Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengantar sekelompok kader yang memperoleh beasiswa studi ke Maroko pada Sabtu, 12 September, melalui Bandara Internasional Soekarno‑Hatta.
Pesan Ketua PP Muhammadiyah
Sehari sebelum keberangkatan, Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, menekankan pentingnya memaksimalkan peluang yang jarang datang ini. Ia mengajak para penerima beasiswa untuk menjadikan masa tinggal di Maroko sebagai bagian integral dari proses kaderisasi organisasi.
"Manfaatkan setiap kesempatan untuk menggali pengetahuan seluas‑luasnya," kata Syafiq, menambahkan bahwa mereka harus menyerap ilmu dari para dosen, menjelajahi koleksi manuskrip serta literatur di perpustakaan, dan turut menyelami kebudayaan setempat. Ia juga mengingatkan agar waktu dapat diatur secara efisien sehingga kegiatan akademik, pengembangan wawasan, dan tugas organisasi dapat berjalan seimbang.
Fokus pada Bahasa dan Sejarah Maroko
Cecep Taufikurrohman, anggota Tim Beasiswa Luar Negeri PP Muhammadiyah, menyoroti betapa kaya sejarah dan peradaban Maroko. Ia mendorong para kader untuk tidak hanya menguasai bahasa Arab, tetapi juga meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan Prancis yang banyak dipakai di sana.
"Jika kembali hanya menguasai bahasa Arab, kesempatan itu akan terlewat," ujarnya. "Manfaatkan lingkungan belajar untuk menambah kompetensi bahasa dan pengetahuan lain yang relevan."
Cecep menegaskan bahwa beasiswa ini merupakan amanah yang harus dijaga oleh para kader, baik dari sisi keagamaan, institusi PP Muhammadiyah, maupun perguruan tinggi yang menampung mereka. Diharapkan mereka kembali menjadi ulama yang mampu menyebarkan cahaya ilmu serta mengharumkan nama Muhammadiyah selama berada di Maroko.
Kolaborasi dengan PCIM Maroko
Para kader juga diminta untuk memberikan kontribusi kepada Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Maroko secara proporsional, sementara PCIM diharapkan memberikan dukungan adaptasi bagi mereka.
Harapan Keluarga
Salah satu orang tua wakil penerima beasiswa menyampaikan rasa terima kasih dan memohon doa serta bimbingan agar anak‑nya dapat belajar dengan optimal. "Kami tidak mampu membalas semua kebaikan ini, semoga Allah memberi balasan di kemudian hari," ungkapnya.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Palang Merah Indonesia menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) yang menitikberatkan sinergi layanan kemanusiaan serta peningkatan kapasitas organisasi.
Penandatanganan dilakukan secara langsung oleh Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla, dan Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief, pada penutupan Rapat Kerja Nasional Lembaga Resiliensi Bencana/Muhammadiyah Disaster Management Center yang berlangsung di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya, Ahad 13 September.
Kerjasama ini ditujukan untuk memperkuat koordinasi penanganan darurat bencana dan mengoptimalkan jaringan sumber daya yang dimiliki kedua lembaga.
Ruang Lingkup dan Manfaat Kerjasama
Menurut pihak Muhammadiyah, organisasi tersebut memiliki potensi besar dalam penanggulangan bencana nasional berkat jaringan rumah sakit, perguruan tinggi, mahasiswa, serta relawan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Melalui kesepakatan ini, kedua institusi berkomitmen menjadi platform penguatan layanan dan respons kebencanaan, baik di tingkat domestik maupun internasional, serta memfasilitasi pembekalan sumber daya manusia lewat pelatihan, pembinaan, dan sertifikasi kompetensi relawan.
Nota kesepahaman juga menekankan peningkatan tata kelola organisasi, pertukaran data dan informasi secara terintegrasi, serta perluasan kolaborasi di bidang akademik dan pemberdayaan masyarakat.
Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan sinergi antar relawan, menghasilkan kebijakan mitigasi bencana yang cepat dan berbasis data lapangan.
“Di lapangan perlu kerjasama dengan semua pihak; siapa pun yang memiliki apa akan kami gabungkan. Penanganan bencana membutuhkan banyak relawan,” kata Jusuf Kalla menanggapi MoU.
Budi Setiawan, Ketua MDMC PP Muhammadiyah, menilai sinergi ini positif. Ia menyatakan bahwa lembaganya sering berinteraksi dengan PMI di lapangan dan berharap dapat belajar serta memperoleh payung hukum yang lebih kuat.
“PMI memiliki fasilitas dan sistem yang terstruktur, sehingga kami dapat belajar bersama dan membuka akses ke banyak daerah,” ujar Budi Setiawan.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Ismail Lutfi Japakiya, rektor Fatoni University Thailand, menyatakan kekagumannya terhadap peran Muhammadiyah dalam dunia pendidikan, khususnya di tingkat perguruan tinggi.
Latar Belakang dan Tujuan Kunjungan
Muhammadiyah, yang didirikan pada tahun 1912 oleh Kiai Ahmad Dahlan, kini mengelola 165 institusi perguruan tinggi, ribuan sekolah, taman kanak-kanak, serta ribuan masjid. Rektor Japakiya menekankan harapannya agar seluruh amal kebajikan Muhammadiyah menjadi pahala bagi pendiri organisasi tersebut.
Pada 14 September, ia hadir dalam acara Bincang Santai bersama UMSU FM di Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU). Kunjungan ini dimaksudkan untuk bertemu dengan para pemimpin Muhammadiyah serta meninjau praktik pengembangan pendidikan yang dapat dijadikan contoh bagi Fatoni University, yang juga berstatus perguruan tinggi swasta serupa dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah‑Aisyiyah (PTMA).
Hubungan dengan Keluarga Kiai Ahmad Dahlan
Fatoni University Thailand menjalin hubungan baik dengan keluarga Kiai Dahlan di Thailand. Sebagai penghormatan, universitas tersebut memberikan gelar doktor kehormatan kepada Winai Dahlan, cucu Kiai Ahmad Dahlan yang memimpin Halal Center di Chulalongkorn University, Bangkok.
Kerjasama Lintas Negara
Rektor Japakiya juga menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang membuka jalur kerja sama antara Fatoni University dengan University Muhammadiyah Malaysia (UMAM) di Perlis, memperkuat jaringan kolaborasi pendidikan di kawasan Asia Tenggara.
Kunjungan ini menegaskan komitmen Fatoni University untuk belajar dari model pendidikan Muhammadiyah dan memperluas jejaring akademik internasional demi peningkatan kualitas pendidikan di kedua negara.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Pandangan wasathiyah atau sikap tengah yang dianut Muhammadiyah mempermudah gerakan ini untuk merambah ke kancah internasional.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syamsul Anwar, pada Senin 14 September dalam acara Bincang Santai yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) lewat FM 91.6.
Kerangka Moderasi sebagai Kunci Ekspansi Global
Syamsul menjelaskan bahwa sikap tengah menjadi landasan bagi Muhammadiyah dalam memperluas pergaulan di tingkat dunia, termasuk upaya memfasilitasi berdirinya University Muhammadiyah Malaysia (UMAM) di negara bagian Perlis.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Malaysia, khususnya Raja Muda Perlis, Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail, yang berperan penting dalam proses pendirian UMAM.
"Kerjasama ini berjalan sangat baik; bukan hanya UMRI yang terlibat, namun UMSU pun dapat memanfaatkan peluang ini," ujar Syamsul.
satunya Perguruan Tinggi Muhammadiyah‑Aisyiyah (PTMA) yang berhasil dibangun di luar Indonesia, menandai langkah historis bagi institusi pendidikan Muhammadiyah.
Sejalan dengan itu, Syamsul mengajak seluruh elemen, khususnya kampus PTMA, untuk saling bersinergi dan berkolaborasi demi kemajuan bersama.
"Keberhasilan akan lebih mudah diraih bila kita bergerak bersama. Dengan kebersamaan, segala tantangan dapat diatasi," tegasnya.
Menjaga Akar Manhaj Islam Berkemajuan
Dalam konteks hubungan global dan upaya internasionalisasi, termasuk yang dijalankan oleh UMSU, ia menekankan pentingnya tetap berpegang pada manhaj Islam Berkemajuan sebagai pandangan resmi organisasi.
"Manhaj ini bersifat progresif dan diharapkan mampu menyelesaikan masalah-masalah krusial dalam kehidupan masyarakat," jelasnya.
Dengan menggunakan kerangka pemikiran Islam yang berkemajuan, Muhammadiyah berharap dapat meninjau permasalahan secara komprehensif, baik yang bersifat internal maupun eksternal, serta memberikan solusi yang relevan.
Pendekatan moderat Muhammadiyah tidak hanya memperkuat posisi institusi dalam arena pendidikan internasional, tetapi juga menegaskan komitmen organisasi untuk tetap berlandaskan pada prinsip Islam yang progresif, membuka ruang bagi kolaborasi lintas negara yang lebih luas.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Memahami Al‑Qur’an tidak cukup dengan membaca teks semata; setiap ayat harus dihayati makna dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari‑hari. Dalam khotbah Jumat yang disampaikan pada 11 September, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, Nur Ahmad Ghozali, menekankan pentingnya menjadikan Al‑Qur’an sebagai pedoman yang hidup.
Ia mengangkat Surah Al‑Ma’un sebagai contoh utama yang menegaskan hubungan antara ibadah kepada Allah dan kepedulian terhadap sesama. Gerakan Al‑Ma’un sendiri telah menjadi landasan sejak era KH Ahmad Dahlan, kemudian diwujudkan lewat jaringan lembaga Muhammadiyah yang melayani anak yatim, kaum dhuafa, pasien sakit, dan masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Al‑Ma’un dan Kepedulian Sosial
Secara linguistik, al‑ma’un merujuk pada sesuatu yang bermanfaat dan berguna. Tafsir klasik menafsirkan istilah ini sebagai bantuan kecil yang diperlukan manusia dalam kegiatan rutin, termasuk menolong sesama.
Nur Ahmad menjelaskan bahwa kebaikan berupa bantuan sederhana kepada orang lain merupakan inti dari al‑ma’un. Dalam konteks yang lebih luas, istilah ini mencakup segala bentuk pertolongan ketika seseorang menghadapi kesulitan.
Menurutnya, Al‑Qur’an mengkritik perilaku yang memisahkan ibadah ritual dari tanggung jawab sosial. Ia mencontohkan orang‑orang dalam Surah Al‑Ma’un yang menampakkan riya dalam salat sekaligus enggan menolong fakir miskin dan anak yatim.
Karena itu, ibadah harus menumbuhkan kesadaran kemanusiaan; salat dan zikir seharusnya memicu aksi menolong, membangun, dan mengembangkan komunitas.
"Ibadah yang tidak diiringi rasa kemanusiaan tidak memiliki nilai," tegasnya.
Lima Tahap Memahami Al‑Qur’an
Ghozali menyampaikan lima langkah yang diilhami interpretasi KH Ahmad Dahlan dalam mengkaji Surah Al‑Ma’un. Pertama, mengenal arti literal ayat dan, bila memungkinkan, mempelajari tafsirnya.
Kedua, menelaah makna dan tujuan di balik ayat tersebut. Menghafal Al‑Qur’an harus diikuti dengan pemahaman mendalam atas pesan yang terkandung.
Ketiga, menilai diri apakah larangan dalam ayat sudah dipatuhi. Keempat, bila menemukan perintah, menanyakan apakah perintah itu telah diimplementasikan dalam kehidupan pribadi.
"Jika kita menolak membantu anak yatim namun mengabaikan orang miskin, itu bukan sekadar pelanggaran, melainkan perintah yang belum dijalankan," ujarnya.
Kelimanya, bila ada perintah yang belum dipraktikkan, prioritas pertama adalah mengamalkannya sebelum melanjutkan ke ayat lain.
"Jangan melompat ke ayat berikutnya sebelum menunaikan perintah yang ada dan menjauhi larangan yang telah ditetapkan," pungkasnya.
Nur Ahmad menautkan pemahaman Surah Al‑Ma’un dengan program sosial Muhammadiyah, termasuk panti asuhan, lembaga pendidikan untuk anak‑anak dhuafa, serta rumah sakit Islam PKU yang melayani masyarakat yang sakit atau kurang berdaya.
"Interpretasi ayat‑ayat Al‑Qur’an tidak berhenti pada bacaan; langkah pertama adalah memahami artinya, kemudian menelaah tafsir, dan terakhir mengaplikasikannya dalam tindakan nyata," ia menegaskan.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Selama dua hari, siswa kelas IX Internasional SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo berkesempatan belajar langsung dengan native speaker asal Republik Ceko di Vila Swarga, Batu, pada 14‑15 September 2026.
English Camp: Menggabungkan Belajar dan Budaya
Acara yang dinamakan English Camp ini dibuka oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus Ketua Pengarah Program Kelas Peminatan, Edy Prawoto, SAg., MPd. Ia menegaskan tujuan utama pelatihan: meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa melalui praktik yang nyata.
"Tujuan dari pelatihan ini adalah nantinya kalian dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris," ujar Edy.
Teman Belajar Baru
Setelah sambutan resmi, suasana menjadi hidup ketika para siswa diperkenalkan kepada kelompok native speaker Ceko. Interaksi langsung memungkinkan mereka mempraktikkan percakapan bahasa Inggris dalam konteks sehari-hari serta berbagi cerita tentang kebudayaan masing‑masing.
Kegiatan malam diakhiri dengan barbecue bersama, memperkuat ikatan antar peserta.
Mengenal Budaya Ceko
Hari kedua dimulai dengan sholat Subuh berjamaah, diikuti senam ringan dan jalan‑jalan keliling vila. Udara sejuk Kota Batu tidak mengurangi semangat siswa yang tetap antusias mengikuti rangkaian kegiatan.
Eksya Aditya, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Trunojoyo Madura, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari kerja sama Culture Exchange antara Palacký University (Republik Ceko) dan UTM. Selama empat tahun terakhir, ia telah mendampingi kelompok native speaker dalam kunjungan ke sekolah Musasi.
Ia mencatat beberapa tantangan, termasuk menyesuaikan pola makan para mahasiswa Ceko yang terbiasa dengan menu berbeda dan memiliki alergi khusus.
Belajar dari Perbedaan
Eksya menyoroti gaya komunikasi mahasiswa Ceko yang cenderung langsung dan to the point, kontras dengan kebiasaan orang Jawa yang lebih bersifat santun. Pendekatan ini memberi pengalaman baru bagi mahasiswa UTM dalam melayani tamu internasional.
Setelah sarapan, siswa bermain permainan tradisional Indonesia seperti cublak suwung, kelereng, dan ular tangga, sambil terus menggunakan bahasa Inggris.
Salah satu mahasiswa Ceko menyampaikan kepuasannya atas sambutan hangat yang diterima di SMP Musasi, serta memuji kosakata bahasa Inggris siswa yang cukup luas, memungkinkan komunikasi berjalan lancar.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Di lapangan SMP Muhammadiyah 1 Gresik, sebelas siswa kelas V Al‑Waliyy SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri) menghidupkan drama berjudul Jagoan pada rangka pra‑acara Musyawarah Daerah (Musyda) Ke‑23 IPM Kabupaten Gresik, Sabtu 12 September 2026. Pertunjukan ini bertujuan menyampaikan nilai persahabatan serta menolak perilaku perundungan di kalangan pelajar.
Persiapan Sebelum Panggung
Beberapa menit menjelang penampilan, para peserta masih menyempurnakan dialog, memeriksa kostum, dan saling memberi semangat. "Rasanya agak deg‑degan, tapi kami sudah siap," ujar Arsheline Kharisa Al Mecca sambil tersenyum. Najma Aisyah Ilmawan, yang memerankan tokoh utama Azmi, menambahkan, "Semoga tidak lupa dialog." Muhammad Zafran Rama Ardiansyah menegur teman‑temannya agar tidak takut membuat kesalahan dan tetap berada di panggung.
Daftar Pemeran dan Alur Cerita
Drama melibatkan tiga belas siswa, terdiri atas tujuh anak laki‑laki dan enam perempuan: Muhammad Zafran Rama Ardiansyah, Malik Salman, Muhammad Vidi Zahir Firdausi, Najma Aisyah Ilmawan, Arsheline Kharisa Al Mecca, Rizky Ayu Rahmawati, Adelia Khanza Ramadani, Adeffa Tsalisa Karimah, Annisa Putri Khumairo, Hafidz Maulana Putra, Muhammad Raditu Billahi Robba Romadhon, Amien Syamsul Din Haedar, serta Ahmad Azka Rabbani. Ketika musik mengalun, mereka menampilkan dialog yang hidup, gerak tubuh, serta ekspresi yang menyesuaikan alur cerita.
Perpaduan Drama, Tari, dan Musik
Selain dialog, pertunjukan diperkaya dengan tarian yang mengikuti irama lagu Jagoan dan Sahabat karya Sherina Munaf. Pesan utama tentang persahabatan dan pentingnya menghormati sesama disampaikan oleh Adelia Khanza Ramadani: "Teman‑teman, mari kita saling menghormati, membantu, dan tidak membuli. Bullying bukan sekadar candaan, melainkan dapat menimbulkan rasa sedih, kehilangan rasa percaya diri, bahkan rasa tidak diterima oleh lingkungan." Pelatih drama Nurul Istiqomah menjelaskan bahwa kombinasi drama, tari, dan musik dipilih agar pesan anti‑bullying terasa dekat dengan keseharian pelajar.
Respon Wali Murid dan Penutup
Laily Lafita Ari, ibu Muhammad Zafran, menilai pengalaman tampil ini akan menjadi bagian penting dalam perjalanan anak‑anaknya. Beberapa wali murid lainnya menegaskan bahwa menjadi “jagoan” tidak diukur dari kekuatan fisik, melainkan keberanian untuk menghormati, membantu, dan melindungi perasaan teman. Nurul menambahkan, drama ini selaras dengan tema Musyda IPM, yaitu "Pelajar Obah, Ikatan Berkiprah", sehingga siswa tidak hanya beraksi di atas panggung, tetapi juga mengusung nilai gerak, berkarya, persahabatan, dan penolakan perundungan.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Cover novel sejarah Perang Gowa 1905-1906 oleh A. makmur Makka
Ini kisah raja yang hilang di balik Perang Gowa. Novel A. Makmur Makka ini sebenarnya bukan tentang seluruh Perang Gowa, melainkan secuil sejarah tentang seorang raja yang lenyap di tengah perang.
Catatan Ahmadie Thaha
Tagar.co – Setiap rumah punya cerita. Rumah Andi Makmur Makka, di pinggir pantai Makassar, Sulawesi Selatan, misalnya. Rumah itu bertingkat, terbuat dari kayu keras, antik, penuh kenangan lama, dan terasa seperti sebuah arsip yang memilih tinggal di rumah pribadi.
Ketika saya berkunjung ke sana, Daeng Makka bukan hanya menerima tamu. Dari rumahnya ia mengajak saya berkeliling kota. Satu makam ditunjukkannya, “Ini makam si raja.” Lalu makam lain. “Ini pula.” Kota Makassar seolah menyimpan sejarah di bawah tanahnya.
Yang menarik, puluhan makam raja itu tidak semuanya hadir dengan papan nama dan keterangan seperti museum modern. Sebagian nyaris menjadi anonim. Justru mereka yang terlibat dalam perang melawan kolonialisme lebih mudah dikenali dalam ingatan.
Ada ironi kecil di sana. Sebuah bangsa besar bisa mempunyai begitu banyak makam, tetapi belum tentu mempunyai cukup banyak cerita tentang orang yang dimakamkan di dalamnya. Setiap nisan menandai sebuah kematian, tetapi sejarah mereka masih menjadi narasi yang tertunda.
Barangkali karena itu saya membaca Perang Gowa 1905–1906 karya A. Makmur Makka dengan rasa ingin tahu yang agak berbeda. Buku ini terbit pada 2026, setebal 175 halaman, dicetak oleh penerbit indie Satria Publisher. Peluncurannya dilaksanakan secara sederhana di Jakarta.
Dari keterangan penulisnya sendiri, novel sejarah itu berkisah tentang “gaibnya” Raja Gowa, I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang. Raja bergelar Sultan Husain Tuminanga ri Bundu’na ini dituturkan hilang di tengah perang melawan Hindia Belanda.
Di sinilah saya merasa judul Perang Gowa agak terlalu besar untuk dikisahkan hanya dalam sekian halaman. Perang Gowa tentu bukan peristiwa kecil. Ia mencakup gerakan militer, politik kerajaan, perlawanan rakyat, strategi kolonial, intrik pejabat, pengkhianatan, dan pergulatan kekuasaan.
Namun, Makmur Makka tidak sedang menyusun ensiklopedia perang. Ia mengambil secuil peristiwa itu, lalu memperbesarnya menjadi dunia cerita: seorang raja yang lenyap, orang-orang yang mencarinya, perang yang terus berkobar, serta kisah cinta yang bergerak di sela-sela dentuman senjata.
Justru “secuil” itulah yang membuatnya berpotensi menjadi karya yang kuat. Sejarah sering terlalu luas untuk ditelan sekaligus. Novel tidak perlu menjadi buku pelajaran yang diberi dialog. Ia cukup mengambil satu pintu kecil sebagai fokus, lalu membiarkan pembaca masuk ke rumah sejarah.
Makmur Makka dan Jejak Panjang Sejarah
Makmur Makka sendiri bukan orang baru dalam urusan menghidupkan masa lalu. Lahir di Parepare pada 13 Februari 1945, ia belajar Hubungan Internasional di UGM. Kemudian, seperti banyak tokoh asal Makassar, ia melanjutkan studi di luar negeri. Ia memilih Ohio University, Amerika Serikat.
Sejak muda di Yogya, ia aktif dalam pers mahasiswa. Ia pernah memimpin pers mahasiswa di Yogyakarta, bekerja di Harian KAMI, dan kemudian menjadi pemimpin redaksi Republika pada 1997–2000. Sebelumnya ia juga menjadi staf ahli Menristek/Kepala BPPT.
Ia bahkan memiliki hubungan yang panjang dengan dunia arsip. Kedekatannya dengan B. J. Habibie di kantor Ristek/BPPT membuat banyak arsip presiden ketiga RI itu berhasil dikumpulkannya, kemudian diserahkan ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
ANRI mencatat inventaris arsip Makmur Makka yang tersimpan mencapai 399 nomor, terdiri atas 384 arsip tekstual dan 15 lembar arsip foto. Sebagian bahan arsip itu sudah diolahnya menjadi sejumlah buku monumental. Namun, masih banyak lagi yang belum sempat digarapnya, termasuk puluhan rekaman video Habibie.
Ia tercatat menulis banyak buku biografi Habibie. Karena itu, pada 2018 ia memperoleh penghargaan MURI sebagai penulis buku biografi Habibie terbanyak, dengan 95 judul. Dalam dunia kepenulisan, namanya memang lebih sering dikenal lewat karya-karya tentang B. J. Habibie.
Namun, di sisi sastra, ia juga memiliki deretan karya. Bentuknya puisi, cerpen, prosa liris, dan novel sejarah. Di antaranya Ungu, Manifes, Tanah Air, Buah Cherry Ladang Gandum, Ibu, Sajak-Sajak Malioboro, Secawan Matahari, dan novel sejarah lainnya, Rumpa’na Bone.
Novel Rumpa’na Bone berkisah tentang runtuhnya Kerajaan Bone. Terbit pada 2015, novel ini mengambil latar serangan Belanda terhadap Kerajaan Bone pada 1904–1905. Karya imajinatif ini memuat fakta sejarah runtuhnya Kerajaan Bone, budaya siri’, upacara kerajaan, dan tradisi ritual bissu.
Maka, Perang Gowa bisa kita baca sebagai kelanjutan minat Makmur Makka pada sejarah kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan. Kalau Rumpa’na Bone membawa pembaca ke keruntuhan Bone, novel terbaru ini membawa kita ke salah satu episode paling getir dari Gowa.
Ketika Fakta Bertemu Imajinasi
Saat itu, pemerintah kolonial Belanda mengerahkan seluruh kekuatan untuk menutup babak kedaulatan kerajaan dengan senjata. Sejarahnya memang menarik karena yang mereka hadapi adalah pasukan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang yang tak pernah benar-benar takluk.
Raja yang memerintah Gowa pada 1895–1906 itu melakukan perlawanan terhadap Hindia Belanda pada 1905. Dalam sejumlah sumber sejarah disebutkan bahwa ia akhirnya meninggal di Bundukma, dekat Enrekang, pada 25 Desember 1906. Namun, dalam novel, ia disebut hanya gaib.
Karena itu, kata “gaib” dalam novel perlu ditempatkan pada wilayah sastra, bukan buru-buru diperlakukan sebagai kesimpulan sejarah. Di sinilah novel sejarah menjadi menarik sekaligus berbahaya. Ia boleh mengisi ruang yang tak tercatat, tetapi pembaca perlu tahu mana fakta, tafsir, dan imajinasi.
Ahmadun Yosi Herfanda, jurnalis, penyair, esais, dan salah seorang narasumber dalam diskusi buku tersebut di Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Jakarta, mengingatkan hal itu. Menurut Ahmadun, novel sejarah memang memadukan fakta sejarah dengan tokoh dan alur rekaan pengarang.
Bersama Anhar Gonggong, pembicara lainnya, ia menegaskan bahwa novel sejarah bukan karya ilmiah sejarah. Subjektivitas dan imajinasi tetap mempunyai tempat di dalamnya. Namun, fakta sejarah yang menjadi kerangkanya tetap menuntut tanggung jawab.
Ahmadun bahkan melihat kekuatan sekaligus kelemahan struktural novel ini. Kisah dua joki kuda, Patta Emba dan Bunga Rossi, menjadi semacam “penjaga” alur. Mereka bertemu di arena pacuan kuda, jatuh cinta, lalu hubungan mereka bersinggungan dengan konflik politik dan perang.
Namun, ketika Makmur Makka mengalihkan cerita ke Benteng Rotterdam dan tokoh-tokoh Belanda seperti J. B. van Heutsz, alur novel terasa tiba-tiba terputus. Ahmadun mengusulkan agar kedua jalur itu dibuat sebagai alur ganda yang saling berkelindan.
Saya kira kritik sastra itu penting. Sebab, novel sejarah tidak cukup hanya memiliki bahan sejarah yang menarik. Ia juga harus mempunyai mesin cerita yang bekerja. Pembaca tak boleh merasa sedang berpindah dari satu artikel sejarah ke artikel sejarah berikutnya hanya karena subjudul berganti.
Arsip Kolonial dan Ingatan Rakyat
Sebagai kritikus sastra, Ahmadun juga menyoroti banyaknya subjudul yang pendek-pendek. Secara naratif, perang menjadi seperti dipotong menjadi kepingan-kepingan kecil. Secara grafis, menurutnya, pergantian subjudul itu juga kurang nyaman bagi pembaca muda.
Namun, saya mencatat sesuatu yang lebih penting daripada soal teknis itu. Pilihan Makmur Makka untuk mempertemukan arsip kolonial dengan ingatan rakyat dalam format novel romantis menjadi pintu masuk untuk mengenalkan sejarah, kebudayaan, sekaligus memberi pelajaran yang mudah dipahami khalayak awam.
Dalam pengantarnya, ia menyebut arsip Belanda merupakan sumber yang kaya detail—nama tempat, tanggal, pertempuran, jumlah korban. Namun, baginya, catatan para sejarawan Belanda cenderung membawa perspektif pihak yang menang.
Sebaliknya, tradisi lisan masyarakat lokal menyimpan cerita tentang kesetiaan, kehormatan, cinta, harga diri, dan raja yang hilang. Maka, Makmur Makka memilih jalan penulisan dengan “menafsir, bukan menyalin”. Fakta dari pihak Belanda boleh benar, tetapi tafsir atasnya ada pada kita.
Itu pilihan yang masuk akal untuk sebuah novel sejarah. Arsip kolonial ibarat kamera yang dipasang pihak yang sedang memenangkan perang. Ia bisa sangat tajam, bahkan sampai mencatat berapa butir peluru yang ditembakkan. Namun, kamera tidak selalu merekam apa yang dirasakan orang yang ditembak.
Di sini ada konteks sejarah yang menarik. Tahun 1905–1906 memang berdekatan dengan ujung peperangan yang melelahkan di wilayah Aceh, jauh dari Pulau Sulawesi. Perang Aceh secara umum berlangsung tiga dekade, antara 1873–1904, meski perlawanan terhadap Belanda belum serta-merta padam setelah 1904.
Jadi, Perang Gowa bukan “bersamaan” dalam arti satu periode perang yang sama persis, tetapi terjadi segera sesudah Belanda menyatakan Perang Aceh selesai. Sementara itu, di tanah Jawa, tepatnya di Batavia, pada 17 Juni 1905, pemerintah Hindia Belanda memberikan pengakuan resmi kepada ormas Jamiat Kheir.
Perkumpulan itu kemudian berkembang sebagai ormas Islam pertama yang resmi. Jadi, ketika di satu ujung Hindia Belanda orang sedang mendirikan sekolah dan membangun jaringan pendidikan, di ujung lain Kerajaan Gowa sedang berhadapan dengan ekspedisi militer kolonial.
Sejarah rupanya tidak pernah berjalan dalam satu lorong. Pada kalender yang sama, ada perang, sekolah, perdagangan, surat kabar, dakwah, dan percintaan. Maka, ketika kita melihat peta Nusantara dalam perspektif yang lebih luas, tahun 1905 bukan sekadar angka di sampul sebuah novel.
Nama Islam dan Silsilah Raja Gowa
Saya juga ingin meluruskan satu hal yang mudah menimbulkan salah paham. Kurang tepat jika raja-raja Gowa secara umum disebut keturunan Arab hanya karena mereka menggunakan gelar “Sultan” atau memiliki nama seperti Husain, Abdul Kadir, Abdul Jalil, dan sebagainya.
Silsilah Kerajaan Gowa mempunyai akar lokal yang panjang. Penelitian tentang islamisasi Makassar memang menunjukkan adanya peran penting keturunan Arab, termasuk hubungan perkawinan dengan keluarga kerajaan.
Salah satu penelitian menyebutkan bahwa Sayyid Ba’alawy menikah dengan putri Raja Gowa Sultan Abdul Jalil. Itu menunjukkan adanya persilangan genealogis, bukan berarti seluruh dinasti Gowa berasal dari Arab.
Bahkan, nama “Husain” pada gelar Sultan Husain sebaiknya tidak dijadikan bukti otomatis tentang asal-usul Arab. Nama dan gelar Islam adalah satu hal; garis keturunan adalah hal lain. Sejarah tidak boleh dibuat sesederhana buku daftar nama.
Yang paling menarik dari Perang Gowa, bagi saya, justru bukan apakah pembaca akan menghafal siapa van Heutsz, van Dallen, Idenburg, atau siapa yang memegang benteng tertentu.
Yang penting adalah apakah pembaca menjadi ingin bertanya: siapa raja itu, mengapa ia melawan, ke mana ia pergi, mengapa kisahnya menjadi kabur, dan mengapa sebuah bangsa masih mengingat seseorang yang tubuhnya sudah lama menjadi tanah?
pertanyaan itu jauh lebih berharga daripada hafalan tanggal. Karena itu, saya tertarik pada usul yang muncul dalam diskusi di Dompet Dhuafa: 31 potongan cerita dalam novel ini jangan berhenti sebagai 31 potongan di dalam buku. Jadikan 31 film pendek. Sebarkan melalui media sosial.
Ini bukan berarti buku harus menyerah kepada video. Justru sebaliknya: video bisa menjadi pintu masuk menuju buku. Anak muda yang tak mau membuka 175 halaman mungkin bersedia menonton tujuh menit tentang seorang raja yang menghilang. Setelah itu, rasa ingin tahu akan membawanya mencari bukunya.
Kita terlalu sering mengeluhkan generasi muda yang malas membaca, seolah-olah mereka harus dipaksa masuk ke perpustakaan untuk mencintai sejarah. Padahal, persoalannya mungkin bukan semata-mata kemalasan. Cara sejarah disajikan juga menentukan.
Membawa Sejarah ke Generasi Layar
Perang Gowa memuat banyak bahan. Ada perang, raja, pengkhianatan, cinta, perjalanan, pengejaran, benteng, perempuan yang menunggu, prajurit yang setia, dan seorang penguasa yang menghilang di tengah kekacauan. Secara sinematik, itu bahan yang kaya dan berlimpah.
Maka, kelemahan judulnya sekaligus bisa menjadi peluang. “Perang Gowa” terdengar seperti buku sejarah yang hendak menjelaskan seluruh perang. Padahal, kekuatan novel ini terletak pada satu pertanyaan yang jauh lebih sederhana: ke mana perginya sang raja?
Sejarah kadang bekerja seperti makam tua. Dari luar kita hanya melihat batu. Namun, kalau kita mau membuka ceritanya, di dalamnya ada manusia: keberanian, ketakutan, cinta, pengkhianatan, dan harapan.
Makmur Makka telah membuka salah satu makam itu. Ahmadun Herfanda dan Anhar Gonggong mengingatkan agar batu nisannya jangan sampai lebih besar daripada kisah manusia yang dikuburkannya.
Mungkin itulah cara terbaik membaca Perang Gowa. Kita membacanya bukan sebagai kitab lengkap tentang sebuah perang, melainkan sebagai sebuah pintu kecil menuju sejarah yang jauh lebih luas.
Mungkin pula, jika 31 pintu kecil itu kelak berubah menjadi 31 film pendek, generasi yang enggan membaca buku akhirnya akan masuk melalui layar.
Setelah itu, barangkali mereka menemukan sesuatu yang selama ini kita kira sudah hilang: bukan hanya seorang raja, tetapi ingatan tentang siapa kita.
Ini kisah raja yang hilang di balik Perang Gowa. Novel A. Makmur Makka ini sebenarnya bukan tentang seluruh Perang Gowa, melainkan secuil sejarah tentang seorang raja yang lenyap di tengah perang.
31 Cerita, 31 Film Pendek — Sejarah tidak harus selalu masuk lewat buku. Potongan kisah Perang Gowa bisa menjadi serial film pendek untuk membawa generasi layar kepada sejarah.
Ketika Makam Lebih Banyak daripada Cerita — Di Makassar, makam raja-raja masih ada. Yang sering hilang justru cerita tentang manusia yang pernah hidup di balik batu nisannya.
SEO
Perang Gowa 1905–1906, A. Makmur Makka, Sultan Husain Gowa, I Makkulau, novel sejarah, Rumpa’na Bone, Ahmadun Yosi Herfanda, Kerajaan Gowa, sejarah Makassar, Jamiat Kheir, Perang Aceh.
45
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Foskam Jawa Timur menyelenggarakan pelatihan khusus bagi guru SD/Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah pada Jumat, 11 September 2026, bertempat di SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) di Jalan Pucang Anom No.93, Surabaya.
Peserta dan Latar Belakang
Acara ini dihadiri oleh 68 pendidik yang mewakili 30 sekolah Muhammadiyah di seluruh Jawa Timur. Di antaranya, dua guru dari SD Alam Muhammadiyah 2 Kedanyang, Gresik—Janita Firda Naini, S.Pd. (Bahasa Indonesia‑Literasi) dan Mahfudz Efendi, S.Pd., Gr., M.M. (Matematika‑Numerasi)—bersama dua rekan dari SD Muhammadiyah 1 Giri, Kebomas, turut berangkat ke Mudipat.
Tujuan Pelatihan
Ketua Foskam Jawa Timur, Edy Susanto, M.Pd., menyatakan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan guru dalam merancang soal literasi dan numerasi serta mempersiapkan sekolah menyongsong TKA tahun ajaran berikutnya. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada 30 kepala sekolah yang telah mengirim delegasi.
Edy menekankan pentingnya peningkatan nilai TKA dibandingkan tahun sebelumnya, sebagai upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap mutu pendidikan di masing‑masing sekolah.
Materi dan Narasumber
Dua pakar nasional turut memberikan materi: Ria Pusvita Sari, M.Pd., yang membahas teknik pembuatan soal numerasi, dan Kanzue S. Rachelinda, S.Pd., yang fokus pada pengembangan soal literasi.
Praktik Penyusunan Soal
Setelah istirahat sholat Jumat dan Zuhur, peserta kembali ke Gedung ADEC (Ahmad Dahlan Education Center) untuk mempraktikkan pembuatan asesmen sesuai bidang masing‑masing. Kelompok numerasi dipandu oleh Ria (dipanggil Vita) di kelas 6B lantai empat, sementara kelompok literasi dipimpin Kanzue di kelas 6A lantai yang sama.
Ria menekankan bahwa persiapan TKA sebaiknya dimulai sejak kelas satu, bukan menunggu kelas enam. Ia menyarankan penggunaan soal sumatif akhir bab dengan tiga tipe pilihan ganda: pilihan tunggal empat opsi, MCMA (Multiple Choice Multiple Answers) dengan tiga pernyataan dan dua jawaban benar, serta tipe kategori dengan pernyataan benar‑salah atau cocok‑tidak cocok.
Selain tipe soal, ia menambahkan tiga level kognitif yang perlu diperhatikan—pemahaman, aplikasi, dan penerapan—serta tiga konteks soal: kehidupan pribadi, sosial‑budaya, dan ilmiah, contohnya soal suhu, dosis obat, atau bentuk bangunan.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co