Tim relawan Aisyiyah dari Kabupaten Sikka menembus lautan untuk menyalurkan bantuan kepada warga Pulau Palue, wilayah yang paling parah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur pada Agustus 2026.
Perjalanan Panjang Melintasi Laut Flores
Rombongan berangkat dari Pelabuhan Kewapante, Maumere, dan menempuh enam jam perjalanan feri sebelum tiba di Pelabuhan Pulau Palue. Karena kondisi geografis pulau yang berbukit dan berada dalam zona vulkanik Gunung Rokatenda yang masih aktif, bantuan selanjutnya harus dipindahkan ke perahu kecil dan dibawa berjalan kaki menuruni medan terjal selama 30–45 menit.
Distribusi Bantuan ke Empat Desa
Setelah menembus jalur darat, para relawan menyerahkan paket bantuan ke desa‑desa Kesokoja (Dusun Awa Male), Natakuni (Dusun Cua), Nitunglea (Dusun Nitung), dan Tuanggeo (Dusun Okacere). Bantuan tidak hanya berupa kebutuhan pokok seperti tenda, tikar, selimut, dan sembako, melainkan juga perlengkapan khusus untuk perempuan, anak, dan balita, termasuk pembalut, minyak kayu putih, minyak telon, serta air siap minum.
Kebutuhan Mendesak dan Harapan untuk Hunian Sementara
Menurut ketua PDA Kabupaten Sikka, Fitriah, hampir 90 % rumah di Pulau Palue mengalami kerusakan berat, sehingga warga sangat bergantung pada bantuan yang bersifat hak penyintas. Ia menekankan pentingnya dukungan pemerintah dan lembaga lain untuk menyediakan tempat tinggal sementara menjelang musim hujan yang akan datang.
Walaupun mayoritas penduduk Pulau Palue bukan beragama Islam, mereka menyambut baik kehadiran Aisyiyah dan Muhammadiyah, mengapresiasi kepedulian lintas agama yang langsung menjawab kebutuhan mereka.
Keberhasilan distribusi bantuan ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara organisasi kemanusiaan dan komunitas lokal dapat mengatasi tantangan logistik di daerah terpencil, sekaligus menegaskan pentingnya respons cepat dalam menghadapi bencana alam.