Al-Ma'un
Lazismu Jawa Timur Gemilang dengan 9 Penghargaan Nasional di Muhammadiyah Zakat Summit 2026

Lazismu Jawa Timur Gemilang dengan 9 Penghargaan Nasional di Muhammadiyah Zakat Summit 2026

Lazismu Jawa Timur mencetak prestasi gemilang dengan mengamankan sembilan penghargaan nasional pada ajang Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang diselenggarakan di Semarang pada 6 November 2026.

Beragam Program Raih Pengakuan Nasional

Kesuksesan tersebut berasal dari rangkaian inisiatif di bidang pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, serta kreativitas dalam penghimpunan zakat, infak, dan sedekah. Program Go Green School dinobatkan sebagai Program Lingkungan Terbaik, sementara Pena Cita (Pendampingan Edukasi Anak Asuh Meraih Cita‑Cita) meraih penghargaan di kategori Pendidikan.

Di sektor kesehatan, inisiatif Sigap Sehat (Sinergi Gerakan Akses Pelayanan Kesehatan) memperoleh gelar Program Kesehatan Terbaik. Program ekonomi keluarga Bunda Tangguh berhasil mengamankan penghargaan Program Ekonomi Terbaik.

Untuk kreativitas penghimpunan, dua karya yakni Bercerita untuk Asa dan Bintang Pengasuh 2026 masuk nominasi, menampilkan pendekatan inovatif yang dekat dengan masyarakat.

Bankziska Naik Kelas Menang Pilar Ekonomi Terbaik

Di antara semua nominasi, program Bankziska Naik Kelas keluar sebagai pemenang Pilar Ekonomi Terbaik Nasional. Dengan slogan “Memutus Rantai Rentenir, Memutar Rantai Kebaikan”, program ini menyalurkan bantuan keuangan berbasis zakat, infak, shadaqah, dan dana sosial keagamaan lainnya untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada rentenir.

Penghargaan Amil Terbaik Nasional

Kuswantoro, amil dari Lazismu Lumajang, juga mendapatkan penghargaan Amil Terbaik Nasional peringkat kedua, menegaskan pentingnya peran amil yang kompeten dalam mengelola dana filantropi Islam.

Makna Lebih Besar di Balik Penghargaan

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa gerakan zakat tidak hanya terbatas pada pengumpulan dan penyaluran dana, melainkan juga meliputi inovasi program, penguatan kelembagaan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Dengan sembilan penghargaan nasional, Lazismu Jawa Timur mempertegas kontribusinya dalam memperluas dampak filantropi Islam bagi masyarakat luas.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Buku 'Jejak Amil' Soroti Jurnalistik Filantropi di Muhammadiyah Zakat Summit 2026

Buku 'Jejak Amil' Soroti Jurnalistik Filantropi di Muhammadiyah Zakat Summit 2026

Yekti Pitoyo memperkenalkan buku terbarunya, Jejak Amil: Catatan Jurnalistik Filantropi, di stan Lazismu Jawa Timur pada pameran Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang berlangsung di halaman Hotel Dafam, Semarang, Jumat 7 November 2026.

Yekti Pitoyo berbincang dengan pembeli
Yekti Pitoyo (tengah) berbincang dengan seorang pengunjung Lazismu Magelang yang membeli Jejak Amil di stan Lazismu Jawa Timur.

Amir, Anak 7 Tahun yang Membuka Jalan Filantropi

Pada 14 November 2025, Muhammad Amjad Amir berusia tujuh tahun pertama kali memakai sepatu ortopedi berpenyangga besi yang membuatnya berdiri lebih tegak. Kisah perbaikan kesehatannya kemudian menjadi salah satu rangkaian cerita yang dikumpulkan Yekti dalam bukunya.

Setelah hampir setahun menjalani fisioterapi dan terapi okupasi, Amir kini dapat berdiri lebih lama tanpa jatuh, menandai keberhasilan kolaborasi antara Lazismu Sidoarjo, rumah sakit, dan tim medis.

Silfia memperlihatkan buku Jejak Amil
Silfia (kanan) dari Lazismu Kalimantan Tengah memperlihatkan buku Jejak Amil yang baru dibelinya sambil berfoto bersama penulis.

Para Pembaca dan Dukungan dari Lazismu

Di antara pembeli buku tersebut ada Bonnie Febrian, amil Lazismu Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, yang menyatakan Yekti sebagai panutan dalam menulis dan menginspirasi amil-amir lain. Silfia dari Lazismu Kalimantan Tengah serta Regnal Falah, Ketua Lazismu Surakarta, juga hadir dan menandatangani buku di stan tersebut.

Pameran yang berlangsung 5–7 November 2026 merupakan bagian dari rangkaian Muhammadiyah Zakat Summit 2–8 November 2026, mempertemukan amil, pengelola zakat, dan masyarakat luas.

Isi Buku: Enam Bab Tentang Pengelolaan Zakat dan Filantropi

  • Amil Naik Level: Mengulas peningkatan kompetensi amil lewat data, pelatihan, dan peluang studi lanjutan.
  • Fundraising: Menjabarkan cara menggalang dana melalui kotak infak, kerja sama masjid, hingga infak nontunai seperti QRIS. Contohnya, gerakan Giswa Muda yang melibatkan 39 kepala sekolah Muhammadiyah di Sidoarjo.
  • Manajemen ZIS: Membahas pencatatan digital, pengukuran hasil program, serta inisiatif Bankziska Ponorogo yang memberikan pinjaman tanpa bunga bagi pedagang kecil.
  • Pemberdayaan Masyarakat: Menyoroti program modal, peralatan, dan pendampingan usaha untuk 40 UMKM di Sidoarjo.
  • Kurban dan Ketahanan Pangan: Menjelaskan proses penghimpunan kurban, pengolahan daging, dan inovasi rendang kemasan untuk distribusi lebih luas.
  • Berkah bagi Umat: Mengumpulkan kisah perbaikan rumah, bantuan bencana, pendampingan kesehatan, serta cerita Amir dan Karmini, perempuan yang mengemudikan ambulans pada masa Covid‑19.

Keuntungan Buku Didedikasikan untuk Anak Kurang Mampu

Yekti menegaskan bahwa sebagian laba penjualan Jejak Amil akan dialokasikan untuk bantuan susu bagi anak dengan gizi buruk serta seragam sekolah bagi anak-anak di desa terpencil.

Harga prapesan buku ditetapkan Rp75.000 per eksemplar dan dapat dipesan melalui WhatsApp 0821‑4004‑1912.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Muhammadiyah Tekankan Agroekologi untuk Menjaga Kedaulatan Pangan dan Lingkungan

Muhammadiyah Tekankan Agroekologi untuk Menjaga Kedaulatan Pangan dan Lingkungan

Peningkatan output pangan yang mengabaikan keberlanjutan ekosistem dapat menimbulkan tantangan baru bagi kesejahteraan masyarakat. Karena itu, Muhammadiyah menempatkan keseimbangan lingkungan dan pendekatan pertanian agroekologi sebagai komponen utama dalam pengembangan fikih kedaulatan pangan.

Keseimbangan Ekologis dalam Fikih Pangan

Moh. Shoehada, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyampaikan pandangannya pada Seminar Nasional Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah XXXIII yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (5 November). Ia menyoroti bahwa upaya mempercepat produksi pangan selama ini sering meninggalkan dampak ekologis yang signifikan.

Warisan Revolusi Hijau

Shoehada mengacu pada program Revolusi Hijau pada era Orde Baru, yang melalui serangkaian rencana lima tahunan hingga Pelita VI berhasil mengantarkan Indonesia mencapai swasembada beras pada 1984. Namun, intensifikasi yang diterapkan sekaligus menimbulkan konsekuensi terhadap lingkungan dan mengurangi keanekaragaman pangan.

Monokultur dan Ketergantungan pada Pupuk Kimia

Penggunaan bibit unggul secara masif menyebabkan banyak varietas lokal terpinggirkan bahkan terancam punah. Produksi yang terfokus pada satu komoditas, terutama beras, memunculkan pola monokultur. Di samping itu, pemakaian pupuk kimia secara berlebihan merusak struktur tanah dan menciptakan ketergantungan petani pada input tertentu.

Dampak Perkebunan Sawit

Fenomena serupa terlihat pada ekspansi perkebunan kelapa sawit yang mengakibatkan kerusakan hutan di sejumlah wilayah di luar Pulau Jawa. Pengalaman tersebut menegaskan bahwa keberhasilan produksi pangan harus dievaluasi bersama kapasitas dukung lingkungan.

Menuju Agroekologi

"Sistem pertanian yang harus kita kembangkan adalah agroekologi, yakni pertanian yang bersahabat dengan alam," ujar Shoehada.

Kerangka Konseptual Anthropocene dan Capitalocene

Dalam paparan tersebut, ia memperkenalkan konsep Anthropocene—zaman di mana aktivitas manusia menjadi faktor dominan bagi perubahan bumi—serta Capitalocene yang menekankan peran sistem kapitalis dan kepemilikan sumber daya oleh segelintir pemodal dalam memicu kerusakan lingkungan.

Khalifah dan Tanggung Jawab Lingkungan

Menurutnya, kerusakan planet tidak dapat dibebankan semata‑mata pada manusia secara umum; struktur kapitalisme dan kepemilikan sumber daya juga berperan. Ia mencontohkan ekspansi perkebunan berskala besar serta alih fungsi lahan subur untuk proyek infrastruktur sebagai manifestasi kepentingan modal yang mengancam keberlanjutan.

Perspektif ini harus dihubungkan dengan konsep Islam tentang manusia sebagai khalifah di bumi. Penafsiran ayat-ayat yang menekankan penundukan alam harus sejalan dengan kewajiban menjaga dan memulihkan ekosistem, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ar‑Rum ayat 41 yang memperingatkan bahaya kerusakan darat dan laut akibat perbuatan manusia.

Kesejahteraan Hewan dalam Fikih

Shoehada juga menekankan pentingnya etika terhadap hewan dalam produksi pangan. Ia mengingatkan bahwa manusia yang memperoleh manfaat dari hewan wajib memperlakukan mereka dengan baik, mengkritik praktik pemeliharaan paksa seperti penggemukan berlebih atau metode "sapi glonggongan" yang perlu mendapat perhatian dalam kajian fikih.

Metodologi Interdisipliner

isu tersebut, tim peneliti menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani sesuai Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Shoehada menekankan khususnya pendekatan burhani, yang mengintegrasikan kajian pertanian, hukum, ekologi, serta ekonomi politik.

Interdisipliner semacam ini dianggap krusial karena kebijakan pangan berhubungan erat dengan regulasi negara, tata kelola sumber daya alam, dan dinamika ekonomi yang memengaruhi kehidupan petani.

Catatan Akhir

Dengan menempatkan agroekologi dan tanggung jawab ekologis dalam kerangka fikih, Muhammadiyah berupaya memberikan panduan yang tidak hanya menjamin kedaulatan pangan tetapi juga melestarikan lingkungan bagi generasi mendatang.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Lazismu Dorong Filantropi Islam Berbasis Ilmu dan Data Menjelang 25 Tahun

Lazismu Dorong Filantropi Islam Berbasis Ilmu dan Data Menjelang 25 Tahun

Lazismu terus menorehkan jejak program sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat, sekaligus mengumpulkan berbagai penghargaan yang memacu semangatnya mengembangkan gerakan filantropi Islam secara berkelanjutan.

Symposium Muhammadiyah Zakat Summit 2026 di Semarang

Dalam sambutan pada acara Symposium Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang digelar di Hotel Dafam, Semarang, pada Jumat, 6 November 2026, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Imam Mujadid Rais, menegaskan bahwa tahun depan Lazismu akan merayakan usia 25 tahun. "Banyak jejak, banyak catatan, dan harapannya kami dapat memberikan kontribusi keilmuan di bidang filantropi Islam," ujarnya.

"Symposium ini bisa menegakkan kontribusi keilmuan secara akademis," kata Rais.

Rais menambahkan bahwa keberhasilan Lazismu telah menarik minat peneliti domestik maupun internasional yang ingin menelaah lebih dalam pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah serta program pemberdayaan yang dijalankannya. Simposium tersebut dijadikan platform untuk menjembatani praktik lapangan dengan kajian akademis.

Ia mengutip disertasi Hilda Salman Said dari Universitas Diponegoro yang berjudul "Menavigasi Polycentric Accountability: Studi Etnografi Akuntabilitas Pengelolaan Dana Lembaga Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah". Penelitian tersebut menyoroti bahwa akuntabilitas Lazismu tidak hanya terpaku pada regulasi syariah, melainkan juga mencakup tanggung jawab moral kepada muzaki dan mustahik.

Rais menekankan pentingnya pencatatan sistematis atas praktik‑praktik terbaik (best practice) dalam pengelolaan dana filantropi. "Kita membutuhkan eksekutif yang dapat merekam data secara akurat, sehingga ketika akademisi membutuhkan informasi, kita dapat menyediakan data yang valid dan reliable," jelasnya.

Menurut Rais, data yang dimiliki lembaga harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ia memperingatkan, "Banyak data yang ada belum diuji validitas dan reliabilitasnya; hal ini berisiko menghasilkan informasi alakadarnya. Saatnya mengintegrasikan gerakan filantropi dengan metodologi sosial yang canggih."

Dengan menggabungkan ilmu pengetahuan dan metodologi penelitian modern, pengelolaan zakat, infak, dan sedekah dapat bergerak melampaui pengalaman praktis semata, menuju landasan yang terukur, teruji, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Rais menutup pidatonya dengan harapan bahwa seluruh wilayah kerja Lazismu semakin menyadari pentingnya data dan ilmu dalam mengelola filantropi Islam yang progresif.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Lazismu Jawa Timur Raih 9 Penghargaan Nasional di Zakat Summit 2026, Bank Ziska Menang Pilar Ekonomi

Lazismu Jawa Timur Raih 9 Penghargaan Nasional di Zakat Summit 2026, Bank Ziska Menang Pilar Ekonomi

Lazismu Jawa Timur mengukir prestasi gemilang dengan mengumpulkan sembilan penghargaan tingkat nasional pada ajang Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang diselenggarakan di Semarang pada 6 November 2026.

Ragam Program yang Dinobatkan

Keberhasilan tersebut mencerminkan keragaman inisiatif lembaga, mulai dari bidang lingkungan, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga.

Program Go Green School memperoleh penghargaan sebagai Program Lingkungan Terbaik, menandai komitmen terhadap edukasi hijau di satuan pendidikan.

Di sektor pendidikan, inisiatif Pena Cita (Pendampingan Edukasi Anak Asuh Meraih Cita‑Cita) berhasil menjadi Program Pendidikan Terbaik, dengan fokus pada pendampingan akademik anak asuh.

Bidang kesehatan diwakili oleh Sigap Sehat (Sinergi Gerakan Akses Pelayanan Kesehatan), yang dinobatkan sebagai Program Kesehatan Terbaik karena upayanya memperluas jangkauan layanan medis bagi masyarakat yang membutuhkan.

Program ekonomi unggulan, Bunda Tangguh, meraih penghargaan Program Ekonomi Terbaik berkat pendekatan terpadu antara pemberdayaan ekonomi keluarga dan pemenuhan gizi.

Dua inisiatif kreatif, Bercerita untuk Asa dan Bintang Pengasuh 2026, masuk nominasi kategori Kreativitas Penghimpunan dan menunjukkan cara inovatif dalam menggalang zakat, infak, serta sedekah.

Bank Ziska Naik Kelas Raih Pilar Ekonomi Terbaik

Di antara sekian banyak nominasi, Program Bank Ziska Naik Kelas berhasil mengamankan penghargaan Pilar Ekonomi Terbaik Nasional. Dengan slogan “Memutus Rantai Rentenir, Memutar Rantai Kebaikan”, program ini berupaya menyediakan akses pembiayaan yang lebih adil, sehingga masyarakat dapat menjauhkan diri dari praktik pinjaman berbunga tinggi.

Penghargaan Amil Nasional

Kuswantoro, amil dari Lazismu Lumajang, memperoleh posisi kedua dalam kompetisi Amil Terbaik Nasional, menegaskan pentingnya peran amil yang kompeten dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah.

Keseluruhan sembilan penghargaan tersebut menegaskan bahwa gerakan zakat tidak hanya berpusat pada penghimpunan dan penyaluran dana, melainkan juga melibatkan inovasi program, penguatan kelembagaan, dan sumber daya manusia yang profesional.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Semeru Meletus, Tim Muhammadiyah Datang di Posko Bantuan - TAGAR.CO

Semeru Meletus, Tim Muhammadiyah Datang di Posko Bantuan - TAGAR.CO

Semeru meletus
Guguran lava dan awan panas Gunung Semeru difoto dari Desa Supiturang, Lumajang, Kamis 5/11/2026. (Tagar.co/Kuswantoro)

Semeru meletus lagi. Lahar dingin membanjiri aliran sungai seperti di Kali Glidikan dan Besuk Kobokan. Enam rusak berat, jalan terkikis,  dan warga mengungsi.

Tagar.co – Gelap malam menyelimuti bantaran Kali Glidik di Dusun Pasirejo, Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, Rabu (4/11/2026). Kali Glidik termasuk yang diterjang banjir aliran lahar Gunung Semeru ketika meletus pas awal bulan November.

Malam itu rombongan Muhammadiyah Lumajang melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lazismu, dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tempursari tiba di lokasi.

Di tengah kondisi yang sudah tidak ada aktivitas normalisasi sungai dari aliran lahar, rombongan langsung menuju Posko Kali Glidik untuk menyerahkan bantuan sembako kepada para relawan sekaligus melihat kondisi sungai yang beberapa hari sebelumnya diterjang banjir lahar dingin.

Karena waktu sudah malam, peninjauan lebih detail terhadap kondisi lapangan dilanjutkan pada keesokan harinya. Tim Muhammadiyah kemudian melakukan asesmen untuk memastikan kondisi masyarakat terdampak banjir lahar sekaligus memetakan kebutuhan penanganan pascabencana.

Banjir lahar dingin Kali Glidik terjadi pada Ahad malam (1/11/2026). Bencana tersebut berdampak pada sejumlah rumah warga dan mengikis badan jalan di wilayah Dusun Pasirejo, Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari.

Sebagai bagian dari penanganan darurat, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas mengerahkan tiga ekskavator yang tiba pada Senin malam (2/11/2026) untuk mendukung proses normalisasi sungai serta penanganan aliran material akibat banjir.

Dalam kegiatan asesmen dan koordinasi tersebut, tim Muhammadiyah diterima oleh unsur pemerintah dan masyarakat setempat, di antaranya Ketua RT 02, Ketua RW 07, Danramil Tempursari, serta Camat Tempursari.

Camat Tempursari, Rondy Henrianto, S.Kep., Ns., menyampaikan, banjir menyebabkan enam rumah rusak berat serta mengikis badan jalan. Sebanyak 23 kepala keluarga di Dusun Pasirejo dan dua kepala keluarga di Dusun Tamansari terdampak akibat kejadian tersebut.

“Enam rumah rusak berat, jalan terkikis air, warga terdampak 23 KK di Dusun Pasirejo dan 2 KK di Dusun Tamansari. Tidak ada korban jiwa. Banjir terjadi tiap tahun,” ungkap Rondy.

Ketua MDMC Lumajang, Muhammad Yusuf Hidayatulloh, mengatakan, kehadiran Muhammadiyah di lokasi tidak hanya untuk memberikan dukungan kepada para relawan yang terlibat dalam penanganan bencana, tetapi juga memastikan kondisi warga Persyarikatan dan amal usaha Muhammadiyah di sekitar wilayah terdampak.

“Selain kita memberikan dukungan kepada para relawan yang melakukan penanganan Kali Glidik, kehadiran kami juga untuk memastikan apakah ada warga Persyarikatan maupun amal usaha Muhammadiyah yang terdampak atau tidak,” ujarnya.

Menurut Yusuf, hasil asesmen menjadi bagian penting dalam penyampaian laporan kepada pimpinan Persyarikatan di berbagai tingkatan.

“Alhamdulillah semuanya aman. Ini menjadi laporan kami kepada para pimpinan Persyarikatan di semua level agar kondisi di lapangan dapat diketahui dan langkah yang diperlukan bisa dipersiapkan,” katanya.

Tim Muhammadiyah Lumajang datang ke Posko Kali Glidik membantu warga terdampak banjir lahar. (Tagar.co/Kuswantoro)

Pantau Aktivitas Gunung Semeru

Selain melakukan asesmen dampak banjir Kali Glidik, MDMC Lumajang juga terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Semeru yang kembali erupsi pada Kamis (5/11/2026).

Muhammad Yusuf Hidayatulloh menyampaikan, berdasarkan laporan kebencanaan, sejak dini hari terjadi rentetan erupsi dan awan panas guguran (APG) dengan jarak luncur terjauh mencapai sekitar 4.500 meter ke arah tenggara melalui Besuk Kobokan.

“Tim BPBD Kabupaten Lumajang telah melakukan langkah mitigasi dengan membunyikan sirene peringatan dini dan melakukan evakuasi terhadap pekerja yang berada di sekitar aliran sungai. Sampai saat ini kondisi masih aman terkendali dan belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan permukiman,” jelasnya.

Dalam penanganan infrastruktur akibat aktivitas vulkanik dan aliran material Gunung Semeru, sejumlah pekerjaan darurat juga terus dilakukan oleh BBWS Brantas.

Di wilayah Sumbersari, perbaikan tanggul telah mencapai sekitar 30 meter dari total rencana 45 meter. Sementara di Tempursari dilakukan penanganan tanggul darurat dan pengalihan alur sungai sepanjang 600 meter. Adapun di Sumberlangsep, pembangunan tanggul darurat sepanjang 400 meter telah selesai, sedangkan pengerjaan jalan darurat mencapai 50 meter dari target 180 meter.

Yusuf mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada karena Gunung Semeru masih berstatus Level III (Siaga).

“Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak. Di luar kawasan tersebut juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai karena masih terdapat potensi bahaya,” ujarnya.

Melalui asesmen, bantuan kemanusiaan, dan koordinasi lintas pihak, Muhammadiyah Lumajang berkomitmen terus hadir dalam setiap situasi kebencanaan. Sinergi antara relawan, pemerintah, dan masyarakat menjadi kekuatan bersama dalam menghadapi bencana serta mempercepat proses pemulihan. (#)

Jurnalis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto

102

Foto Tagar


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Siswa Baratajaya Goyang Festival Jepang, Guru dari Jepang Ikut Bernyanyi

Siswa Baratajaya Goyang Festival Jepang, Guru dari Jepang Ikut Bernyanyi

Enam murid Sekolah Kreatif Baratajaya menampilkan lagu populer Jepang “Blue Bird” dan “Doraemon” pada acara Bunka Shokai Festival yang diselenggarakan di Surabaya pada Kamis, 5 November 2026.

Oono Aya Sensei, pendidik tamu asal Jepang, turut menyanyikan bersama para siswa. Kelompok vokal yang terdiri dari Alia Hanania Zahira, Raisyah Ayundia Inara, Ihza Humaira Qoriannisa, Raih Harmonia Ilmi, Afina Aira Aulia Azzarin, dan Adar Odelina Zahra kemudian diikuti oleh siswa kelas IV dan V lainnya.

Sebelum penampilan musik, para peserta mempersembahkan tarian Yosakoi yang energik, menandai dimulainya festival bertema “Sehari Belajar Bersama Nihongo Partner”.

Acara dimulai pukul 08.30 WIB di halaman sekolah. Earth Sofie Arismala (kelas IV) dan Razqa Putra Rheandra (kelas V) menjadi pembawa acara, menyapa penonton dalam bahasa Jepang dan Indonesia dengan sapaan “Minna‑san! Genki desu ka?”.

Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ely Rhodlifah, S.H., M.Pd., menyambut Aya Sensei dalam dua bahasa, berharap kehadiran tamu tersebut dapat memperluas wawasan budaya siswa.

Retno Sensei, guru bahasa Jepang di sekolah, menjelaskan bahwa festival ini menyajikan rangkaian kegiatan mulai dari kerajinan tangan, kuliner, tarian tradisional, hingga musik Jepang.

Membuat Pembatas Buku dan Memasak Hidangan Jepang

Setelah tarian dan musik, Aya Sensei bersama Retno Sensei memandu siswa membuat pembatas buku bergambar boneka khas Jepang. Selanjutnya, siswa kelas IV belajar membuat onigiri di bawah bimbingan Bu Rimby Novitasari, S.Pd., sementara siswa kelas V mempraktikkan takoyaki bersama Bu Ajeng Putri Wulan Ayu, S.Pd.

“Saya suka praktik memasak, seru sekali,” ungkap Aisyah Ayudia Inara Jusuf, siswi kelas V.

Dian Permanasari, S.Sos., koordinator guru kelas V, menambahkan bahwa festival berlangsung hingga pukul 11.30 WIB dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk merasakan seni, musik, kerajinan, serta kuliner Jepang secara menyenangkan.

Acara ditutup dengan kembali bernyanyinya siswa, foto bersama, dan makan bersama sebagai penanda kebersamaan.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Prof Hilman Dorong Integrasi ESG dalam Filantropi Islam Berkelanjutan

Prof Hilman Dorong Integrasi ESG dalam Filantropi Islam Berkelanjutan

Filantropi Islam yang mengedepankan keberlanjutan kini mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dengan nilai-nilai maqashid syariah, sebagaimana diungkapkan Prof. Hilman Latief, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, dalam sambutan di Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang digelar di Semarang pada 6 November 2026.

Filantropi Islam
Bendahara PP Muhammadiyah Hilman Latief menyampaikan materi pada Zakat Summit.

Dalam presentasinya yang berjudul “Penguatan ESG dan Filantropi Islam Berkelanjutan”, Prof. Hilman menekankan perlunya lembaga zakat dan filantropi Islam, termasuk Lazismu, bertransformasi menjadi entitas yang lebih profesional, transparan, dan berorientasi pada dampak jangka panjang.

Empat Strategi Penguatan Filantropi Islam

1. Integrasi ESG dengan Filantropi Islam – Lembaga zakat harus menyelaraskan standar keberlanjutan internasional dengan tujuan maqashid syariah, sehingga penyaluran dana tidak hanya fokus pada bantuan material tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.

2. Inovasi Pembiayaan Sosial Islam – Pengembangan skema seperti blended finance dan sukuk hijau diharapkan dapat membuka sumber dana baru untuk program sosial‑ekologis yang berkelanjutan.

3. Standardisasi Pengukuran Dampak – Lazismu perlu memperluas basis donor dan investor sekaligus menetapkan metrik yang mengukur outcome dan impact, bukan sekadar output.

4. Pencegahan Greenwashing dan Ethics‑washing – Lembaga harus memastikan klaim keberlanjutan dan etika dapat dipertanggungjawabkan melalui audit yang independen.

5. Penguatan Audit dan Tata Kelola – Audit syariah harus dijalankan beriringan dengan audit ESG untuk menjamin transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap nilai etika.

PSB PPIC eLKISI 2026-2027

Tiga Agenda Transformasi Lazismu 2027‑2037

Strategi di atas selaras dengan rencana transformasi Lazismu selama 25 tahun ke depan, yang meliputi tiga agenda utama:

• Transformasi Kelembagaan – Meningkatkan profesionalisme manajemen, mempercepat digitalisasi, serta memperkuat tata kelola organisasi.

• Transformasi Pengukuran – Beralih dari fokus pada jumlah bantuan (output) ke penilaian hasil (outcome) dan dampak sosial yang nyata.

• Transformasi Keberlanjutan – Menggabungkan ESG, maqashid syariah, dan inovasi pembiayaan untuk memastikan program tetap relevan dan berdampak jangka panjang.

Bagi Lazismu Jawa Timur, tiga prioritas yang dapat dijadikan pedoman adalah:

  • Impact‑Based Philanthropy – membangun sistem pengukuran dampak berbasis data dan bukti empiris.
  • Sustainable Islamic Philanthropy – mengintegrasikan ESG dan maqashid syariah dalam perencanaan serta evaluasi program.
  • Based Governance – memperkuat keputusan melalui riset, digitalisasi, audit, dan evaluasi kelembagaan.

Penerapan pendekatan ini juga relevan bagi program Rendangmu, yang diharapkan dapat mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya, tata kelola kolaboratif, dan penciptaan nilai sosial.

Filantropi Islam
Peserta Muhammadiyah Zakat Summit di Semarang.

Dengan menegaskan bahwa dana zakat bukan sekadar bantuan yang disalurkan, melainkan amanah yang harus dikelola untuk menghasilkan perubahan berkelanjutan, Prof. Hilman mengajak semua lembaga filantropi Islam untuk memperkuat integrasi ESG sebagai landasan strategi ke depan.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Peringatan Qur'an atas Elite yang Menindas dan Dampaknya bagi Bangsa

Peringatan Qur'an atas Elite yang Menindas dan Dampaknya bagi Bangsa

Pembicara khotbah Jumat menegaskan bahwa keputusan seorang pemimpin dapat memengaruhi jutaan jiwa. Ia memperingatkan bahaya ketika kekuasaan, kekayaan, dan pengaruh dipergunakan untuk menindas rakyat serta memutarbalikkan keadilan.

Elite yang Durhaka dan Potensi Kehancuran Negara

Allah SWT berfirman dalam Surat Al‑Israʾ ayat 16, \"Apabila Kami hendak menimpa suatu negeri dengan kebinasaan, Kami perintahkan orang‑orang kaya di negeri itu agar taat, tetapi mereka tetap melakukan kezaliman, maka hukuman Kami menimpa negeri itu dan Kami hancurkan dengan segenap kekuatannya.\" (QS. Al‑Israʾ: 16). Para mufasir menjelaskan bahwa bukan harta itu yang menjadi penyebab, melainkan kedurhakaan setelah perintah Allah. Karena pengaruh mereka luas, kesalahan yang dilakukan elite dapat menular ke seluruh lapisan masyarakat.

Elite Sebagai Penentang Kebenaran

Surat Al‑An'am ayat 123 menyatakan, \"Kami menjadikan orang‑orang jahat terbesar di tiap negeri agar mereka menipu, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri.\" (QS. Al‑An'am: 123). Sejarah para nabi menunjukkan bahwa penentang dakwah sering berasal dari kalangan berkuasa yang takut kehilangan posisi. Tanpa iman yang mengendalikan, jabatan menumbuhkan kesombongan, dan harta menimbulkan keserakahan.

Ketidakadilan Hukum Membuat Bangsa Runtuh

\"Orang terhormat yang mencuri dibiarkan, sedangkan orang lemah yang mencuri dihukum.\" (HR. Bukhari dan Muslim). Ketika hukum diberlakukan berbeda berdasarkan status, kepercayaan publik tergerus dan masyarakat menjadi rapuh.

Contoh Fir’aun: Penguasa Zalim Tanpa Batas

QS. Al‑Qasas ayat 4 menggambarkan Fir’aun yang menindas, memecah‑belah, dan menebarkan kebinasaan. Empat ciri utama penguasa zalim tercermin di sini: kesombongan, politik memecah belah, penindasan terhadap lemah, serta pengorbanan manusia demi mempertahankan kekuasaan.

Kekayaan dan Kedudukan Tidak Menjamin Keselamatan Akhirat

Surat Sabaʾ ayat 37 menegaskan, \"Bukan harta atau anak-anak yang mendekatkan kalian kepada Kami, melainkan orang beriman yang beramal saleh.\" (QS. Sabaʾ: 37). Kedudukan tinggi tidak otomatis memberi keutamaan di sisi Allah; iman, takwa, dan amal adalah ukuran sejati.

Tanggung Jawab Masyarakat Melawan Kezaliman

Al‑Anfal ayat 25 memperingatkan, \"Waspadalah dari azab yang tidak hanya menimpa orang zalim saja.\" (QS. Al‑Anfal: 25). Setiap Muslim wajib menegakkan kebenaran dengan ilmu, hikmah, dan keadilan, tanpa membiarkan kezaliman berlanjut hanya karena pelakunya kaya atau berpengaruh.

Pelajaran Utama dari Khotbah

Pertama, kekuasaan adalah amanah, bukan hak untuk berbuat sewenang‑wenang. Kedua, harta harus dipakai untuk kemaslahatan, bukan penindasan. Ketiga, jangan pernah mendukung kezaliman; Allah melarang berpegang pada orang yang menzalimi. Seperti sabda Nabi, \"Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.\" (HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah memberikan kepada bangsa ini pemimpin yang adil, orang kaya yang dermawan, ulama yang berintegritas, dan rakyat yang menjunjung kebenaran.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co