Peta tidak mengubah bentuk Bumi, melainkan cara kita memandangnya. Pilihan proyeksi yang dipakai dapat menyoroti atau menyamarkan ukuran wilayah, sehingga memengaruhi persepsi geografis publik.
PBB Dorong Pembaruan Proyeksi Peta
Pada 4 September, Majelis Umum Perserikatan Bangsa‑Bangsa menyetujui resolusi yang menganjurkan penggunaan proyeksi yang menyeimbangkan luas benua, seperti Equal Earth, khususnya dalam konteks pendidikan. Resolusi tersebut memperoleh dukungan 164 negara, ditolak satu negara, dan enam negara abstain. Negara kecil Togo memelopori inisiatif ini dengan kampanye daring, situs khusus, dan jajak pendapat untuk menekankan pentingnya peta yang menampilkan ukuran secara adil.
Keputusan ini tidak melarang penggunaan peta berbasis Mercator, namun menegaskan bahwa tidak ada satu proyeksi yang cocok untuk semua tujuan. Togo menekankan bahwa setiap proyeksi memiliki keunggulan dan keterbatasan masing‑masing.
Kelebihan dan Keterbatasan Proyeksi Mercator
Gerardus Mercator menciptakan proyeksi yang pertama kali dipublikasikan pada 1569 untuk memudahkan navigasi laut. Dalam proyeksi ini, garis lintang dan bujur menjadi lurus sehingga pelaut dapat mengikuti arah kompas dengan mudah. Namun, distorsi yang muncul semakin jelas di daerah yang jauh dari khatulistiwa; contohnya, Greenland tampak hampir seukuran Afrika, padahal wilayahnya jauh lebih kecil.
Mercator tidak dimaksudkan untuk perbandingan ukuran wilayah, melainkan sebagai alat bantu pelayaran. Menggunakan peta ini untuk menilai luas benua ibarat mengukur beras dengan penggaris; alatnya tidak salah, melainkan pengguna yang keliru memilih konteks.
Sejarah Kartografi dari Ptolemy hingga al‑Idrisi
Sebelum Mercator, tradisi kartografi telah berkembang sejak era Ptolemy. Pada abad ke‑12, ilmuwan Muslim al‑Idrisi menggabungkan pengetahuan Yunani, laporan pelancong, dan observasi lapangan dalam sebuah karya besar yang memuat sekitar 70 peta. Uniknya, peta al‑Idrisi menempatkan selatan di bagian atas dan menjadikan Mekah sebagai titik pusat, menantang konvensi barat yang menempatkan utara di atas.
Perbedaan orientasi tersebut mengajarkan bahwa peta selalu mencerminkan pilihan budaya dan tujuan pembuatnya, bukan sekadar representasi objektif dunia.
Distorsi vs Persepsi
Ketika sebuah proyeksi yang dirancang untuk navigasi dipakai dalam konteks lain, distorsi matematis dapat berubah menjadi bias persepsi. Penggunaan luas yang tidak proporsional membuat Afrika tampak lebih kecil dan wilayah kutub tampak membesar, yang pada gilirannya memengaruhi cara orang menilai pentingnya benua‑benua tersebut.
Keputusan PBB menyoroti bahwa peta tidak sekadar alat teknis, melainkan media yang membentuk cara generasi muda memahami dunia, membentuk imajinasi, dan memengaruhi persepsi kolektif.
Implikasi untuk Pendidikan di Indonesia
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di sekitar khatulistiwa, seringkali muncul sebagai sekumpulan pulau yang tersebar jauh di peta dunia. Jika peta yang menekankan kesetaraan luas digunakan di kelas, siswa dapat lebih realistis menilai jarak dan ukuran wilayah, tanpa terdistorsi oleh proyeksi yang menonjolkan wilayah tinggi lintang.
Meskipun tidak menyelesaikan semua tantangan, peta yang menampilkan proporsi area secara akurat dapat membantu pelajar menumbuhkan gambaran skala yang lebih tepat tentang negara mereka.
Menumbuhkan Literasi Peta di Sekolah
Pembelajaran peta sebaiknya tidak hanya menanyakan nama negara atau ibu kota, tetapi juga menekankan tujuan pembuatan peta tersebut. Untuk navigasi, pilih proyeksi yang mempertahankan arah; untuk perbandingan ukuran, gunakan proyeksi setara luas; untuk analisis wilayah detail, pilih proyeksi yang sesuai dengan wilayah fokus.
Setiap proyeksi memiliki kompromi, dan pemahaman tentang pilihan tersebut melatih siswa menjadi pembaca kritis tidak hanya terhadap peta, tetapi juga grafik, foto, dan statistik yang sering kali menyajikan data secara selektif.
Intinya, gambar yang tampak objektif tetap dapat memuat bias; belajar mengenali batasannya adalah keterampilan geografi paling berharga bagi generasi mendatang.