Tiga kuadran pemberdayaan mengilustrasikan lintasan ekonomi seseorang, mulai dari penerima zakat hingga menjadi pelaku usaha mandiri yang mampu menunaikan zakat.
Percakapan antara aktivis filantropi Yekti Pitoyo dan Lambang Saribuana, ketua Lazismu DKI Jakarta, membuka wawasan baru tentang bagaimana zakat dapat menjadi katalis perubahan sosial.
Tiga Kuadran: Langkah-Langkah Menuju Kemandirian
Kuadran pertama menampung mustahik, yaitu individu yang masih mengandalkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Di sini, dana zakat berperan penting sebagai jembatan keluar dari krisis, namun dukungan harus melampaui sekadar pemenuhan kebutuhan sesaat.
Kuadran kedua melibatkan pekerja atau karyawan yang memperoleh pendapatan rutin melalui kerja. Penghasilan ini menjadi fondasi bagi peningkatan taraf hidup, meski masih rentan bila pekerjaan terhenti.
Kuadran ketiga mencakup entrepreneur yang telah membangun usaha atau aset produktif. Pada tahap ini, uang mulai bekerja untuk dirinya, membuka peluang penciptaan lapangan kerja, dan membuka pintu bagi kemampuan menunaikan zakat secara sukarela.
Menggali Ukuran Keberhasilan Lazismu
Selama ini, keberhasilan program Lazismu sering diukur lewat jumlah dana yang disalurkan dan total penerima manfaat. Namun, pertanyaan kritis muncul: apakah mustahik yang menerima bantuan sudah mengalami kenaikan pendapatan, memperoleh pekerjaan, atau mendirikan usaha yang berkelanjutan?
Untuk menilai dampak sejati, Lazismu perlu memperhatikan indikator jangka panjang seperti peningkatan keterampilan, akses permodalan, dan penguatan jaringan pasar bagi para penerima manfaat.
Dari Penerima Manfaat Menjadi Penyumbang
Transformasi dari mustahik ke muzaki tidak terjadi dalam semalam. Setiap individu memiliki latar belakang dan tantangan ekonomi yang unik, sehingga program pemberdayaan harus disesuaikan—mulai dari pelatihan keterampilan, penempatan kerja, hingga pembinaan usaha kecil.
Pendekatan sosiopreneur menekankan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari profit, melainkan juga dari dampak sosial yang tercipta. Seorang pengusaha yang tumbuh dapat membuka peluang kerja bagi orang lain, memperkuat ekosistem ekonomi lokal, dan pada akhirnya berkontribusi kembali melalui zakat.
Menilai Dampak, Bukan Sekadar Penyaluran
Pertanyaan kunci yang diajukan dalam diskusi ini ialah: berapa banyak mustahik yang berhasil naik ke kuadran pekerja, berapa yang beralih menjadi entrepreneur, dan berapa yang kini menjadi muzaki aktif?
Menjawab pertanyaan tersebut memerlukan data longitudinal dan mekanisme pendampingan yang konsisten. Hanya dengan begitu, Lazismu dapat memastikan bahwa dana zakat, infak, dan sedekah tidak hanya menutup kebutuhan sementara, tetapi juga menumbuhkan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
Kesimpulannya, pemberdayaan melalui zakat harus dilihat dari perspektif transformasi jangka panjang, di mana penerima manfaat akhirnya mampu menghidupi diri sendiri, menciptakan peluang bagi orang lain, dan berperan aktif sebagai pemberi manfaat dalam masyarakat.
