelahan, sementara sebuah pesanan besar sebanyak 300 ekor ikan bandeng asap datang dari Dinas Pariwisata untuk festival budaya. Karena ayahnya tidak dapat bekerja, Bayu mengambil alih produksi.
alih mengikuti cara tradisional, Bayu memutuskan merendam ikan dalam larutan kimia berwarna kuning keemasan yang dibelinya di toko bahan kimia. Ikan-ikan itu tampak lebih premium secara visual, namun prosesnya menghilangkan asap yang biasanya menandai kualitas ikan Penatarsewu.
Festival Budaya dan Pengungkapan Kegagalan
Pada hari acara, Bayu mengantarkan ikan ke panggung dengan rasa bangga. Namun ketika koki profesional mencoba mencicipi, ia segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa asap, ikan terasa mentah dan mengandung rasa kimia yang tidak aman.
Koki tersebut menyatakan kepada hadirin, “Ini bukan ikan asap asli Penatarsewu. Penampilannya memang menarik, namun dagingnya mentah dan rasanya aneh karena bahan kimia.” Suasana yang semula riuh mendadak hening.
Ayah Kembali Menyelamatkan
Tak lama kemudian, ayah Bayu yang sedang dalam proses pemulihan tiba bersama kerabatnya, membawa sejumlah ikan bandeng asap yang baru diproduksi lewat tungku tradisional pada subuh hari itu. Ia meminta maaf atas kesalahpahaman dan mengganti ikan yang salah.
Koki kembali mencicipi ikan tradisional, kali ini mengeluarkan rasa gurih khas batok kelapa yang menguar hingga ke tulang. Ia berkomentar, “Inilah ikan asap Penatarsewu yang sesungguhnya, kaya akan aroma dan rasa autentik.” Penonton pun kembali bersorak.
Pelajaran yang Didapat
Setelah acara selesai, Bayu mengungkapkan penyesalan mendalam kepada ayahnya. Ayahnya menegaskan bahwa kejujuran dan kualitas tidak dapat dibeli dengan bahan kimia instan, melainkan hanya dapat dipertahankan lewat kerja keras dan warisan tradisional.
Pengalaman itu mengajarkan Bayu bahwa mempertahankan tradisi bukan berarti tertinggal zaman, melainkan melestarikan identitas budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang.