Al-Ma'un
Kiai Ahmad Dahlan Tegaskan Muhammadiyah Tetap Gerakan Keagamaan, Bukan Partai Politik

Kiai Ahmad Dahlan Tegaskan Muhammadiyah Tetap Gerakan Keagamaan, Bukan Partai Politik

Sejak berdiri, Muhammadiyah menegaskan dirinya sebagai organisasi sosial‑keagamaan yang tidak beralih menjadi kekuatan politik, sebuah prinsip yang telah diwariskan oleh Kiai Ahmad Dahlan.

Sebagai ormas berskala nasional, Muhammadiyang kerap mendapat ajakan untuk terjun ke arena politik. Godaan tersebut bukan fenomena baru; sejak era Kiai Ahmad Dahlan, upaya mengubah Muhammadiyah menjadi entitas politik sudah pernah muncul berulang kali.

Ketua Umum Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, menyampaikan bahwa Kiai Dahlan telah berulang kali dihadapkan pada rayuan, baik secara halus maupun terbuka, untuk menjadikan organisasi sebagai platform politik.

Rais menekankan bahwa konsistensi Muhammadiyah dalam bidang keagamaan menjadi bukti kuat komitmen Kiai Dahlan agar organisasi tetap relevan sepanjang masa.

"Berapa kali pula Kiai Dahlan diminta mengalihkan fokus ke gerakan politik, yang kala itu lebih dikenal sebagai gerakan kebangsaan," ujar Ahmad Dahlan Rais pada 15 September lalu dalam perayaan Dies Natalis Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).

Meskipun demikian, Muhammadiyah tidak menutup peluang bagi kadernya yang berpotensi masuk politik, asalkan tidak menjadikan organisasi sebagai alat pribadi untuk meraih keuntungan.

Kontribusi Non‑Politik untuk Umat dan Bangsa

Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah tetap berfokus pada pelayanan sosial tanpa mengadopsi identitas politik praktis. Peran organisasi dalam memajukan masyarakat tetap signifikan.

Contohnya, Muhammadiyah tercatat sebagai ormas pribumi pertama yang mendirikan rumah sakit. Ide pendirian rumah sakit tersebut awalnya dikemukakan oleh Kiai Sudja, meski sempat ditertawakan pada masa itu.

Visi pendirian rumah sakit berlandaskan nilai tolong‑menolong yang bersumber dari Al‑Qur’an, serta ditujukan melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang.

Menurut Ahmad Dahlan Rais, tenaga medis pertama yang bekerja di rumah sakit Muhammadiyah adalah dokter‑dokter Belanda, pada masa ketika Belanda masih menjadi penjajah Indonesia. "Kerjasama kemanusiaan itu sudah terjalin sejak dulu," tegasnya.

Selain layanan kesehatan, Muhammadiyah sejak pra‑kemerdekaan juga merencanakan pendirian perguruan tinggi, yang pada waktu itu disebut “universited”, sebuah gagasan yang digagas oleh Kiai Hisyam.

Hingga kini, setelah 114 tahun eksistensi, Muhammadiyah terus memberikan kontribusi di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi, tanpa mengubah identitasnya menjadi organisasi politik.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Aisyiyah Sikka Selamatkan Pulau Palue: Bantuan Darurat untuk Penyintas Gempa NTT

Aisyiyah Sikka Selamatkan Pulau Palue: Bantuan Darurat untuk Penyintas Gempa NTT

Tim relawan Aisyiyah dari Kabupaten Sikka menembus lautan untuk menyalurkan bantuan kepada warga Pulau Palue, wilayah yang paling parah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur pada Agustus 2026.

Perjalanan Panjang Melintasi Laut Flores

Rombongan berangkat dari Pelabuhan Kewapante, Maumere, dan menempuh enam jam perjalanan feri sebelum tiba di Pelabuhan Pulau Palue. Karena kondisi geografis pulau yang berbukit dan berada dalam zona vulkanik Gunung Rokatenda yang masih aktif, bantuan selanjutnya harus dipindahkan ke perahu kecil dan dibawa berjalan kaki menuruni medan terjal selama 30–45 menit.

Distribusi Bantuan ke Empat Desa

Setelah menembus jalur darat, para relawan menyerahkan paket bantuan ke desa‑desa Kesokoja (Dusun Awa Male), Natakuni (Dusun Cua), Nitunglea (Dusun Nitung), dan Tuanggeo (Dusun Okacere). Bantuan tidak hanya berupa kebutuhan pokok seperti tenda, tikar, selimut, dan sembako, melainkan juga perlengkapan khusus untuk perempuan, anak, dan balita, termasuk pembalut, minyak kayu putih, minyak telon, serta air siap minum.

Kebutuhan Mendesak dan Harapan untuk Hunian Sementara

Menurut ketua PDA Kabupaten Sikka, Fitriah, hampir 90 % rumah di Pulau Palue mengalami kerusakan berat, sehingga warga sangat bergantung pada bantuan yang bersifat hak penyintas. Ia menekankan pentingnya dukungan pemerintah dan lembaga lain untuk menyediakan tempat tinggal sementara menjelang musim hujan yang akan datang.

Walaupun mayoritas penduduk Pulau Palue bukan beragama Islam, mereka menyambut baik kehadiran Aisyiyah dan Muhammadiyah, mengapresiasi kepedulian lintas agama yang langsung menjawab kebutuhan mereka.

Keberhasilan distribusi bantuan ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara organisasi kemanusiaan dan komunitas lokal dapat mengatasi tantangan logistik di daerah terpencil, sekaligus menegaskan pentingnya respons cepat dalam menghadapi bencana alam.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Muhammadiyah Gelar Pelatihan Kepemimpinan Sekolah di China, 32 Peserta Dari Seluruh Indonesia

Muhammadiyah Gelar Pelatihan Kepemimpinan Sekolah di China, 32 Peserta Dari Seluruh Indonesia

Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan program pelatihan tentang manajemen dan kepemimpinan sekolah selama lima hari di tiga kota di Tiongkok, yakni Guangzhou, Foshan, dan Shenzhen, pada 14‑18 September 2026.

Rangkaian Kegiatan dan Tujuan Strategis

Sebanyak 32 orang yang terdiri atas pimpinan Majelis Dikdasmen, PNF, serta kepala sekolah dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti rangkaian pelatihan ini. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Majelis Dikdasmen‑PNF dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Indonesia, dengan harapan meningkatkan kapasitas manajerial, wawasan tentang pendidikan vokasi, serta menelaah praktik‑praktik inovatif yang berkembang di China.

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF, Didik Suhardi menekankan pentingnya menjadikan pengalaman ini sebagai pembelajaran strategis bagi seluruh peserta. Ia mengajak peserta untuk mengamati, mempelajari, dan menyesuaikan praktik‑praktik baik yang ditemui di China agar selaras dengan nilai, karakter, dan kebutuhan pendidikan Muhammadiyah di tanah air.

Wakil Ketua Majelis Dikdasmen‑PNF sekaligus pemimpin delegasi, R. Alpha Amirrachman menambahkan bahwa program ini diharapkan memperkuat jaringan pendidikan Muhammadiyah, menjadikannya lebih unggul, adaptif, serta kompetitif di tingkat global tanpa mengorbankan identitas dan nilai fundamental organisasi.

Kunjuungan Lapangan di Tiga Kota

Selama lima hari, peserta mengunjungi beberapa institusi pendidikan: di Guangzhou mereka menelusuri Guangzhou Xiehe Middle School dan Guangzhou Huimin Primary School; di Foshan, mereka menyaksikan operasi Shunde Leung Kau Kui Vocational and Technical School yang menonjolkan pendidikan vokasi menengah; serta di Shenzhen, kunjungan ke Shixia School dan Shenkang Campus of Hongling Education Group melengkapi gambaran tentang model pembelajaran dari tingkat dasar hingga menengah.

Beragam kunjungan tersebut memberi peserta kesempatan untuk membandingkan pendekatan kepemimpinan, tata kelola institusi, pengembangan sumber daya manusia, serta lingkungan belajar, sehingga dapat merumuskan rekomendasi yang relevan bagi konteks pendidikan Muhammadiyah.

Dengan mengintegrasikan temuan dari China, diharapkan reformasi pendidikan Muhammadiyah dapat lebih dinamis, responsif, dan selaras dengan tantangan global sambil tetap menjaga keunikan nilai-nilai Islam yang menjadi dasar.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Ikhtiar, Doa, dan Tawakal dalam Perspektif Ahlusunnah

Ikhtiar, Doa, dan Tawakal dalam Perspektif Ahlusunnah

Keyakinan akan qada dan qadar tidak boleh menjadi alasan bagi seorang Muslim untuk menghentikan usahanya. Takdir harus dipahami selaras dengan ikhtiar, doa, serta sikap menerima hasil setelah segala upaya dilakukan.

Pemaparan ini disampaikan oleh Fajar Rachmadhani, anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam Pengajian Malam Selasa tanggal 14 September. Ia menelaah hadis keempat dalam Arbain Nawawi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim atas Abdullah bin Mas’ud.

Hadis tersebut menyebutkan empat hal yang telah ditetapkan bagi setiap manusia: rezeki, ajal, amal, serta nasib akhir apakah termasuk dalam kebahagiaan atau sengsara.

Fajar menegaskan bahwa pemahaman ini tidak boleh disimpulkan bahwa seluruh kehidupan sudah tertulis sehingga manusia cukup menunggu hasilnya.

“Hadis ini bukan untuk mengajarkan kita menjadi pasif,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa para sahabat pun pernah menanyakan konsekuensi ketentuan tersebut. Jika tempat seseorang di akhirat sudah ditentukan, mengapa manusia masih diperintahkan beramal?

Nabi Saw menjawab dengan menekankan pentingnya terus berbuat, sambil mengutip kaidah fa kullun muyassarun lima khuliqa lahu yang berarti setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang diciptakan untuknya.

“Nabi bersabda, ‘Teruslah beramal, lakukan sebanyak‑banyaknya’,” kata Fajar.

Perbedaan Pandangan Al‑Husunah, Jabariyah, dan Qadariyah Terhadap Takdir

Menurutnya, Ahlusunnah membedakan diri dari pandangan yang menjadikan takdir sebagai alasan menghindari usaha. Jabariyah menolak adanya kehendak manusia sama sekali, sementara Qadariyah menekankan kehendak manusia secara berlebihan hingga melupakan kehendak Allah.

Posisi tengah yang dipegang Ahlusunnah adalah mengakui adanya kehendak manusia, namun tetap berada dalam lingkup kehendak Allah.

“Allah menciptakan manusia dengan memberi kehendak, namun kehendak itu tidak terlepas dari kehendak Allah,” jelasnya.

Oleh karena itu, ungkapan qaddarallahu wa ma sya’a fa’al tidak boleh dijadikan pembenaran bagi kemalasan atau kegagalan yang timbul karena kurangnya usaha.

Ia mengutip pesan Nabi agar setiap Muslim berusaha keras mengejar hal yang bermanfaat, memohon pertolongan Allah, dan tidak mudah menyerah.

Menyeimbangkan Ikhtiar dan Tawakal

Fajar mengingatkan bahwa Nabi pernah berkata, “Kerja keraslah, ikhtiar yang maksimal,” yang diartikan sebagai ihris ala ma yanfauk. Setelah itu, Nabi menambahkan pentingnya tawakal dengan kata wastain billah.

Ia menekankan bahwa ikhtiar dan tawakal harus berjalan bersamaan. Setelah berusaha sekuat tenaga dan memohon pertolongan, seorang Muslim tidak boleh putus asa bila hasilnya tidak sesuai harapan.

Jika musibah menimpa, ajaran Nabi menuntun untuk menerima ketetapan Allah tanpa terperangkap dalam penyesalan atas kemungkinan‑kemungkinan yang tidak terwujud.

“Kita mengucapkan qadarullah ma syaa fa’ala, menerima segala hasil setelah kita menunaikan proses ikhtiar. Itulah prinsip Ahlusunnah,” ujarnya.

Dengan pemahaman ini, Fajar mengajak jamaah menempatkan takdir setelah ikhtiar, bukan menggantikannya. Apa yang terjadi adalah ketetapan Allah, sedangkan tugas manusia tetap beramal selama masih diberi kesempatan.

“Bagi hamba yang dirahmati Allah, apa yang telah terjadi adalah ketetapan Allah dan pastilah yang terbaik,” pungkasnya.

📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Muhammadiyah Dorong Digitalisasi Keuangan Masjid lewat SIROQIB untuk Tata Kelola Amanah

Muhammadiyah Dorong Digitalisasi Keuangan Masjid lewat SIROQIB untuk Tata Kelola Amanah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menekankan pentingnya memperkuat tata kelola keuangan masjid secara amanah, tertib, dan berkelanjutan dengan memanfaatkan sistem pencatatan berbasis digital.

Pelatihan Literasi Keuangan di Masjid At‑Tanwir

Pada Senin, 15 September, Aula lantai enam Masjid At‑Tanwir, Jakarta Pusat, menjadi tempat berlangsungnya kegiatan Literasi Laporan Keuangan dan Akuntansi Masjid. Sekitar empat puluh perwakilan pengurus masjid yang tergabung dalam Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) hadir, menandai upaya bersama meningkatkan pengelolaan dana ibadah.

KH Nur Ahmad, ketua DKM At‑Tanwir, menjelaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini adalah membantu masjid‑masjid memiliki manajemen keuangan yang rapi, teratur, mudah dipantau, serta transparan dalam pelaporan kepada jamaah.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan dana masjid tidak lepas dari prinsip amanah, karena uang yang dikelola merupakan titipan umat yang harus dapat dipertanggungjawabkan secara akurat.

"Karena kami mengelola uang jamaah, landasan yang tak boleh ditinggalkan adalah kepercayaan. Hal itu menuntut pembukuan yang teratur, data yang lengkap, dan bila memungkinkan, pemanfaatan aplikasi khusus," ujar Nur Ahmad.

Teknologi dipandang sebagai solusi untuk menciptakan sistem keuangan yang lebih terstruktur, mempermudah pencatatan, monitoring, dan pelaporan kepada jamaah.

Selama sesi tersebut, para pengurus dikenalkan dengan SIROQIB, sebuah aplikasi yang dirancang untuk mencatat transaksi, menyusun dokumentasi keuangan, serta menghasilkan laporan yang mudah diawasi dan dipertanggungjawabkan.

Pengelolaan keuangan masjid dianggap mencakup tiga pilar utama: pencatatan, pengendalian, dan pelaporan yang transparan. Ketiganya penting untuk memastikan dana umat dikelola secara tertib sesuai kapasitas dan aktivitas masing‑masing masjid.

Diharapkan, pemanfaatan SIROQIB dapat memperkuat kemampuan pengurus dalam mencatat transaksi, mendokumentasikan keuangan, dan menghasilkan laporan yang dapat dipantau secara real‑time.

Dengan meningkatkan literasi keuangan dan mengadopsi digitalisasi, Masjid At‑Tanwir menargetkan terciptanya tata kelola keuangan yang lebih transparan, akuntabel, dan berkelanjutan di seluruh jaringan masjid Muhammadiyah.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Pesan M. Muchlas Abror pada Pengajian di Yogyakarta

Pesan M. Muchlas Abror pada Pengajian di Yogyakarta

M. Muchlas Abror, mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2005–2010), menegaskan bahwa setiap detik kehidupan harus diisi dengan perbuatan baik, kerja keras, dan pengabdian kepada Allah SWT.

Pengajian Ahad Pagi di Masjid Mataram, Yogyakarta

Pada Ahad, 13 September, ia menyampaikan ceramah di Masjid Mataram, Pakel Baru, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Dalam sambutannya, Muchlas menekankan bahwa waktu yang telah lewat tidak dapat dipulihkan, sehingga kesempatan yang ada kini harus dimanfaatkan untuk menambah amal kebajikan dan memberi manfaat bagi sesama.

"Kehidupan ini harus diisi dengan amal baik, kerja keras, serta pengabdian kepada Allah SWT," ujarnya.

Etika Sosial dan Keseimbangan Dunia‑Akhirat

Ia mengajak umat untuk senantiasa menghargai, menolong, dan menjaga hubungan baik antar sesama tanpa memandang perbedaan. Selain itu, Muchlas menekankan pentingnya menyeimbangkan urusan dunia dengan persiapan akhirat, menjadikan setiap kesempatan hidup sebagai ruang perbaikan diri dan kontribusi bagi lingkungan.

Pesan tersebut selaras dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al‑Hakim dari Ibnu ‘Abbas, yang mengingatkan umat agar tidak menyia‑nyiakan kesempatan yang Allah berikan.

"Hadis ini mengajarkan agar manusia tidak menyia‑nyiakan kesempatan yang diberikan Allah SWT," jelasnya.

Generasi Muda, Kesehatan, dan Kerja Sebagai Ibadah

Muchlas khususnya menyoroti peran generasi muda, mengingatkan bahwa masa produktif harus diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. "Jangan sampai masa muda berlalu tanpa diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, agar tidak menyesal di usia senja," tegasnya.

Ia juga menilai kesehatan sebagai nikmat berharga. Selama tubuh masih fit, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, beribadah, dan melakukan amal kebaikan.

"Selagi sehat, gunakanlah kesehatan untuk beribadah, bekerja, dan melakukan amal kebaikan," ajaknya.

Menurut Muchlas, pekerjaan tidak sekadar memenuhi kebutuhan materi, melainkan dapat menjadi ibadah bila dijalankan dengan niat yang tulus, kejujuran, dan tanggung jawab.

"Kerja yang dilakukan dengan sungguh‑sungguh, jujur, dan bertanggung jawab merupakan bagian dari amal saleh," katanya.

Penutup: Mengukir Jejak Kebaikan

Ia menutup ceramah dengan menekankan bahwa setiap waktu yang masih dimiliki adalah peluang untuk menabur kebaikan. Hidup bukan hanya diukur dari apa yang didapatkan untuk diri sendiri, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

"Kita dapat mengisi dan menggunakan waktu sebaik‑baiknya, berbuat kebaikan kepada sesama, sehingga semakin tinggi nilai manfaatnya bagi orang lain, amal itu semakin utama dan berkah," pungkasnya.

Secara keseluruhan, pesan Muchlas menegaskan pentingnya kesadaran akan keterbatasan hidup dan mengajak setiap individu—khususnya generasi muda—untuk menjadikan setiap momen sebagai sarana berkontribusi, memperkuat iman, serta menyiapkan bekal akhirat.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Lulusan PTMA Siapkan Langkah Nyata Layaknya Pendakian Gunung: Nasihat Ketua Muhammadiyah

Lulusan PTMA Siapkan Langkah Nyata Layaknya Pendakian Gunung: Nasihat Ketua Muhammadiyah

Lulusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah‑Aisyiyah (PTMA) diibaratkan sebagai pendaki yang menyiapkan segala perlengkapan serta pengetahuan sejak masa perkuliahan, agar siap menghadapi medan kehidupan setelah wisuda.

Persiapan Seperti Mendaki Gunung

Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, pada acara wisuda ke‑15 Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur di Samarinda, Selasa 15 September. Ia menegaskan, “Persiapkan masa depan Anda sebagaimana seorang pendaki menyiapkan peralatan dan cara penggunaannya. Tanpa perbekalan yang tepat, perjalanan tak akan berhasil.”

Setelah toga, para alumni akan berjumpa dengan kenyataan; ilmu yang dipelajari di kelas dan pengalaman organisasi harus segera diterapkan dalam dunia kerja atau kegiatan lainnya.

Dahlan Rais menambahkan, dalam kehidupan bermasyarakat lulusan akan menemui tantangan bak badai, hujan deras, bahkan angin kencang. Persiapan matang menjadi bekal untuk melewati segala rintangan dengan selamat dan meraih kesuksesan.

Jalur Karier Lulusan PTMA

Menurut pengamatannya, ada tiga pilihan utama yang biasanya diambil oleh lulusan PTMA. Pilihan pertama adalah langsung terjun ke dunia kerja. Memasuki dunia profesional bukanlah langkah yang keliru; setiap lulusan berhak menentukan arah kariernya.

Pilihan kedua adalah melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2). Saat ini banyak yang sekaligus bekerja sambil menempuh studi S2, karena gelar magister sudah menjadi standar umum di Indonesia.

Pilihan ketiga, yang lebih jarang, adalah melanjutkan ke jenjang doktor (S3). Dahlan mencatat, “Perkembangan kini membuat S2 terasa biasa, bahkan dosen yang sudah berkarier kini dituntut melanjutkan hingga S3.”

Pesan Moral dan Spiritual

Mengutip Surat Al‑Insyirah ayat 7, ia mengingatkan agar wisuda tidak dianggap sebagai akhir pembelajaran. Setiap selesai satu tugas, harus segera menyiapkan langkah selanjutnya.

“Jangan sia-siakan waktu,” tegasnya. “Isi hidup dengan amal saleh dan lakukan sesuatu yang produktif, sekecil apapun itu.”


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Tanggung Jawab, Bukan Kekuasaan, dalam Keluarga Sakinah

Tanggung Jawab, Bukan Kekuasaan, dalam Keluarga Sakinah

Istilah qiwamah sering disalahtafsirkan sebagai hak suami untuk memerintah rumah tangga. Dalam perspektif Muhammadiyah, istilah ini justru diartikan sebagai beban tanggung jawab, perlindungan, dan upaya menjaga keberlangsungan keluarga.

Qiwamah sebagai Amanah dalam Keluarga Sakinah

Pada Pengajian Tarjih yang digelar pada Rabu, 16 September, Lailatis Syarifah – anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah – menjelaskan bahwa keluarga sakinah dibangun atas asas saling menguatkan. Pernikahan dipandang sebagai perjanjian kuat (mitsāqan ghalīẓan) yang mengikat suami, istri, sekaligus ikatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga hak dan kewajiban kedua belah pihak harus dipertahankan.

Menurut Lailatis, qiwamah kerap disederhanakan menjadi konsep kepemimpinan otoriter, menempatkan suami sebagai penguasa mutlak dan istri sebagai pihak yang harus tunduk. Padahal, dalam ajaran yang disampaikan, qiwamah bukanlah relasi kuasa melainkan relasi kasih sayang, tanggung jawab, dan perlindungan.

al‑himayah (pembelaan), al‑ri‘ayah (perlindungan), al‑wilayah (penyelenggaraan), dan al‑kifayah (pemenuhan kebutuhan). Dengan demikian, qiwamah tidak bersifat dominasi atau penindasan, melainkan sebuah amanah yang menuntut suami untuk melaksanakan peran-peran tersebut secara adil.

Penempatan suami sebagai penanggung jawab qiwamah tidak berarti ia memperoleh kekuasaan tak terbatas. Jika sang suami mengalami kematian, sakit berkepanjangan, atau tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga, beban tersebut dapat dialihkan atau dijalankan bersama oleh pasangan.

Kontribusi ekonomi istri pun dipandang sebagai bagian integral dari upaya bersama menjaga kesejahteraan keluarga. Keduanya dapat bekerja, menghasilkan pendapatan, dan menyelesaikan persoalan rumah tangga melalui musyawarah.

Ketaatan istri tidak diartikan sebagai penyerahan diri pada otoritas suami, melainkan kepatuhan pada hal‑hal yang selaras dengan kebenaran dan kebaikan. Sebaliknya, suami wajib memperlakukan istri secara makruf: memberikan nafkah sesuai kemampuan, menjaga kehormatan, menghindari kekerasan, serta mendukung pengembangan potensi dan aspirasi sang istri.

“Qiwamah adalah amanah; semakin besar amanah, semakin besar pula kewajiban untuk melindungi, menafkahi, mendengarkan, dan menyelesaikan masalah secara musyawarah,” tegas Lailatis.

Hubungan suami‑istri seharusnya bersifat timbal balik. Istri berhak mengingatkan suami ketika ia lalai, sementara suami berkewajiban membimbing dan melindungi keluarga. Jika perintah suami bertentangan dengan nilai kebenaran, istri tidak wajib mengikutinya.

Masalah ekonomi yang rendah tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan salah satu pihak. Begitu pula, qiwamah tidak boleh dijadikan alat untuk menindas istri.

Akhirnya, keluarga sakinah ditopang oleh prinsip kesalingan: suami dan istri bersama‑sama menunaikan amanah Allah dengan keadilan, rasa hormat, penguatan, dan musyawarah yang konstruktif.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Lazismu dan BPKH RI Gandeng Bangun Tiga Kelas Madrasah Diniyah di Sorong, Papua Barat Daya

Lazismu dan BPKH RI Gandeng Bangun Tiga Kelas Madrasah Diniyah di Sorong, Papua Barat Daya

Lazismu bersama Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) RI menandatangani kerja sama untuk mendirikan tiga ruang kelas baru pada Madrasah Diniyah (Madin) Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Tujuan Pembangunan

Menurut anggota Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, fasilitas baru ini direncanakan menjadi fondasi bagi generasi muda Papua yang berpengetahuan luas dan berakhlak mulia.

"Yayasan madrasah dan masyarakat setempat dapat berkontribusi nyata meningkatkan mutu pendidikan anak‑anak di Sorong," ujar beliau.

Ia menambahkan bahwa keberadaan tiga ruang kelas akan memperluas dampak positif dalam menyiapkan generasi yang siap berperan aktif membangun masyarakat dan bangsa.

Apresiasi dari BPKH

Yogashwara Vidyan, anggota Komite Investasi dan Penempatan BPKH RI, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat sejak tahap perencanaan hingga selesainya pembangunan kelas Madrasah Diniyah DDI Katimin, Sorong.

"Semoga ruang kelas ini menjadi tempat tumbuhnya ilmu, iman, akhlak, dan amal saleh, serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan umat," tuturnya.

Jadwal dan Penanggung Jawab

Andi Kurniawan, penanggung jawab Program Kemaslahatan BPKH‑Lazismu, menjelaskan bahwa proyek pembangunan tiga kelas dijadwalkan selesai dalam 100 hari kalender, dimulai 27 Desember 2025 dan berakhir 5 April 2026.

Ucapan Terima Kasih dari DDI

Muhammad Nur, Wakil Ketua Pengurus DDI, menyampaikan rasa syukur kepada Pemerintah Republik Indonesia, khususnya BPKH, atas bantuan tiga ruang kelas baru yang disalurkan melalui Lazismu.

"Bantuan ini merupakan bukti nyata kepedulian negara terhadap peningkatan sarana pendidikan dan dakwah, sehingga proses belajar mengajar serta kegiatan keagamaan dapat berlangsung lebih nyaman, aman, dan produktif," ujarnya.

Dengan fasilitas baru ini, diharapkan proses pembelajaran di DDI Katimin menjadi lebih optimal, sekaligus memperkuat peran madrasah sebagai pusat pengembangan ilmu agama dan karakter bagi pemuda Papua.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id