Al-Ma'un
Mengenal Tiga Tahap Pemberdayaan Ekonomi: Dari Mustahik hingga Muzaki

Mengenal Tiga Tahap Pemberdayaan Ekonomi: Dari Mustahik hingga Muzaki

Tiga kuadran pemberdayaan mengilustrasikan lintasan ekonomi seseorang, mulai dari penerima zakat hingga menjadi pelaku usaha mandiri yang mampu menunaikan zakat.

Percakapan antara aktivis filantropi Yekti Pitoyo dan Lambang Saribuana, ketua Lazismu DKI Jakarta, membuka wawasan baru tentang bagaimana zakat dapat menjadi katalis perubahan sosial.

Tiga Kuadran: Langkah-Langkah Menuju Kemandirian

Kuadran pertama menampung mustahik, yaitu individu yang masih mengandalkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Di sini, dana zakat berperan penting sebagai jembatan keluar dari krisis, namun dukungan harus melampaui sekadar pemenuhan kebutuhan sesaat.

Kuadran kedua melibatkan pekerja atau karyawan yang memperoleh pendapatan rutin melalui kerja. Penghasilan ini menjadi fondasi bagi peningkatan taraf hidup, meski masih rentan bila pekerjaan terhenti.

Kuadran ketiga mencakup entrepreneur yang telah membangun usaha atau aset produktif. Pada tahap ini, uang mulai bekerja untuk dirinya, membuka peluang penciptaan lapangan kerja, dan membuka pintu bagi kemampuan menunaikan zakat secara sukarela.

Menggali Ukuran Keberhasilan Lazismu

Selama ini, keberhasilan program Lazismu sering diukur lewat jumlah dana yang disalurkan dan total penerima manfaat. Namun, pertanyaan kritis muncul: apakah mustahik yang menerima bantuan sudah mengalami kenaikan pendapatan, memperoleh pekerjaan, atau mendirikan usaha yang berkelanjutan?

Untuk menilai dampak sejati, Lazismu perlu memperhatikan indikator jangka panjang seperti peningkatan keterampilan, akses permodalan, dan penguatan jaringan pasar bagi para penerima manfaat.

Dari Penerima Manfaat Menjadi Penyumbang

Transformasi dari mustahik ke muzaki tidak terjadi dalam semalam. Setiap individu memiliki latar belakang dan tantangan ekonomi yang unik, sehingga program pemberdayaan harus disesuaikan—mulai dari pelatihan keterampilan, penempatan kerja, hingga pembinaan usaha kecil.

Pendekatan sosiopreneur menekankan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari profit, melainkan juga dari dampak sosial yang tercipta. Seorang pengusaha yang tumbuh dapat membuka peluang kerja bagi orang lain, memperkuat ekosistem ekonomi lokal, dan pada akhirnya berkontribusi kembali melalui zakat.

Menilai Dampak, Bukan Sekadar Penyaluran

Pertanyaan kunci yang diajukan dalam diskusi ini ialah: berapa banyak mustahik yang berhasil naik ke kuadran pekerja, berapa yang beralih menjadi entrepreneur, dan berapa yang kini menjadi muzaki aktif?

Menjawab pertanyaan tersebut memerlukan data longitudinal dan mekanisme pendampingan yang konsisten. Hanya dengan begitu, Lazismu dapat memastikan bahwa dana zakat, infak, dan sedekah tidak hanya menutup kebutuhan sementara, tetapi juga menumbuhkan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

Kesimpulannya, pemberdayaan melalui zakat harus dilihat dari perspektif transformasi jangka panjang, di mana penerima manfaat akhirnya mampu menghidupi diri sendiri, menciptakan peluang bagi orang lain, dan berperan aktif sebagai pemberi manfaat dalam masyarakat.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Tim Robotika SMK Mutu Gondanglegi Raih Juara 3 di Kompetisi R.O.A.R 2026 Malang

Tim Robotika SMK Mutu Gondanglegi Raih Juara 3 di Kompetisi R.O.A.R 2026 Malang

Tim M7 Robotics dari SMK Mutu Gondanglegi berhasil mengamankan posisi ketiga pada ajang R.O.A.R 2026, kompetisi robotika bergengsi yang digelar di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Latihan Intensif dan Tantangan di UIN Maliki

Acara tersebut berlangsung pada 1 November 2026 di Sport Center lantai dua Kampus III UIN Maliki, sebagai bagian dari rangkaian Reuni Akbar yang mempertemukan ribuan alumni dari berbagai generasi. Lebih dari seratus pelajar dari wilayah Malang dan sekitarnya, terbagi dalam 27 tim, bersaing dalam kategori Robot Sumo 1 kilogram.

Strategi Tim M7 Robotics

Tim yang dibentuk oleh tiga siswa kelas XI jurusan Mekatronika – Pradipa Radhitri Haryanto, Array Arasy Firdaus Kemal, dan Ronald Jeffry Sahanaya – mengandalkan gerakan cepat, dorongan presisi, dan taktik mengeluarkan lawan dari arena. Bimbingan mentor Dayane Parcelia, S.Pd., dan Dedy Romadon, S.T., membantu mereka menyempurnakan desain serta strategi sebelum bertarung.

Penghargaan dan Makna Prestasi

Setelah menembus babak final dan mengalahkan beberapa kompetitor kuat, M7 Robotics Team berhasil menutup kompetisi dengan medali perunggu. Ketua tim, Pradipa, menyatakan bahwa pengalaman ini mengasah kreativitas, kerja sama, serta ketajaman teknis dalam bidang robotika.

Menurut mentor Dedy Romadon, pencapaian ini mencerminkan kesiapan siswa SMK Mutu Gondanglegi dalam menghadapi tantangan industri modern, sekaligus menjadi contoh nyata penerapan ilmu teori dalam situasi kompetitif.

Harapan Kedepan

Prestasi peringkat tiga ini diharapkan dapat memotivasi siswa lain untuk terus mengeksplorasi inovasi teknologi, memperkuat kolaborasi tim, dan mengembangkan potensi di bidang robotika.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Ujian TKA Gelombang 2 di MA Muhammadiyah 02 Banyutengah: 29 Siswa Hadapi Teks Panjang dan Waktu Ketat

Ujian TKA Gelombang 2 di MA Muhammadiyah 02 Banyutengah: 29 Siswa Hadapi Teks Panjang dan Waktu Ketat

Sebanyak 29 siswa MA Muhammadiyah 02 (Mamuda) Banyutengah melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 gelombang kedua selama empat hari, dari 2 hingga 5 November 2026. Ujian dilaksanakan secara daring di lingkungan madrasah menggunakan komputer masing‑masing.

Rangkaian Ujian Dua Sesi Setiap Hari

Setiap hari ujian terbagi menjadi dua sesi: sesi pertama dimulai pukul 07.00 hingga 08.45 WIB, sedangkan sesi kedua berlangsung pada pukul 09.30 hingga 11.15 WIB. Suasana ruang ujian terasa tenang dan tertib, dengan para peserta fokus menatap layar untuk menyelesaikan soal dalam batas waktu yang telah ditentukan.

tantangan Membaca Teks Panjang

Laila Mahesa Jenar, salah satu peserta, mengakui bahwa banyaknya teks bacaan yang panjang menjadi hambatan utama. Karena waktu terbatas, ia harus membaca cepat namun tetap memahami isi secara akurat. "Meskipun sulit, TKA ini melatih kami menjadi lebih teliti dan berpikir kritis," ujarnya.

Pengalaman tersebut menegaskan bahwa TKA tidak hanya menguji pengetahuan akademik, melainkan juga mengasah literasi, ketelitian, dan manajemen waktu dalam menjawab soal.

Harapan Kepala Madrasah untuk Masa Depan

Kepala MA Muhammadiyah 02 Banyutengah, Rusiyan, M.Pd., menyatakan harapannya agar para siswa yang telah menerima bimbingan intensif dapat meraih hasil optimal. Ia menekankan pentingnya hasil TKA sebagai bekal bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi impian mereka.

"Semoga anak‑anak yang kita bimbing dapat memperoleh hasil terbaik dan melanjutkan ke perguruan tinggi yang mereka idam‑idamkan," kata Rusiyan.

Melalui pelaksanaan TKA ini, diharapkan siswa semakin siap menghadapi tantangan pendidikan selanjutnya dan mampu mengembangkan potensi secara maksimal.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Ajudan Wakil Bupati Gresik Berbagi Tips Remaja di SD Almadany

Ajudan Wakil Bupati Gresik Berbagi Tips Remaja di SD Almadany

Bripka Angga Triprasetyo, S.H., anggota Unit 1 Satuan Intelijen dan Keamanan Polres Gresik, tampil sebagai Guest Teacher pada kegiatan edukasi di SD Almadany, Kedanyang, Gresik, Selasa 3 November 2026. Dalam sesi tersebut ia memberikan materi bertema “Mengenal Dunia Remaja: Pergaulan, Tantangan, dan Kesadaran Hukum” kepada 106 siswa kelas V dan VI.

Bripka Angga Triprasetyo mengajar siswa
Bripka Angga Triprasetyo menyampaikan materi tentang pergaulan remaja dan kesadaran hukum di SD Almadany.

Acara dibuka dengan pertanyaan sederhana, “Apa yang dimaksud dengan kenakalan remaja?” Salah satu siswa, Muhammad Khalif Sakha, menjawab bahwa kenakalan adalah “remaja yang melakukan pelanggaran.” Angga kemudian menambah, “Kenakalan adalah perilaku buruk yang melanggar aturan dan dapat merugikan diri sendiri serta orang lain.”

Sebagai aide pribadi Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, Angga menekankan pentingnya kejujuran dan kedisiplinan sebagai pondasi masa depan yang gemilang. “Jadilah anak yang disiplin, jujur, dan berintegritas,” pungkasnya.

Empat Perilaku yang Harus Dihindari

  1. Bullying atau perundungan: mengolok‑olok, menghina, atau mengucilkan teman harus dihentikan. “Sayangi sesama, jangan menyakiti teman,” ia menasihati.
  2. Kekerasan dalam menyelesaikan konflik: “Jika ada masalah, bicarakan dengan baik atau minta bantuan guru,” tegasnya.
  3. Penggunaan gadget berlebihan: “Batasi waktu bermain HP, manfaatkan gadget untuk hal positif dan tetap di bawah pengawasan orang tua.”
  4. Menyontek atau mencuri barang orang lain: “Kejujuran itu keren; menyontek hanya akan menurunkan nilai dan membuat orang tua sedih.”

Tujuh Kebiasaan Anak Hebat

  • Rajin beribadah.
  • Hormat kepada orang tua dan guru.
  • Memilih pertemanan yang baik.
  • Belajar dan membaca secara konsisten.
  • Bijak dalam penggunaan gadget.
  • Berani menolak ajakan negatif.
  • Melaporkan tindakan berbahaya kepada guru atau orang tua.

Pesan Penutup dari Kepolisian

Angga menutup sesi dengan seruan motivasi, “Jadilah generasi yang disiplin, jujur, dan berani membela kebenaran.” Ia menegaskan bahwa masa depan cerah dimulai dari tindakan positif hari ini, mengajak siswa menjadi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, dan mencintai tanah air.

Bripka Angga memberikan edukasi
Bripka Angga Triprasetyo membekali 106 siswa SD Almadany dengan edukasi tentang pencegahan kenakalan, pentingnya kejujuran, dan penggunaan gadget yang bijak.

📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
50 Siswa SD Muhammadiyah 10 Belajar Bahasa Inggris Bersama Native Speaker di Mangrove Gunung Anyar

50 Siswa SD Muhammadiyah 10 Belajar Bahasa Inggris Bersama Native Speaker di Mangrove Gunung Anyar

Di kawasan hutan mangrove Gunung Anyar, Surabaya, 50 siswa kelas dasar SD Muhammadiyah 10 menorehkan pengalaman belajar bahasa Inggris secara langsung bersama dua penutur asli.

Persiapan dan Semangat Awal

Ketua sekolah, M. Khoirul Anam, M.Pd.I., membuka kegiatan pada Sabtu, 31 Oktober 2026 dengan memberi arahan agar siswa tidak takut berbuat kesalahan ketika berbicara dengan native speaker. Ia menekankan pentingnya mencoba, berlatih, mendengarkan, dan berani berbicara dalam proses pembelajaran.

Kolaborasi dengan Penutur Asli

Acara dipandu oleh Grady Ryan Mitchell, seorang native speaker asal Los Angeles yang juga mengajar di Universitas Brawijaya, Malang, serta Ahmed Jelassi, mahasiswa asal Tunisia. Kedua narasumber menyajikan materi dasar “Greetings” serta “What Are You Wearing Today?” sehingga peserta dapat melatih kemampuan memperkenalkan diri dan mendeskripsikan pakaian dalam bahasa Inggris.

Suasana Belajar di Alam Terbuka

Dengan bus sekolah yang disediakan berkat kerja sama Dinas Perhubungan Kota Surabaya, siswa tiba di lokasi dan langsung terlibat dalam dialog interaktif di bawah kanopi pepohonan mangrove. Beberapa anak menjawab dengan lancar, sementara yang lain tersenyum malu namun tetap berani mengucapkan kalimat dalam bahasa Inggris.

Motivasi Global dan Keterlibatan Digital

Ahmed Jelassi menekankan bahwa penguasaan bahasa Inggris membuka akses ke dunia digital, media sosial, serta peluang karier internasional. Ia menambahkan bahwa belajar bahasa tidak harus terbatas pada ruang kelas; kegiatan di rumah seperti mendengarkan lagu, menonton kartun, atau film juga dapat menjadi sarana yang menyenangkan.

Permainan Edukasi dan Penghargaan

Setelah sesi dialog, panitia menyelenggarakan berbagai permainan edukatif dan memberikan doorprize kepada siswa yang berhasil menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris, menambah semangat kompetisi positif.

Tujuan Jangka Panjang

Melalui inisiatif ini, SD Muhammadiyah 10 berupaya menumbuhkan rasa percaya diri dalam berkomunikasi, memperluas wawasan global, dan menanamkan kepedulian lingkungan pada generasi muda.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Empat Siswi SD Muhammadiyah 16 Surabaya Bawa Inovasi Deteksi Sesak Napas ke Panggung Internasional di UB Malang

Empat Siswi SD Muhammadiyah 16 Surabaya Bawa Inovasi Deteksi Sesak Napas ke Panggung Internasional di UB Malang

Empat murid kelas akhir Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya kembali menorehkan prestasi setelah sukses meraih medali perak pada Japan Design Idea and Invention Expo (JDIE) di Osaka. Pada 3 November 2026, Leanna Sharisa Chafid, Noura Malia, Queenalesha Orlin Ramadhani, dan Nasyitha Aqila Humaira mempersembahkan alat deteksi sesak napas berjudul ASEK di Universitas Brawijaya, Malang, dalam rangka National Youth Invention and Innovation Award (NYIIA) serta World Youth Invention and Innovation Award (WYIIA) 2026.

Kompetisi Internasional di Malang

Acara yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya berlangsung secara luring dari 2 hingga 5 November 2026. Keempat siswi memperkenalkan ASEK: Shortness of Breath Detector di hadapan juri dan peserta dari berbagai daerah serta negara.

Guru Pendamping dan Dukungan Sekolah

Sofwan Hidayat, M.Pd., selaku guru pembimbing menjelaskan bahwa kompetisi ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk menampilkan hasil eksperimen dan menguji kemampuan mereka di panggung internasional. “Mereka dapat menunjukkan gagasan dan kreativitasnya di depan dewan juri serta peserta dari seluruh dunia,” ujarnya.

Ely Rhodlifah, S.H., M.Pd., kepala Sekolah Kreatif, menegaskan bahwa sekolah selalu memberikan ruang bagi setiap siswa untuk mengembangkan potensi. “Pengalaman berkompetisi di tingkat internasional menjadi bekal penting bagi mereka untuk menyampaikan inovasi yang telah dikembangkan,” katanya.

Active Learning dalam Praktik

Heru Tjahyono, Ketua Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS), memandang keberhasilan keempat siswi sebagai wujud nyata slogan sekolah “Aktif Anaknya Kreatif Sekolahnya”. Ia menambahkan, “Semangat tersebut sejalan dengan konsep Active Learning, di mana pembelajaran harus kontekstual dan melibatkan siswa secara aktif, tidak hanya dalam akademik tetapi juga dalam kegiatan non‑akademik.”

Menurutnya, keberhasilan Leanna, Noura, Queenalesha, dan Aqila merupakan contoh konkret output pembelajaran yang menekankan eksperimen dan inovasi.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Siswa Inklusi TK Aisyiyah 1 Probolinggo Sambut Juri Anugerah Inklusif V dengan Selendang Batik

Siswa Inklusi TK Aisyiyah 1 Probolinggo Sambut Juri Anugerah Inklusif V dengan Selendang Batik

Empat anggota dewan juri Anugerah Inklusif V “Aku Anak Hebat” Kota Probolinggo mengunjungi TK Aisyiyah 1 pada pagi hari Jumat, 30 Oktober 2026. Kedatangan mereka pada pukul 08.00 WIB disambut hangat oleh empat siswa inklusi yang mempersembahkan selendang batik sebagai tanda penghormatan.

“Ada yang unik saat empat anggota dewan juri menilai TK Aisyiyah 1, sebuah selendang batik dikalungkan oleh siswa inklusi kepada para juri,” ujar salah satu saksi.

Tim juri terdiri atas Sri Utami Ratna Ningrum, S.Pd., M.Pd.; Kurniawati Indayanah, S.Pd., M.M.; Susi Suhartami, S.Pd., M.M.; serta Fian Arie Irawan, S.A.P., yang semuanya mewakili Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo.

Setelah penyambutan, juri dibawa ke ruang guru untuk menyimak presentasi Kepala PAUD TK Aisyiyah 1, Aryzana Maharanny, M.Pd., bersama Guru Pendamping Khusus (GPK) Safitri Dua Pramita, M.Pd. MC acara dipandu oleh Fian Arie Irawan.

Pertunjukan khusus disampaikan oleh salah satu anak inklusi, Ken Raditya Pamungkas dari kelompok B2, yang membacakan hafalan Surah Al‑Qariah dari Al‑Qur’an.

Kerjasama dalam Pendidikan Inklusi

Safitri Dua Pramita menekankan bahwa keberhasilan kelas inklusi bukanlah tanggung jawab tunggal GPK, melainkan hasil kolaborasi antara guru kelas, tenaga kependidikan, dan pendamping khusus. Ia menambahkan, “Semua pihak harus memiliki rasa kepedulian untuk mendidik dan membina siswa inklusi.”

Selama penilaian, dua juri melakukan observasi langsung di kelas bridging serta kegiatan ekstrakurikuler yang berlangsung pada hari itu, sementara dua juri lainnya memeriksa administrasi dan berkas-berkas pendukung program inklusi.

Acara penilaian ditutup dengan sesi ramah tamah yang dihadiri perwakilan Pimpinan Daerah Aisyiyah, Kepala PAUD, serta Guru Pendamping Khusus, menandai komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan inklusi di wilayah Probolinggo.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Muhadjir Effendy Tegaskan Peran Sentral Wanita dalam Lagu Aisyiyah dan Sang Surya

Muhadjir Effendy Tegaskan Peran Sentral Wanita dalam Lagu Aisyiyah dan Sang Surya

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menekankan bahwa lirik Mars “Aisyiyah” mengandung seruan bagi para kader untuk berkontribusi pada kepentingan bangsa, menegaskan bahwa peran perempuan melampaui urusan rumah tangga.

Ia mengutip baris “Membina harkat kaum wanita, menjadi tiang utama negara” dan menambahkan bahwa frase tersebut menjadi landasan bagi wanita Muslim yang progresif untuk aktif dalam perjuangan kebangsaan.

Lirik selanjutnya, “Menjadi tiang utama negara”, dipakai sebagai pengingat bahwa keberhasilan sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh upaya perempuan dalam membentuk martabat dan mendidik generasi penerus.

Keterkaitan dengan Lagu “Sang Surya”

Muhadjir menegaskan bahwa Mars “Aisyiyah” tidak dapat dipisahkan dari lagu “Sang Surya”. Kedua karya musik itu saling melengkapi: “Sang Surya” mengokohkan tauhid, sementara “Aisyiyah” menggerakkan semangat perjuangan.

“Setelah tauhid kuat dalam lagu Sang Surya, barulah perjuangan Aisyiyah muncul, menegaskan perempuan sebagai tiang negara,” ujarnya pada Sabtu, 31 Oktober, dalam rangka Tabligh Akbar 114 Muhammadiyah yang dilaksanakan di PCM Sukolilo, Surabaya.

Pernyataan itu selaras dengan pepatah lama yang menyebut perempuan sebagai pilar utama sebuah peradaban. Menurut Muhadjir, kedua unsur tersebut—ketauhidan yang bersumber dari Islam dan semangat nasionalisme—harus berjalan bersamaan dalam upaya Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Dalam pandangannya, amal baik dan peran sosial tidak diukur dari gender, melainkan dari tingkat iman dan takwa seseorang di mata Allah SWT.

Analisis tambahan menunjukkan bahwa sinergi antara nilai‑religius dan nasionalisme yang diusung lewat musik ini dapat memperkuat identitas kolektif umat Islam Indonesia, sekaligus memberi ruang bagi perempuan untuk mengaktualkan peran mereka secara lebih luas.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Lazismu Gelar Pelatihan & Sertifikasi Amil 2026, Tingkatkan Profesionalitas dan Transparansi Zakat

Lazismu Gelar Pelatihan & Sertifikasi Amil 2026, Tingkatkan Profesionalitas dan Transparansi Zakat

Profesi amil kini diharuskan memenuhi standar kompetensi yang dibuktikan melalui sertifikasi, sebagai jaminan kredibilitas dan akuntabilitas dalam pengelolaan zakat di tanah air.

Lazismu, dengan jaringan amil yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, berupaya memperkuat kapabilitas sumber dayanya lewat serangkaian pelatihan dan proses sertifikasi yang selaras dengan standar nasional BNSP.

Pelatihan dan Sertifikasi Amil BNSP Lazismu 2026

Acara tersebut berlangsung pada 2‑5 November 2026 di Hotel Candi Indah, Semarang, Jawa Tengah, menampilkan 121 peserta yang mewakili berbagai wilayah Lazismu. Tema yang diusung adalah “Amil Kompeten, Lembaga Unggul, Zakat Berdampak”.

Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, menegaskan bahwa peran amil tercatat dalam Al‑Qur’an dan bahwa kompetensi tinggi sangat diperlukan untuk mengoptimalkan fungsi mereka.

Rais juga menyampaikan bahwa, menurut laporan setengah tahun kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah, masih diperlukan dorongan lebih bagi amil Lazismu agar melanjutkan proses sertifikasi.

"Secara nasional sudah terdapat 147 amil bersertifikat. Di Lazismu Pusat, jumlah yang tersertifikasi meningkat dari 49 menjadi 121 orang," ungkapnya.

Ia menambahkan, standar kompetensi yang teruji akan mempercepat gerakan zakat di Indonesia, memungkinkan amil memanfaatkan data sebagai dasar penyusunan strategi.

"Data menjadi kunci dalam merancang program penghimpunan dan pendistribusian. Amil yang kompeten dan dipercaya donor mampu memberikan laporan yang transparan," tambahnya.

Selama pelatihan, peserta memperoleh materi tentang fikih zakat menurut tarjih, kajian kritis fikih zakat, zakat eksekutif, serta teknik membangun hubungan persuasif dengan donatur.

Topik lain yang dibahas meliputi penyusunan dan pemantauan program berdampak, pelaporan keuangan sesuai PSAK 409, serta pengelolaan sumber daya manusia dan manajemen lembaga. Sertifikasi mencakup dua klaster kompetensi: Pelaksanaan Pengumpulan Zakat dan Pelaksanaan Pendistribusian serta Pendayagunaan Zakat.

Proses asesmen dirancang melalui verifikasi portofolio, wawancara kompetensi, observasi demonstrasi, studi kasus, ujian tertulis, dan klarifikasi bukti kompetensi. Kegiatan ini berada di bawah koordinasi Badan Pengurus Lazismu Pusat, dilaksanakan oleh Lazismu Jawa Tengah, dan bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Muhammadiyah.

Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah, Dwi Swasana Ramadhan, menyoroti bahwa pertemuan lintas wilayah membuka peluang jaringan dan pertukaran pengalaman antar amil.

"Sekolah amil ini merupakan bagian dari rangkaian Muhammadiyah Zakat Summit (MZS). Selama tiga hari pelatihan dan satu hari asesmen, peserta diperkaya pengetahuan serta keterampilan untuk mengelola dana umat secara profesional dan bertanggung jawab," ujarnya.

Menurut Dodok Sartono, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, penting untuk menyelaraskan nilai Surah Al‑Ma’un dengan praktik manajemen modern.

Sartono menjelaskan bahwa Muhammadiyah memiliki struktur organisasi dan landasan keagamaan yang menjadi pedoman utama dalam menjalankan gerakan. "Pengelolaan zakat harus berlandaskan tiga pilar yang saling memperkuat: ilmu, amal, dan dakwah," tegasnya.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id