Sejak berdiri, Muhammadiyah menegaskan dirinya sebagai organisasi sosial‑keagamaan yang tidak beralih menjadi kekuatan politik, sebuah prinsip yang telah diwariskan oleh Kiai Ahmad Dahlan.
Sebagai ormas berskala nasional, Muhammadiyang kerap mendapat ajakan untuk terjun ke arena politik. Godaan tersebut bukan fenomena baru; sejak era Kiai Ahmad Dahlan, upaya mengubah Muhammadiyah menjadi entitas politik sudah pernah muncul berulang kali.
Ketua Umum Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, menyampaikan bahwa Kiai Dahlan telah berulang kali dihadapkan pada rayuan, baik secara halus maupun terbuka, untuk menjadikan organisasi sebagai platform politik.
Rais menekankan bahwa konsistensi Muhammadiyah dalam bidang keagamaan menjadi bukti kuat komitmen Kiai Dahlan agar organisasi tetap relevan sepanjang masa.
"Berapa kali pula Kiai Dahlan diminta mengalihkan fokus ke gerakan politik, yang kala itu lebih dikenal sebagai gerakan kebangsaan," ujar Ahmad Dahlan Rais pada 15 September lalu dalam perayaan Dies Natalis Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).
Meskipun demikian, Muhammadiyah tidak menutup peluang bagi kadernya yang berpotensi masuk politik, asalkan tidak menjadikan organisasi sebagai alat pribadi untuk meraih keuntungan.
Kontribusi Non‑Politik untuk Umat dan Bangsa
Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah tetap berfokus pada pelayanan sosial tanpa mengadopsi identitas politik praktis. Peran organisasi dalam memajukan masyarakat tetap signifikan.
Contohnya, Muhammadiyah tercatat sebagai ormas pribumi pertama yang mendirikan rumah sakit. Ide pendirian rumah sakit tersebut awalnya dikemukakan oleh Kiai Sudja, meski sempat ditertawakan pada masa itu.
Visi pendirian rumah sakit berlandaskan nilai tolong‑menolong yang bersumber dari Al‑Qur’an, serta ditujukan melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang.
Menurut Ahmad Dahlan Rais, tenaga medis pertama yang bekerja di rumah sakit Muhammadiyah adalah dokter‑dokter Belanda, pada masa ketika Belanda masih menjadi penjajah Indonesia. "Kerjasama kemanusiaan itu sudah terjalin sejak dulu," tegasnya.
Selain layanan kesehatan, Muhammadiyah sejak pra‑kemerdekaan juga merencanakan pendirian perguruan tinggi, yang pada waktu itu disebut “universited”, sebuah gagasan yang digagas oleh Kiai Hisyam.
Hingga kini, setelah 114 tahun eksistensi, Muhammadiyah terus memberikan kontribusi di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi, tanpa mengubah identitasnya menjadi organisasi politik.