Al-Ma'un
Mencari Raja yang Hilang dalam Perang Gowa - TAGAR.CO

Mencari Raja yang Hilang dalam Perang Gowa - TAGAR.CO

Cover novel sejarah Perang Gowa 1905-1906 oleh A. makmur Makka

Ini kisah raja yang hilang di balik Perang Gowa. Novel A. Makmur Makka ini sebenarnya bukan tentang seluruh Perang Gowa, melainkan secuil sejarah tentang seorang raja yang lenyap di tengah perang.

Catatan Ahmadie Thaha

Tagar.co – Setiap rumah punya cerita. Rumah Andi Makmur Makka, di pinggir pantai Makassar, Sulawesi Selatan, misalnya. Rumah itu bertingkat, terbuat dari kayu keras, antik, penuh kenangan lama, dan terasa seperti sebuah arsip yang memilih tinggal di rumah pribadi.

Ketika saya berkunjung ke sana, Daeng Makka bukan hanya menerima tamu. Dari rumahnya ia mengajak saya berkeliling kota. Satu makam ditunjukkannya, “Ini makam si raja.” Lalu makam lain. “Ini pula.” Kota Makassar seolah menyimpan sejarah di bawah tanahnya.

Yang menarik, puluhan makam raja itu tidak semuanya hadir dengan papan nama dan keterangan seperti museum modern. Sebagian nyaris menjadi anonim. Justru mereka yang terlibat dalam perang melawan kolonialisme lebih mudah dikenali dalam ingatan.

Ada ironi kecil di sana. Sebuah bangsa besar bisa mempunyai begitu banyak makam, tetapi belum tentu mempunyai cukup banyak cerita tentang orang yang dimakamkan di dalamnya. Setiap nisan menandai sebuah kematian, tetapi sejarah mereka masih menjadi narasi yang tertunda.

Barangkali karena itu saya membaca Perang Gowa 1905–1906 karya A. Makmur Makka dengan rasa ingin tahu yang agak berbeda. Buku ini terbit pada 2026, setebal 175 halaman, dicetak oleh penerbit indie Satria Publisher. Peluncurannya dilaksanakan secara sederhana di Jakarta.

Dari keterangan penulisnya sendiri, novel sejarah itu berkisah tentang “gaibnya” Raja Gowa, I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang. Raja bergelar Sultan Husain Tuminanga ri Bundu’na ini dituturkan hilang di tengah perang melawan Hindia Belanda.

Di sinilah saya merasa judul Perang Gowa agak terlalu besar untuk dikisahkan hanya dalam sekian halaman. Perang Gowa tentu bukan peristiwa kecil. Ia mencakup gerakan militer, politik kerajaan, perlawanan rakyat, strategi kolonial, intrik pejabat, pengkhianatan, dan pergulatan kekuasaan.

Namun, Makmur Makka tidak sedang menyusun ensiklopedia perang. Ia mengambil secuil peristiwa itu, lalu memperbesarnya menjadi dunia cerita: seorang raja yang lenyap, orang-orang yang mencarinya, perang yang terus berkobar, serta kisah cinta yang bergerak di sela-sela dentuman senjata.

Justru “secuil” itulah yang membuatnya berpotensi menjadi karya yang kuat. Sejarah sering terlalu luas untuk ditelan sekaligus. Novel tidak perlu menjadi buku pelajaran yang diberi dialog. Ia cukup mengambil satu pintu kecil sebagai fokus, lalu membiarkan pembaca masuk ke rumah sejarah.

Makmur Makka dan Jejak Panjang Sejarah

Makmur Makka sendiri bukan orang baru dalam urusan menghidupkan masa lalu. Lahir di Parepare pada 13 Februari 1945, ia belajar Hubungan Internasional di UGM. Kemudian, seperti banyak tokoh asal Makassar, ia melanjutkan studi di luar negeri. Ia memilih Ohio University, Amerika Serikat.

Sejak muda di Yogya, ia aktif dalam pers mahasiswa. Ia pernah memimpin pers mahasiswa di Yogyakarta, bekerja di Harian KAMI, dan kemudian menjadi pemimpin redaksi Republika pada 1997–2000. Sebelumnya ia juga menjadi staf ahli Menristek/Kepala BPPT.

Ia bahkan memiliki hubungan yang panjang dengan dunia arsip. Kedekatannya dengan B. J. Habibie di kantor Ristek/BPPT membuat banyak arsip presiden ketiga RI itu berhasil dikumpulkannya, kemudian diserahkan ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

ANRI mencatat inventaris arsip Makmur Makka yang tersimpan mencapai 399 nomor, terdiri atas 384 arsip tekstual dan 15 lembar arsip foto. Sebagian bahan arsip itu sudah diolahnya menjadi sejumlah buku monumental. Namun, masih banyak lagi yang belum sempat digarapnya, termasuk puluhan rekaman video Habibie.

Ia tercatat menulis banyak buku biografi Habibie. Karena itu, pada 2018 ia memperoleh penghargaan MURI sebagai penulis buku biografi Habibie terbanyak, dengan 95 judul. Dalam dunia kepenulisan, namanya memang lebih sering dikenal lewat karya-karya tentang B. J. Habibie.

Namun, di sisi sastra, ia juga memiliki deretan karya. Bentuknya puisi, cerpen, prosa liris, dan novel sejarah. Di antaranya Ungu, Manifes, Tanah Air, Buah Cherry Ladang Gandum, Ibu, Sajak-Sajak Malioboro, Secawan Matahari, dan novel sejarah lainnya, Rumpa’na Bone.

Novel Rumpa’na Bone berkisah tentang runtuhnya Kerajaan Bone. Terbit pada 2015, novel ini mengambil latar serangan Belanda terhadap Kerajaan Bone pada 1904–1905. Karya imajinatif ini memuat fakta sejarah runtuhnya Kerajaan Bone, budaya siri’, upacara kerajaan, dan tradisi ritual bissu.

Maka, Perang Gowa bisa kita baca sebagai kelanjutan minat Makmur Makka pada sejarah kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan. Kalau Rumpa’na Bone membawa pembaca ke keruntuhan Bone, novel terbaru ini membawa kita ke salah satu episode paling getir dari Gowa.

Ketika Fakta Bertemu Imajinasi

Saat itu, pemerintah kolonial Belanda mengerahkan seluruh kekuatan untuk menutup babak kedaulatan kerajaan dengan senjata. Sejarahnya memang menarik karena yang mereka hadapi adalah pasukan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang yang tak pernah benar-benar takluk.

Raja yang memerintah Gowa pada 1895–1906 itu melakukan perlawanan terhadap Hindia Belanda pada 1905. Dalam sejumlah sumber sejarah disebutkan bahwa ia akhirnya meninggal di Bundukma, dekat Enrekang, pada 25 Desember 1906. Namun, dalam novel, ia disebut hanya gaib.

Karena itu, kata “gaib” dalam novel perlu ditempatkan pada wilayah sastra, bukan buru-buru diperlakukan sebagai kesimpulan sejarah. Di sinilah novel sejarah menjadi menarik sekaligus berbahaya. Ia boleh mengisi ruang yang tak tercatat, tetapi pembaca perlu tahu mana fakta, tafsir, dan imajinasi.

Ahmadun Yosi Herfanda, jurnalis, penyair, esais, dan salah seorang narasumber dalam diskusi buku tersebut di Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Jakarta, mengingatkan hal itu. Menurut Ahmadun, novel sejarah memang memadukan fakta sejarah dengan tokoh dan alur rekaan pengarang.

Bersama Anhar Gonggong, pembicara lainnya, ia menegaskan bahwa novel sejarah bukan karya ilmiah sejarah. Subjektivitas dan imajinasi tetap mempunyai tempat di dalamnya. Namun, fakta sejarah yang menjadi kerangkanya tetap menuntut tanggung jawab.

Ahmadun bahkan melihat kekuatan sekaligus kelemahan struktural novel ini. Kisah dua joki kuda, Patta Emba dan Bunga Rossi, menjadi semacam “penjaga” alur. Mereka bertemu di arena pacuan kuda, jatuh cinta, lalu hubungan mereka bersinggungan dengan konflik politik dan perang.

Namun, ketika Makmur Makka mengalihkan cerita ke Benteng Rotterdam dan tokoh-tokoh Belanda seperti J. B. van Heutsz, alur novel terasa tiba-tiba terputus. Ahmadun mengusulkan agar kedua jalur itu dibuat sebagai alur ganda yang saling berkelindan.

Saya kira kritik sastra itu penting. Sebab, novel sejarah tidak cukup hanya memiliki bahan sejarah yang menarik. Ia juga harus mempunyai mesin cerita yang bekerja. Pembaca tak boleh merasa sedang berpindah dari satu artikel sejarah ke artikel sejarah berikutnya hanya karena subjudul berganti.

Arsip Kolonial dan Ingatan Rakyat

Sebagai kritikus sastra, Ahmadun juga menyoroti banyaknya subjudul yang pendek-pendek. Secara naratif, perang menjadi seperti dipotong menjadi kepingan-kepingan kecil. Secara grafis, menurutnya, pergantian subjudul itu juga kurang nyaman bagi pembaca muda.

Namun, saya mencatat sesuatu yang lebih penting daripada soal teknis itu. Pilihan Makmur Makka untuk mempertemukan arsip kolonial dengan ingatan rakyat dalam format novel romantis menjadi pintu masuk untuk mengenalkan sejarah, kebudayaan, sekaligus memberi pelajaran yang mudah dipahami khalayak awam.

Dalam pengantarnya, ia menyebut arsip Belanda merupakan sumber yang kaya detail—nama tempat, tanggal, pertempuran, jumlah korban. Namun, baginya, catatan para sejarawan Belanda cenderung membawa perspektif pihak yang menang.

Sebaliknya, tradisi lisan masyarakat lokal menyimpan cerita tentang kesetiaan, kehormatan, cinta, harga diri, dan raja yang hilang. Maka, Makmur Makka memilih jalan penulisan dengan “menafsir, bukan menyalin”. Fakta dari pihak Belanda boleh benar, tetapi tafsir atasnya ada pada kita.

Itu pilihan yang masuk akal untuk sebuah novel sejarah. Arsip kolonial ibarat kamera yang dipasang pihak yang sedang memenangkan perang. Ia bisa sangat tajam, bahkan sampai mencatat berapa butir peluru yang ditembakkan. Namun, kamera tidak selalu merekam apa yang dirasakan orang yang ditembak.

Di sini ada konteks sejarah yang menarik. Tahun 1905–1906 memang berdekatan dengan ujung peperangan yang melelahkan di wilayah Aceh, jauh dari Pulau Sulawesi. Perang Aceh secara umum berlangsung tiga dekade, antara 1873–1904, meski perlawanan terhadap Belanda belum serta-merta padam setelah 1904.

Jadi, Perang Gowa bukan “bersamaan” dalam arti satu periode perang yang sama persis, tetapi terjadi segera sesudah Belanda menyatakan Perang Aceh selesai. Sementara itu, di tanah Jawa, tepatnya di Batavia, pada 17 Juni 1905, pemerintah Hindia Belanda memberikan pengakuan resmi kepada ormas Jamiat Kheir.

Perkumpulan itu kemudian berkembang sebagai ormas Islam pertama yang resmi. Jadi, ketika di satu ujung Hindia Belanda orang sedang mendirikan sekolah dan membangun jaringan pendidikan, di ujung lain Kerajaan Gowa sedang berhadapan dengan ekspedisi militer kolonial.

Sejarah rupanya tidak pernah berjalan dalam satu lorong. Pada kalender yang sama, ada perang, sekolah, perdagangan, surat kabar, dakwah, dan percintaan. Maka, ketika kita melihat peta Nusantara dalam perspektif yang lebih luas, tahun 1905 bukan sekadar angka di sampul sebuah novel.

Nama Islam dan Silsilah Raja Gowa

Saya juga ingin meluruskan satu hal yang mudah menimbulkan salah paham. Kurang tepat jika raja-raja Gowa secara umum disebut keturunan Arab hanya karena mereka menggunakan gelar “Sultan” atau memiliki nama seperti Husain, Abdul Kadir, Abdul Jalil, dan sebagainya.

Silsilah Kerajaan Gowa mempunyai akar lokal yang panjang. Penelitian tentang islamisasi Makassar memang menunjukkan adanya peran penting keturunan Arab, termasuk hubungan perkawinan dengan keluarga kerajaan.

Salah satu penelitian menyebutkan bahwa Sayyid Ba’alawy menikah dengan putri Raja Gowa Sultan Abdul Jalil. Itu menunjukkan adanya persilangan genealogis, bukan berarti seluruh dinasti Gowa berasal dari Arab.

Bahkan, nama “Husain” pada gelar Sultan Husain sebaiknya tidak dijadikan bukti otomatis tentang asal-usul Arab. Nama dan gelar Islam adalah satu hal; garis keturunan adalah hal lain. Sejarah tidak boleh dibuat sesederhana buku daftar nama.

Yang paling menarik dari Perang Gowa, bagi saya, justru bukan apakah pembaca akan menghafal siapa van Heutsz, van Dallen, Idenburg, atau siapa yang memegang benteng tertentu.

Yang penting adalah apakah pembaca menjadi ingin bertanya: siapa raja itu, mengapa ia melawan, ke mana ia pergi, mengapa kisahnya menjadi kabur, dan mengapa sebuah bangsa masih mengingat seseorang yang tubuhnya sudah lama menjadi tanah?

pertanyaan itu jauh lebih berharga daripada hafalan tanggal. Karena itu, saya tertarik pada usul yang muncul dalam diskusi di Dompet Dhuafa: 31 potongan cerita dalam novel ini jangan berhenti sebagai 31 potongan di dalam buku. Jadikan 31 film pendek. Sebarkan melalui media sosial.

Ini bukan berarti buku harus menyerah kepada video. Justru sebaliknya: video bisa menjadi pintu masuk menuju buku. Anak muda yang tak mau membuka 175 halaman mungkin bersedia menonton tujuh menit tentang seorang raja yang menghilang. Setelah itu, rasa ingin tahu akan membawanya mencari bukunya.

Kita terlalu sering mengeluhkan generasi muda yang malas membaca, seolah-olah mereka harus dipaksa masuk ke perpustakaan untuk mencintai sejarah. Padahal, persoalannya mungkin bukan semata-mata kemalasan. Cara sejarah disajikan juga menentukan.

Membawa Sejarah ke Generasi Layar

Perang Gowa memuat banyak bahan. Ada perang, raja, pengkhianatan, cinta, perjalanan, pengejaran, benteng, perempuan yang menunggu, prajurit yang setia, dan seorang penguasa yang menghilang di tengah kekacauan. Secara sinematik, itu bahan yang kaya dan berlimpah.

Maka, kelemahan judulnya sekaligus bisa menjadi peluang. “Perang Gowa” terdengar seperti buku sejarah yang hendak menjelaskan seluruh perang. Padahal, kekuatan novel ini terletak pada satu pertanyaan yang jauh lebih sederhana: ke mana perginya sang raja?

Sejarah kadang bekerja seperti makam tua. Dari luar kita hanya melihat batu. Namun, kalau kita mau membuka ceritanya, di dalamnya ada manusia: keberanian, ketakutan, cinta, pengkhianatan, dan harapan.

Makmur Makka telah membuka salah satu makam itu. Ahmadun Herfanda dan Anhar Gonggong mengingatkan agar batu nisannya jangan sampai lebih besar daripada kisah manusia yang dikuburkannya.

Mungkin itulah cara terbaik membaca Perang Gowa. Kita membacanya bukan sebagai kitab lengkap tentang sebuah perang, melainkan sebagai sebuah pintu kecil menuju sejarah yang jauh lebih luas.

Mungkin pula, jika 31 pintu kecil itu kelak berubah menjadi 31 film pendek, generasi yang enggan membaca buku akhirnya akan masuk melalui layar.

Setelah itu, barangkali mereka menemukan sesuatu yang selama ini kita kira sudah hilang: bukan hanya seorang raja, tetapi ingatan tentang siapa kita.

Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 12/9/2026

Teaser

  1. Ini kisah raja yang hilang di balik Perang Gowa. Novel A. Makmur Makka ini sebenarnya bukan tentang seluruh Perang Gowa, melainkan secuil sejarah tentang seorang raja yang lenyap di tengah perang.
  2. 31 Cerita, 31 Film Pendek — Sejarah tidak harus selalu masuk lewat buku. Potongan kisah Perang Gowa bisa menjadi serial film pendek untuk membawa generasi layar kepada sejarah.
  3. Ketika Makam Lebih Banyak daripada Cerita — Di Makassar, makam raja-raja masih ada. Yang sering hilang justru cerita tentang manusia yang pernah hidup di balik batu nisannya.

SEO

Perang Gowa 1905–1906, A. Makmur Makka, Sultan Husain Gowa, I Makkulau, novel sejarah, Rumpa’na Bone, Ahmadun Yosi Herfanda, Kerajaan Gowa, sejarah Makassar, Jamiat Kheir, Perang Aceh.

45

Foto Tagar


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Foskam Jatim Gelar Pelatihan Asesmen TKA untuk Guru SD di Surabaya

Foskam Jatim Gelar Pelatihan Asesmen TKA untuk Guru SD di Surabaya

Foskam Jawa Timur menyelenggarakan pelatihan khusus bagi guru SD/Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah pada Jumat, 11 September 2026, bertempat di SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) di Jalan Pucang Anom No.93, Surabaya.

Peserta dan Latar Belakang

Acara ini dihadiri oleh 68 pendidik yang mewakili 30 sekolah Muhammadiyah di seluruh Jawa Timur. Di antaranya, dua guru dari SD Alam Muhammadiyah 2 Kedanyang, Gresik—Janita Firda Naini, S.Pd. (Bahasa Indonesia‑Literasi) dan Mahfudz Efendi, S.Pd., Gr., M.M. (Matematika‑Numerasi)—bersama dua rekan dari SD Muhammadiyah 1 Giri, Kebomas, turut berangkat ke Mudipat.

Tujuan Pelatihan

Ketua Foskam Jawa Timur, Edy Susanto, M.Pd., menyatakan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan guru dalam merancang soal literasi dan numerasi serta mempersiapkan sekolah menyongsong TKA tahun ajaran berikutnya. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada 30 kepala sekolah yang telah mengirim delegasi.

Edy menekankan pentingnya peningkatan nilai TKA dibandingkan tahun sebelumnya, sebagai upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap mutu pendidikan di masing‑masing sekolah.

Materi dan Narasumber

Dua pakar nasional turut memberikan materi: Ria Pusvita Sari, M.Pd., yang membahas teknik pembuatan soal numerasi, dan Kanzue S. Rachelinda, S.Pd., yang fokus pada pengembangan soal literasi.

Praktik Penyusunan Soal

Setelah istirahat sholat Jumat dan Zuhur, peserta kembali ke Gedung ADEC (Ahmad Dahlan Education Center) untuk mempraktikkan pembuatan asesmen sesuai bidang masing‑masing. Kelompok numerasi dipandu oleh Ria (dipanggil Vita) di kelas 6B lantai empat, sementara kelompok literasi dipimpin Kanzue di kelas 6A lantai yang sama.

Ria menekankan bahwa persiapan TKA sebaiknya dimulai sejak kelas satu, bukan menunggu kelas enam. Ia menyarankan penggunaan soal sumatif akhir bab dengan tiga tipe pilihan ganda: pilihan tunggal empat opsi, MCMA (Multiple Choice Multiple Answers) dengan tiga pernyataan dan dua jawaban benar, serta tipe kategori dengan pernyataan benar‑salah atau cocok‑tidak cocok.

Selain tipe soal, ia menambahkan tiga level kognitif yang perlu diperhatikan—pemahaman, aplikasi, dan penerapan—serta tiga konteks soal: kehidupan pribadi, sosial‑budaya, dan ilmiah, contohnya soal suhu, dosis obat, atau bentuk bangunan.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
SMP Muhammadiyah 4 Porong Bentuk Formatur Ikwam untuk Perkuat Sinergi Sekolah‑Orang Tua

SMP Muhammadiyah 4 Porong Bentuk Formatur Ikwam untuk Perkuat Sinergi Sekolah‑Orang Tua

SMP Muhammadiyah 4 Porong, Sidoarjo, menggelar pertemuan pada Sabtu, 12 September 2026, guna membentuk formatur Ikatan Wali Murid (Ikwam) di Ndalem Prabu, Porong. Acara yang berlangsung antara pukul 10.00 hingga 12.00 WIB mempertemukan perwakilan sekolah dan para orang tua murid dengan tujuan mempererat komunikasi serta kolaborasi dalam proses belajar mengajar.

Visi Formatur Ikwam

Ketua Ikwam, Elok Puspitasari, S.Sos, menekankan bahwa keberadaan organisasi wali murid tidak sekadar mengisi jabatan, melainkan menjadi wadah aksi bersama sekolah. “Anak‑anak adalah amanah kami; oleh karena itu sekolah dan orang tua harus saling menguatkan, mendukung, dan menemani perjalanan pendidikan mereka,” ujar Puspitasari.

Ia menambahkan bahwa partisipasi orang tua diperlukan agar dukungan di rumah selaras dengan program belajar di kelas, sehingga perkembangan akademik dan karakter siswa dapat terjaga.

Peran Humas Sekolah dalam Mendorong Kolaborasi

Zainul Fanani, S.Pd, selaku humas SMP Muhammadiyah 4 Porong, menilai sinergi antara guru, orang tua, dan elemen sekolah lainnya merupakan fondasi penting bagi terciptanya lingkungan pendidikan yang holistik. “Jika semua pihak berbagi visi yang sama, maka tidak hanya kecerdasan akademik yang terbangun, melainkan pula karakter dan masa depan generasi muda,” kata Fanani.

Melalui formatur Ikwam yang baru terbentuk, sekolah berharap dapat menyalurkan komunikasi secara lebih terstruktur, mencakup pendampingan akademik, pembinaan karakter, serta kegiatan ekstrakurikuler yang melibatkan keluarga.

Pertemuan ini menjadi langkah awal bagi formatur Ikwam untuk menyusun program kerja selanjutnya, sekaligus memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga murid.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Mengenal Tiga Pola Hubungan Lazismu dengan Muhammadiyah dalam Upaya Fundraising

Mengenal Tiga Pola Hubungan Lazismu dengan Muhammadiyah dalam Upaya Fundraising

Lazismu memiliki kemampuan mengelola dana yang canggih, namun keberhasilan penggalangan dana sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan dengan organisasi induk, yaitu Muhammadiyah. Hubungan yang bersahabat, tegang, atau terpinggirkan masing‑masing menimbulkan dampak berbeda terhadap efektivitas program filantropi.

Model 1: Sinergi “Klop”

Dalam skenario ideal, Lazismu dan Muhammadiyah beroperasi selaras. Pimpinan kedua belah pihak saling memahami peran, sehingga visi organisasi dapat diterjemahkan menjadi aksi penggalangan dana yang terkoordinasi. Sinergi ini memanfaatkan jaringan masjid, lembaga pendidikan, dan kader Muhammadiyah untuk mengoptimalkan zakat, infaq, sedekah, wakaf, serta dana sosial lainnya.

Model 2: Hubungan “Cold”

Pola ini menggambarkan kedekatan yang renggang. Meskipun tidak terjadi konflik terbuka, masing‑masing entitas menjalankan agenda sendiri tanpa integrasi yang kuat. Akibatnya, potensi dana yang dapat digabungkan tidak termanfaatkan secara maksimal, meski belum menimbulkan hambatan serius.

Model 3: “Exclusion” atau Terpinggirkan

Pada model paling menantang, Lazismu tidak dianggap sebagai bagian integral ekosistem Muhammadiyah. Aktivitasnya bahkan dapat dipersepsikan mengganggu program yang sudah berjalan, sehingga menimbulkan kesulitan dalam koordinasi, komunikasi, dan legitimasi kelembagaan.

Dari “Cold” ke “Klop”: Jalan Konsolidasi

Ketiga pola tersebut bukanlah status permanen. Dengan pendekatan kelembagaan, dialog terbuka, serta demonstrasi hasil kerja yang konkret, hubungan yang semula dingin dapat beralih menjadi sinergi. Jika terjadi eksklusi, upaya diplomasi internal dan penegasan peran Lazismu sebagai instrumen filantropi Muhammadiyah menjadi kunci perubahan.

Inti keberhasilan fundraising Lazismu terletak pada kekuatan ekosistem: hubungan yang solid antara jam’iyah dan jemaah akan memperbesar peluang organisasi menjadi penggerak utama dalam pemberdayaan masyarakat.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Mahasiswa UM Surabaya Galang Rp650 Ribu untuk Korban Bencana di NTT

Mahasiswa UM Surabaya Galang Rp650 Ribu untuk Korban Bencana di NTT

Mahasiswa Komisi Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Achilles dari Universitas Muhammadiyah Surabaya berhasil mengumpulkan dana untuk membantu warga yang terdampak bencana alam di Nusa Tenggara Timur.

Penggalangan Dana Secara Online

Program penggalangan berlangsung selama sembilan hari, mulai 1 hingga 9 September 2026. Donasi diterima melalui platform Instagram, WhatsApp, serta jaringan internal organisasi, dengan partisipasi Badan Pimpinan Harian PK IMM Achilles dan masyarakat umum.

Jumlah total yang terkumpul mencapai Rp650.000.

Penyaluran Bantuan Melalui Lazismu Umsura

Seluruh dana diserahkan kepada Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Umsura, yang kemudian menyalurkan bantuan kepada korban di NTT.

Mahasiswa Tekankan Nilai Kepedulian Sosial

Yuliana Imroatus Sholikhah, ketua Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat PK IMM Achilles, menekankan bahwa meski jumlah bantuan terbilang kecil dibandingkan kebutuhan, semangat gotong‑royong dan niat ikhlas menjadi nilai utama.

“Donasi bukan sekadar angka, melainkan wujud keikhlasan untuk berbagi dan kehadiran kami di tengah masyarakat yang membutuhkan,” ujar Yuliana.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial di kalangan mahasiswa, agar aksi kepedulian tidak berhenti pada satu kali donasi saja.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Tanwir Palu 2026: Rencana Strategis Muhammadiyah 25 Tahun ke Depan Dibahas

Tanwir Palu 2026: Rencana Strategis Muhammadiyah 25 Tahun ke Depan Dibahas

Tanwir terakhir untuk periode 2022‑2027 akan dilangsungkan pada November 2026 di Universitas Muhammadiyah Palu, Sulawesi Tengah. Kegiatan ini menjadi forum tertinggi kedua setelah Muktamar dalam struktur AD/ART Muhammadiyah.

Sementara itu, persiapan Muktamar ke‑49 yang dijadwalkan pada 2027 tengah digencarkan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Tanwir Palu akan menandai akhir siklus 2022‑2027 sekaligus menjadi momentum untuk merumuskan program jangka panjang organisasi.

Dalam sambutan peluncuran logo Tanwir serta peringatan Milad ke‑114 Muhammadiyah pada 12 September di kantor PP Yogyakarta, Haedar menekankan, “Di Tanwir nanti, kami akan menyusun visi program Muhammadiyah untuk 25 tahun ke depan.” Ia menambahkan bahwa sejak tahun 2000 Muhammadiyah telah menyusun rencana lima tahunan, dan kini paket strategi tersebut telah selesai, sehingga diperlukan pembaruan yang mencakup kuartal berikutnya.

Organisasi yang telah menginjak 114 tahun menekankan pentingnya kesinambungan kebijakan, tidak seperti program pemerintah yang kadang terputus‑putus. Haedar mengingatkan bahwa agenda organisasi harus berjalan berkesinambungan agar tidak meninggalkan celah penyelesaian.

Bersama Satukan Bangsa: Refleksi Kebangsaan

Milad ke‑114 mengusung tema “Bersama Satukan Bangsa”, menegaskan potensi persatuan dalam keragaman Indonesia yang berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, realitas politik dan ekonomi yang dinamis menimbulkan perbedaan pandangan yang tajam. Haedar menilai kedua sektor tersebut sebagai sendi strategis yang memerlukan dialog konstruktif untuk menemukan titik temu dan moderasi.

Ia menambahkan, “Tanwir ini kami jadikan sarana menegaskan bahwa modal sosial bangsa harus terus digerakkan, bukan dibiarkan statis, agar mampu menghadapi tantangan perbedaan.”

Pemimpin organisasi menekankan bahwa pengelolaan keragaman memerlukan visi kepemimpinan yang merata, tidak hanya di tingkat pusat tetapi hingga ke akar rumput. Tanggung jawab tersebut bukan eksklusif pemerintah, melainkan juga lembaga kemasyarakatan.

Bagi Muhammadiyah, persatuan harus bertransformasi menjadi kemajuan nyata, membangun peradaban yang lebih maju. Oleh karena itu, upaya menyatukan bangsa bukan sekadar agenda rakyat, melainkan harus diusung oleh kalangan elit yang memelihara semangat kebersamaan demi tujuan bersama.

Dengan agenda ini, Tanwir Palu diharapkan menjadi tonggak penting dalam menentukan arah gerak Muhammadiyah selama satu setengah generasi ke depan.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
25 Tahun 9/11: Mengukur Harga Perang dan Batas Kewenangan Keamanan

25 Tahun 9/11: Mengukur Harga Perang dan Batas Kewenangan Keamanan

Pagi 11 September 2001 di New York dimulai seperti hari-hari biasa—orang‑orang berangkat kerja, melanjutkan rutinitas, atau mengantar anak ke sekolah. Namun pada pukul 08.46, pesawat American Airlines 11 menabrak Menara Utara World Trade Center, diikuti oleh United Airlines 175 yang menghantam Menara Selatan pada pukul 09.03. Dua penerbangan lainnya menabrak Pentagon dan jatuh di Pennsylvania setelah penumpang berusaha melawan pembajak. Dalam hitungan jam, dunia berubah selamanya.

Dari Memburu Al‑Qaeda hingga Konflik Global

Serangan yang menewaskan 2.977 jiwa—dari 90 negara, termasuk 2.753 di New York, 184 di Pentagon, dan 40 penumpang Flight 93—memaksa Amerika Serikat mengejar jaringan al‑Qaeda yang bernaung di Afghanistan. Operasi militer dimulai pada Oktober 2001, melahirkan apa yang disebut Global War on Terror. Setelah hampir dua dekade, pasukan AS mundur dari Afghanistan pada Agustus 2021. Dua tahun kemudian, pada Maret 2003, Amerika Serikat dan sekutunya melancarkan invasi ke Irak dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal (WMD) dan kaitan dengan terorisme. Penyelidikan selanjutnya tidak menemukan bukti WMD atau kolaborasi operasional antara Irak dan al‑Qaeda, menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana sebuah negara dapat mengandalkan ancaman yang belum terbukti untuk membenarkan perang.

Biaya Manusia dan Ekonomi yang Jarang Dinyatakan

Penelitian Costs of War Project dari Brown University memperkirakan lebih dari 940.000 orang tewas secara langsung dalam konflik di Irak, Afghanistan, Pakistan, Suriah, dan Yaman antara 2001‑2023, dengan lebih dari 432.000 di antaranya merupakan warga sipil. Selain itu, 3,6‑3,8 juta kematian tidak langsung—akibat kerusakan layanan kesehatan, kelaparan, sanitasi buruk, dan kehancuran ekonomi—meningkatkan total korban menjadi 4,5‑4,7 juta jiwa. Lebih dari 38 juta orang menjadi pengungsi internal atau lintas batas. Dari sisi finansial, Amerika Serikat mengalokasikan hampir US$8 triliun untuk perang‑perang pasca‑9/11, termasuk US$5,8 triliun untuk operasi militer dan US$2,2 triliun untuk kewajiban jangka panjang terhadap veteran.

Ketakutan yang Mengubah Kebijakan Dalam Negeri

Kurang dari dua bulan setelah serangan, Presiden George W. Bush menandatangani USA PATRIOT Act yang memperluas wewenang pengawasan pemerintah. Tahun berikutnya, program National Security Entry‑Exit Registration System (NSEERS) mewajibkan warga laki‑laki berusia 16‑tahun ke atas dari 25 negara, termasuk Indonesia, untuk mendaftar, memberikan sidik jari, dan foto. Program tersebut dihentikan pada 2011 dan dihapus pada 2016, namun mengilustrasikan bagaimana rasa takut dapat meluas menjadi kebijakan yang menargetkan kelompok luas yang tidak terlibat.

Perubahan Wajah Ancaman dalam 25 Tahun

Survei Reuters‑Ipsos pada Agustus 2026 menunjukkan 33 % responden menganggap terorisme domestik sebagai ancaman terbesar, dibanding 20 % yang menilai terorisme asing. Kekerasan acak seperti penembakan massal dipandang sebagai ancaman utama oleh 42 % responden. Sebanyak 61 % menilai ekstremis dalam negeri lebih mengkhawatirkan daripada aktor luar negeri (34 %). Mayoritas, 65 %, menolak pengawasan tanpa surat perintah, dan hampir separuh menolak keterlibatan militer AS di Afghanistan serta Irak. Data ini menegaskan bahwa persepsi ancaman telah beralih dari luar negeri ke bahaya yang muncul di dalam negeri.

Menghormati Korban, Menjaga Batas Kekuasaan

Seperempat abad setelah debu menutupi jalanan Manhattan, generasi yang lahir setelah 2001 kini menyaksikan 9/11 sebagai catatan sejarah, bukan pengalaman pribadi. Pelajaran yang harus dipertahankan meliputi: mengutuk terorisme yang menewaskan hampir 3.000 orang, sekaligus meninjau kebijakan respons yang menimbulkan konsekuensi jangka panjang bagi jutaan nyawa dan sumber daya. Negara tetap memiliki tugas melindungi warganya, tetapi kekuasaan yang diambil atas nama keamanan harus selalu berada di bawah pengawasan publik dan mekanisme akuntabilitas yang jelas.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Mahasiswa Umsida Mulai Asistensi Mengajar Empat Bulan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo

Mahasiswa Umsida Mulai Asistensi Mengajar Empat Bulan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo

Program Asistensi Mengajar yang melibatkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo resmi dimulai pada Kamis, 10 September 2026, pukul 09.40 WIB di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo (SD Muhida).

Tujuan dan Mekanisme Program

Mahasiswa diberikan kesempatan untuk merasakan secara langsung dinamika kelas dan proses belajar mengajar selama empat bulan, dengan bimbingan guru pamong serta dosen pembimbing lapangan dari universitas.

Peserta dan Pelaksanaan Awal

Wakil Kepala Sekolah SD Muhida, Mufida Sufianti, S.Pd.SD., M.Pd., membuka sesi perkenalan, mengundang para mahasiswa untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan impresi pertama mereka terhadap lingkungan sekolah. Di antara tujuh mahasiswa yang hadir adalah Rafly Isya Ardiansyah, Fashihur Romza, Nova Monica, Chalimatus Hawa Azzahro, Nurul Maulidiyah, Riza Nabila Azzahra, dan Yuanicha Fatma Apriliyanti.

Observasi Awal Mahasiswa

Perwakilan kelompok, Chalimatus Hawa Azzahro, mengapresiasi penggunaan kartu pintar (smart card) dalam kegiatan belajar di SD Muhida. Ia juga menggambarkan suasana perpustakaan yang sempat ramai karena siswa berebut buku, namun kembali tertib setelah arahan guru.

“Anak‑anak SD Muhida tampak lebih kondusif dibandingkan tempat praktik kami sebelumnya,” ujar Hawa.

Beberapa mahasiswa menyebutkan faktor kedekatan geografis sebagai alasan memilih SD Muhida, sementara Rafly Isya Ardiansyah terinspirasi dari cerita seorang teman yang awalnya direncanakan ikut program.

Empat Bulan Bersama Guru Pamong

Kepala Sekolah, Moch. Saifullah Rochim, S.E., M.Pd., menekankan pentingnya sikap terbuka mahasiswa selama proses asistensi. Ia mengajak peserta untuk melaporkan temuan, baik kekurangan maupun kelebihan, sehingga sekolah dapat memperbaiki mutu pendidikan.

Guru pamong yang ditugaskan meliputi:

  • Henny Ratmawati – kelas 1
  • Nurul Huda dan Lies Amalia Rosyidah – kelas 2
  • Nasyiatul Mufarohah – kelas 3
  • Ita Sofihana dan Mukmin Mukhlis – kelas 4
  • Abdullah Makhrus – kelas 5

Selama dua bulan pertama, mahasiswa akan mengamati proses belajar mengajar bersama guru pamong. Selanjutnya mereka akan turut mengajar serta mengembangkan media pembelajaran digital yang akan dipakai di kelas.

Dosen pembimbing lapangan, Vanda Rezania, M.Pd., memastikan bahwa program ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis, tetapi juga mengakui pencapaian akademik mahasiswa melalui konversi SKS.

Dengan demikian, program Asistensi Mengajar diharapkan memperkaya kompetensi calon guru, menyiapkan mereka menghadapi tantangan dunia pendidikan setelah kelulusan.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Alat Efektif Pantau Keberlanjutan UMKM di Sidoarjo

Alat Efektif Pantau Keberlanjutan UMKM di Sidoarjo

Kotak infak yang ditempatkan di warung atau tempat usaha UMKM binaan Lazismu Sidoarjo kini berfungsi ganda: menjadi sarana monitoring perkembangan usaha sekaligus mendorong mustahik menjadi muzaki.

Tim Lazismu melakukan kunjungan setiap dua bulan, tidak hanya mengumpulkan infak dari kotak, tetapi juga menilai kondisi usaha penerima manfaat. Pendekatan sederhana ini memberi gambaran nyata tentang kelangsungan program pemberdayaan.

Monitoring lewat Kotak Infak

Program pemberdayaan UMKM Lazismu Sidoarjo diluncurkan setelah pandemi Covid-19 melanda ekonomi lokal, menyebabkan banyak usaha kecil tutup. Bersama Lazismu Pusat dan dukungan CSR Bank Mega Syariah, Lazismu Sidoarjo menyalurkan modal, peralatan, serta bantuan khusus untuk warung dan UMKM penyandang disabilitas.

Setelah bantuan diberikan, tim tidak meninggalkan penerima manfaat. Setiap dua bulan, petugas datang mengambil infak dan sekaligus memeriksa operasional usaha, menanyakan perkembangan penjualan, kendala, serta peluang baru.

Dengan cara ini, kotak infak menjadi titik temu antara donasi dan evaluasi, sekaligus menumbuhkan kebiasaan berbagi di kalangan penerima manfaat.

Kasus Bu Jujuk: Konveksi Bertahan Tiga Tahun

Salah satu contoh keberhasilan adalah Bu Zuariyah, yang lebih akrab disapa Bu Jujuk. Seorang single parent berusia 19 tahun, ia mengelola usaha konveksi sejak pandemi. Mengandalkan jaringan dalam organisasi sosial serta media sosial, Bu Jujuk berhasil menarik pesanan busana Muslim, seragam pengajian, dan pakaian acara.

Selama tiga tahun program, usahanya tetap berjalan dan ia mampu menyisihkan rata-rata Rp163.000 per bulan ke dalam kotak infak. Angka ini menjadi indikator perubahan: dari penerima bantuan menjadi penyumbang.

Peran Kotak Infak dalam Evaluasi Program

Data infak dan observasi lapangan memberikan gambaran lengkap tentang keberlanjutan usaha. Tim dapat mengidentifikasi UMKM yang masih membutuhkan dukungan tambahan, sekaligus menyoroti kisah sukses yang menginspirasi.

Hasil monitoring menjadi bahan pertimbangan dalam perbaikan program, memastikan bantuan tidak berhenti pada pemberian modal semata, melainkan berlanjut hingga usaha mencapai kemandirian ekonomi.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Donasi

Kotak infak Lazismu bertransformasi menjadi instrumen penting dalam proses monitoring dan evaluasi pemberdayaan UMKM. Melalui kunjungan rutin, Lazismu tidak hanya mengumpulkan infak, tetapi juga menilai dinamika usaha, membantu penerima manfaat mengatasi tantangan, dan mendorong mereka berkontribusi kembali kepada masyarakat.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co