Al-Ma'un
114 Muhammadiyah Yogyakarta: Kebersamaan, Kegembiraan, dan Semboyan untuk Indonesia

114 Muhammadiyah Yogyakarta: Kebersamaan, Kegembiraan, dan Semboyan untuk Indonesia

Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta menyelenggarakan pengajian pada Sabtu, 6 November, sebagai bagian dari perayaan Milad ke-114 organisasi. Ustaz Irfan Rizki Haas diundang sebagai narasumber utama, sementara Ketua PP, Agus Taufiqurrohman, menyampaikan pesan tentang pentingnya persatuan hati dan semangat kerja yang menyenangkan.

Acara itu juga dihadiri Sekretaris PP, Muhammad Sayuti, beserta seluruh staf kantor yang berpartisipasi dalam serangkaian aktivitas rekreasi seperti lomba memasak, karaoke, tenis meja, badminton, voli, mini soccer, arung jeram, serta pengajian.

Menjaga Kebersamaan Melalui Kegiatan

Menurut Agus, kompetisi kuliner dan kegiatan lainnya dimaksudkan untuk mempererat ikatan antar rekan kerja, sehingga setiap orang terasa menjadi bagian tak terpisahkan dalam menyelesaikan tugas‑tugas harian.

Ia menegaskan, "Mari kita bersatu, bekerja dengan sukacita, dan berusaha meraih keridhaan Allah."

Semboyan dan Refleksi Islam

Dalam sambutannya, Agus mengajak peserta mengingat slogan "Islam mencerahkan, Muhammadiyah memajukan, Indonesia jaya." Ia menjelaskan bahwa cahaya Islam dapat redup bila umatnya menjauh dari nilai‑nilai inti, sehingga Muhammadiyah berupaya menghidupkan kembali sinar tersebut demi kemajuan bangsa.

"Ajaran Islam mulia, namun perilaku sebagian umat menutupi kilauannya," ujarnya.

Dakwah di Era Digital

Agus memberikan apresiasi khusus kepada Ustaz Irfan Rizki Haas, yang aktif berdakwah lewat platform media sosial, serta menyoroti pentingnya konten yang unik dan menghibur, seperti yang disampaikan oleh Yunahar Ilyas, untuk menjangkau generasi muda.

Harapan untuk Milad Selanjutnya

Menutup acara, ia memohon doa untuk kelancaran Tanwir dan perayaan Milad ke-114 di Palu, Sulawesi Tengah, yang dijadwalkan 13–15 November, serta mengajak panitia internal untuk menjaga nama baik Persyarikatan Muhammadiyah.

"Semoga kami tetap menjadi satu kesatuan, mengharumkan nama Islam, Muhammadiyah, dan bangsa Indonesia yang kita cintai," tutupnya.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Menyingkap Bahaya Penyadapan Ilegal dan Erosi Kejujuran di Era Digital

Menyingkap Bahaya Penyadapan Ilegal dan Erosi Kejujuran di Era Digital

Praktik memata‑mata lawan politik secara ilegal tidak hanya melanggar ketentuan hukum, tetapi juga menodai nilai moral yang menjadi landasan kepercayaan publik. Ketika kegiatan tajasus dijadikan kebiasaan bagi penguasa, kebebasan berpendapat dan rasa aman warga semakin tergerus.

Kejujuran Sebagai Pondasi Modal Sosial

Kejujuran dipandang sebagai akhlak utama yang menumbuhkan rasa saling percaya antar anggota masyarakat. Modal sosial yang kuat dapat menurunkan biaya interaksi dan memperlancar kerja sama. Sayangnya, dalam sepuluh tahun terakhir budaya berbohong dan korupsi tampak berkembang pesat, menumbuhkan pepatah lokal “sing jujur ajur”.

UUD 1945 dan Pilihan “Cheating”

Amendemen UUD 1945 yang selesai pada 2002 menyisakan celah yang sering dimanfaatkan pejabat publik sebagai jalan pintas. Praktik curang tersebut kemudian menular ke masyarakat luas, menjadikan korupsi bentuk paling nyata dari perilaku menipu.

Penyadapan, Hoaks, dan Ketahanan Siber

Ketika informasi palsu dan hoaks beredar, penyadapan atau tapping menjadi sarana bagi penguasa mengumpulkan data tentang lawan. Kelemahan infrastruktur keamanan siber, proses rekrutmen pejabat yang rentan penipuan, serta standar etika penyelenggara pemilu yang masih rendah memperparah situasi.

Pengawasan Massal dan “Thought Police”

Negara yang mengandalkan kepolisian untuk melakukan massive surveillance menciptakan gambaran totaliter yang digambarkan George Orwell dalam novel “1984” (1949). Konsep “polisi pikiran” ini bertentangan dengan prinsip demokrasi dan menindas kebebasan berekspresi.

Democratic Policing yang Dipelintir

Menurut Tito Karnavian dan Hermawan Sulistyo, pemolisian yang seharusnya bersifat demokratis kini sering disalahgunakan sebagai alat pengawasan massal. Praktik tersebut harus dihentikan agar tidak mengikis kepercayaan publik.

Pooritas, Moral, dan Jiwa Merdeka

Kemiskinan yang mengakar menjadi lahan subur bagi budaya dusta. Dalam perspektif Islam, kejujuran adalah syarat iman, sementara kemiskinan kronis menumbuhkan sikap “sing jujur ajur”. Akhlakul karimah menuntut jiwa yang merdeka; bila jiwa dibelenggu, kejujuran tak dapat tumbuh. Para ulama dan pendiri bangsa telah menegaskan hal ini dalam rumusan UUD 1945 sebagai pernyataan perang melawan penjajahan dan perbudakan.

Mohammad Nurfatoni


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Tiga Pilar Spiritual untuk Menghadapi Era Digital: Kisah Pengajian Milad ke‑114 Muhammadiyah Yogyakarta

Tiga Pilar Spiritual untuk Menghadapi Era Digital: Kisah Pengajian Milad ke‑114 Muhammadiyah Yogyakarta

Di tengah derasnya arus informasi global dan percepatan hidup digital, para pegawai PP Muhammadiyah Yogyakarta dihadiri dalam Pengajian Semarak Milad ke‑114 pada Sabtu 7 November menekankan pentingnya menjaga kebersihan hati, memahami batas kemampuan diri, serta mengendalikan perilaku pribadi.

Landasan Spiritual yang Disorot

Acara itu dipimpin oleh Ketua PP Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurrahman bersama Sekretaris Muhammad Sayuti, sementara tausiyah utama disampaikan oleh Ustaz Irfan Rizki Haas.

Ustaz Irfan mengingatkan bahwa dalam suasana penuh pemberitaan negatif dan tekanan modern, rasa cemas dapat memunculkan keputusasaan. Namun, sebagai seorang mukmin, sikap putus asa dilarang, sebagaimana firman Allah dalam Surat Az‑Zumar ayat 53 yang menegaskan agar umat tidak berputus asa dari rahmat‑Nya.

Tiga Pilar Kehidupan di Era Digital

  • Menjaga hati (qalb salim) – Hati menjadi penentu kualitas amal. Berdasarkan hadis, nasib seseorang sangat dipengaruhi oleh keadaan hati yang bersih atau tercemar.
  • Mengenali diri dan kapasitas – Setiap insan diciptakan dengan potensi, minat, serta peran yang berbeda. Kesadaran akan batas kemampuan membantu menyesuaikan diri dengan medan pengabdian yang tepat.
  • Mengendalikan diri – Di zaman di mana informasi menyebar dalam hitungan detik, kemampuan menahan diri, bersabar, dan menapis nafsu menjadi kunci kelangsungan hidup yang selamat.

Ustaz Irfan menutup dengan menekankan pentingnya bersikap sabar dan ikhlas, menyerahkan segala urusan kepada Allah sebagai bagian dari perjalanan spiritual setiap manusia.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
196 Siswa SD Mumtaz Eksplorasi Sejarah di Tugu Pahlawan dan Muspusal Surabaya

196 Siswa SD Mumtaz Eksplorasi Sejarah di Tugu Pahlawan dan Muspusal Surabaya

Sebanyak 196 murid kelas VI dari SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman (SD Mumtaz) di Sidoarjo melaksanakan pembelajaran di luar kelas pada Kamis, 5 November 2026, dengan menjejakkan kaki ke dua situs bersejarah di Surabaya: Tugu Pahlawan dan Museum Pusat TNI Angkatan Laut (Muspusal).

Menggali Jejak Pahlawan di Tugu Pahlawan

Perjalanan dimulai dari Tugu Pahlawan, monumen yang memperingati pertempuran 10 November 1945. Di sana, siswa‑siswa diajak menelusuri kisah para pejuang Suroboyo yang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Mereka mengamati koleksi museum mini, mencatat fakta penting, dan menyelesaikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk memperdalam pemahaman.

Menelusuri Sejarah Kemaritiman di Muspusal

Setelah itu, rombongan berlanjut ke Museum Pusat TNI Angkatan Laut. Di ruang pameran, anak‑anak dapat melihat langsung artefak‑artefak terkait sejarah kelautan Indonesia serta peran TNI AL dalam menjaga kedaulatan perairan. Kunjungan dilengkapi dengan pemutaran film pendek edukatif yang menyoroti kekayaan laut dan pentingnya sektor maritim bagi negara.

Selama di museum, mereka kembali mengisi LKPD, mencatat observasi dan menjawab pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan visual dengan materi pelajaran.

Suara Guru dan Murid

Dina Nurul Fitria, S.Pd.I., guru kelas VI, menyatakan bahwa aktivitas lapangan ini memberi kesempatan unik bagi siswa untuk “merasakan sejarah secara nyata” dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap warisan bangsa. Ia menambahkan harapan agar pengalaman ini menjadi bekal moral dan kebangsaan yang bertahan lama.

Seorang murid, Istigfarin Az‑zahra Putri Sadewa dari kelas VI‑B, mengaku sangat antusias karena dapat “melihat dan belajar langsung dari benda‑benda bersejarah” yang sebelumnya hanya ia temui di buku.

Tujuan Pembelajaran Luar Kelas

Melalui kunjungan ini, SD Mumtaz berupaya memperkaya proses belajar mengajar di luar dinding kelas, sekaligus menanamkan semangat patriotisme dan kecintaan pada laut Indonesia. Sekolah berharap pengalaman ini dapat menumbuhkan nasionalisme serta kesadaran generasi muda akan pentingnya melestarikan sejarah dan kedaulatan negara.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Kunci Kepercayaan Konsumen bagi Usaha Mikro

Kunci Kepercayaan Konsumen bagi Usaha Mikro

Memiliki sertifikat halal bukan sekadar memperoleh label; ia menandakan tanggung jawab untuk menjaga kehalalan produk secara berkelanjutan. Setiap pelaku usaha, termasuk warung kecil, harus menjadikan sertifikat tersebut sebagai komitmen moral, bukan hanya dokumen yang dipajang.

Makna Sertifikat Halal bagi Pelaku Usaha

Sertifikasi halal menegaskan bahwa proses produksi telah memenuhi standar kehalalan yang ditetapkan. Namun, pengakuan ini harus diikuti dengan upaya konsisten menjaga standar tersebut dalam semua tahapan bisnis.

Ruang Lingkup dan Konsistensi Produk

Kehalalan tidak terbatas pada produk yang sudah tersertifikasi; ia mencakup seluruh rangkaian barang yang dijual. Menambahkan produk baru tanpa memastikan status halalnya dapat menimbulkan kesalahpahaman bagi konsumen yang menganggap semua barang di warung sudah terjamin kehalalannya.

Komitmen Konsistensi dalam Praktik Sehari-hari

Usaha harus terus mematuhi ketentuan sertifikasi setiap kali menambah atau mengubah produk. Keputusan yang didorong semata-mata oleh keuntungan atau kemudahan tidak boleh mengorbankan prinsip kehalalan yang telah diakui.

Kejujuran dalam Penyampaian Informasi

Transparansi kepada pembeli adalah fondasi kepercayaan. Produk yang belum memiliki sertifikat halal tidak boleh dipromosikan seolah‑olah telah terjamin. Kejujuran ini selaras dengan ajaran Islam yang menekankan keadilan dan kejujuran dalam perdagangan.

Integritas Sebagai Landasan Usaha

Integritas berarti kesesuaian antara janji, label, dan realitas lapangan. Pemilik warung yang berintegritas tidak menjadikan logo halal sekadar alat pemasaran, melainkan memandangnya sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Pendampingan Pasca Sertifikasi

Setelah sertifikat diterbitkan, proses edukasi, pembinaan, dan pengawasan harus berlanjut. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, lembaga pendamping, dan asosiasi profesional perlu terus mendukung pelaku usaha agar komitmen halal tetap terjaga.

Intinya, sertifikat halal hanyalah titik awal. Keberhasilan sejati terletak pada kemampuan usaha menjaga kehalalan secara konsisten, jujur, dan berintegritas, sehingga kepercayaan konsumen tetap terjaga dan mendapatkan berkah.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Ikrom Fair 2026: SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage Rilis Tujuh Buku Karya Murid dan Guru

Ikrom Fair 2026: SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage Rilis Tujuh Buku Karya Murid dan Guru

Acara Ikrom Fair 2026 yang digelar di kompleks Ikrom Sport, Sidoarjo, pada Sabtu 7 November 2026 menjadi panggung peluncuran tujuh judul buku yang dihasilkan oleh murid dan guru SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage.

Penghargaan dari Pengurus Pendidikan

Ketua Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Wage, M. Syahrul Ardiansyah, M.Si., menyampaikan rasa bangga atas inisiatif penerbitan karya literasi ini. Ia menekankan bahwa langkah tersebut menandai terbentuknya ekosistem pendidikan yang memberi ruang bagi siswa dan tenaga pengajar untuk berkreasi serta mengabadikan gagasan mereka.

Kepala SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage, Nur Suciati, M.Pd., menambahkan bahwa sekolah terus berusaha menyediakan sarana dan motivasi yang memungkinkan komunitas belajar menghasilkan tulisan yang bermakna.

Suara Penulis Cilik

Maryam Halia Ibrahim, siswi kelas I yang menulis Aku Punya Cita‑Cita, mengungkapkan kebahagiaan melihat karyanya terbit menjadi buku. “Saya sangat senang karena tulisan saya kini menjadi buku,” ujarnya.

Guru Berbagi Pengalaman

Riyadus Sholichin, S.Ag., menjelaskan proses penyusunan buku memerlukan ketekunan dan waktu, terutama ketika dilakukan di sela‑sela jam mengajar. “Meskipun menuntut konsistensi, alhamdulillah kami berhasil menyelesaikannya,” katanya.

Sri Yuliana, S.Pd.SD., menilai menulis memberikan pengalaman baru serta menjadi media untuk menyalurkan pendapat yang kadang sulit diutarakan secara lisan. “Menulis buku membuka kesempatan mengekspresikan opini secara lebih leluasa,” tambahnya.

Koleksi Karya Murid dan Guru

Enam judul buku berasal dari siswa kelas I hingga VI, masing‑masing mengangkat tema yang dekat dengan dunia mereka:

  • Kelas I: Aku Punya Cita‑Cita
  • Kelas II: Cerita Bersama Mainan Kesayangan
  • Kelas III: Petualangan Bersama Hewan Kesayangan
  • Kelas IV: Langkah Kecil Menuju Ketaatan
  • Kelas V: Rahasia Bangun Pagi dengan Ceria
  • Kelas VI: Semangat Belajar Menggapai Impian

Antologi guru berjudul Pendidikan Tak Selesai Hanya di Ruang Kelas melengkapi koleksi tersebut dengan rangkaian opini dan refleksi mengenai tantangan serta harapan dalam dunia pendidikan.

Makna Lebih Besar

Peluncuran buku ini tidak hanya memperkaya perpustakaan sekolah, melainkan juga menegaskan komitmen SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage dalam menumbuhkan budaya literasi sejak dini, sehingga generasi muda dapat tumbuh menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan berkarakter kuat.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Lir‑Ilir Menggema di Pembukaan Muhammadiyah Zakat Summit 2026: Seni, Makna, dan Kebudayaan Nusantara

Lir‑Ilir Menggema di Pembukaan Muhammadiyah Zakat Summit 2026: Seni, Makna, dan Kebudayaan Nusantara

Suara tembang Lir‑Ilir menggema pada acara pembukaan Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang diselenggarakan pada Jumat, 6 November 2026, di Radjawali Semarang Cultural Center (SCC). Pertunjukan sendratari berisi lagu daerah dari seluruh Indonesia mengiringi iringan musik tradisional, menambah semarak suasana pertemuan nasional yang digelar oleh Lazismu Pusat.

Pesan dakwah Sunan Kalijaga melalui Lir‑Ilir menyatu dengan gerak tari, menegaskan peran budaya dalam menyebarkan nilai‑nilai Islam.

Makna Tembang Lir‑Ilir

Sunan Kalijaga memanfaatkan Lir‑Ilir sebagai media dakwah yang memadukan ajaran Islam dengan tradisi Jawa. Setiap bait mengandung filosofi yang mengajak manusia bangkit, memperbaiki diri, dan menjaga semangat hidup.

Ilir, tandure wis sumilir – artinya tanaman sudah mulai bersemi, mengingatkan agar manusia menyadari dan menghidupkan potensi diri.

Royo, tak sengga temanten anyar – melukiskan tanaman yang hijau bak pengantin baru, simbol pertumbuhan dan kebahagiaan yang harus dipelihara.

Cah angon, cah angon; Penekna blimbing kuwi; lunyu penekna – ajakan bagi sang gembala untuk memanjat pohon belimbing, meski licin, menandakan usaha menapaki lima rukun Islam dalam kehidupan.

Kanggo mbasuh dodotira; dodotira; Kumitir bedhah ing pinggir – mengingatkan pentingnya membersihkan dan memperbaiki diri sebelum menapaki tanggung jawab.

Dondomana jlumatana kanggo sebo mengko sore – pesan agar tidak menyia‑nyiakan waktu, mempersiapkan diri untuk masa depan.

Mumpung padhang rembulane; Mumpung jembar kalangane; Yo suraka, surak iyo.. – seruan untuk bersorak dan memanfaatkan kesempatan selagi cahaya masih bersinar.

Radjawali SCC: Panggung Seni Bertaraf Internasional

Gedung Radjawali Semarang Cultural Center, berlokasi di Jalan Kapten Piere Tendean No. 32, Sekayu, Semarang Tengah, menjadi latar pembukaan summit. Bangunan tersebut menggabungkan elemen hutan, laut, dan motif batik, menampilkan sinergi antara warisan tradisional dan desain modern.

Fasilitas internasional ini memberikan ruang bagi seniman untuk menampilkan karya berskala nasional hingga global, sekaligus menegaskan peran budaya sebagai identitas bangsa dalam forum zakat dan filantropi Muhammadiyah.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Lazismu Jawa Barat Raih Penghargaan Terbaik Nasional di Muhammadiyah Zakat Summit 2026

Lazismu Jawa Barat Raih Penghargaan Terbaik Nasional di Muhammadiyah Zakat Summit 2026

Lazismu Jawa Barat dinobatkan sebagai Lazismu Terbaik Nasional pada ajang Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang diselenggarakan di Radjawali Semarang Cultural Center, Jumat 6 November 2026.

Selain predikat utama, lembaga tersebut juga berhasil mengamankan tiga penghargaan Lazismu Award lainnya, yaitu Laporan Terbaik, Program Sosial Dakwah Terbaik, dan Pertumbuhan SISKA Terbaik. Ia juga masuk dalam dua nominasi tambahan: Program Lingkungan Terbaik dan Program Kesehatan Terbaik.

Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Barat, Chafid Seffriyadi, M.Pd., menjelaskan bahwa capaian ini berakar pada penguatan tata kelola organisasi serta penerapan sistem pelaporan berbasis spreadsheet yang memungkinkan pemantauan kinerja secara real‑time dari tingkat kantor pusat hingga kantor wilayah.

Melalui sistem tersebut, setiap kantor daerah yang memasukkan data dapat langsung dilihat oleh kantor pusat, sehingga proses evaluasi dan pengawasan menjadi lebih cepat dan terukur.

Jaringan Luas dan Inovasi Program

Lazismu Jawa Barat kini memiliki 27 kantor daerah atau kabupaten serta lima Kantor Layanan Lazismu (KLL) tingkat wilayah. Jaringan tersebut diperkuat oleh dua Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah, dua rumah sakit, serta satu pondok pesantren.

Di antara inovasi program, “Masjid untuk Negeri” menargetkan masyarakat di daerah terpencil Bandung Selatan dengan membangun musala di kawasan tempat pembuangan sampah (TPS). Sementara dalam bidang ketahanan pangan, lembaga ini mengembangkan makanan siap saji dalam kemasan kaleng—nasi, ikan, dan rendang—yang dapat dipakai untuk logistik darurat.

Struktur Organisasi yang Mendukung Kinerja

BP Lazismu Jawa Barat dijalankan oleh lima orang inti: ketua, sekretaris, dan tiga wakil ketua. Wakil ketua pertama mengurusi fundraising dan kerja sama, wakil ketua kedua bertanggung jawab atas kelembagaan, kepatuhan syariah, serta sumber daya manusia, sedangkan wakil ketua ketiga memfokuskan pada pendayagunaan, pendistribusian, monitoring, dan evaluasi.

Chafid Seffriyadi, yang sebelumnya pernah memimpin Lazismu Cirebon selama satu periode, menutup pernyataannya dengan harapan predikat terbaik nasional ini akan memacu semangat seluruh anggota untuk terus berinovasi dan meningkatkan pelayanan.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Guru SD Muri Terapkan Metode Tajdid, Belajar Mengajar Al‑Qur’an Lewat Cerita dan Lagu

Guru SD Muri Terapkan Metode Tajdid, Belajar Mengajar Al‑Qur’an Lewat Cerita dan Lagu

Ustaz Sya’roni memulai lokakarya di SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri), Gresik, dengan mengayunkan sebatang lidi sambil bercerita tentang Jaza, anak yang membawa lidi untuk berburu kutu. Cerita sederhana itu mengundang tawa para guru dan menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kata kunci Metode Tajdid.

Mengharmonisasi Pengajaran Al‑Qur’an

Kepala SD Muri, Riza Agustina Wahyu Setyawati, M.Pd., menegaskan bahwa seluruh staf, baik guru maupun karyawan, wajib mengikuti pelatihan dua hari ini. Ia menekankan pentingnya konsistensi cara mengajar agar semua siswa dapat membaca Al‑Qur’an dengan tepat, bukan hanya menjadi tanggung jawab guru agama.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Umamah, S.Ag., menambahkan harapan bahwa guru‑guru akan terus melatih kemampuan mengaji dan secara rutin menerapkan metode baru yang dipelajari, sehingga anak-anak belajar dengan sukacita sebelum mencapai kefasihan.

Langkah Praktis Metode Tajdid

Pada siang hari, Ustaz Sya’roni menjelaskan prosedur membuka kelas: salam, sapaan "Kaifa halukum?", jawaban "Alhamdulillah", dilanjutkan dengan tepuk dada kiri sambil mengucapkan "Ma’an najah" dua kali, dan diakhiri dengan yel‑yel semangat "Tajdid? Yes!". Seluruh rangkaian ini diikuti dengan membaca Surah Al‑Fatihah setelah taawudz dan basmalah, serta doa dengan irama Hijaz.

Kata kunci pertama (A) terdiri dari lima istilah: sayabawa, lidi ini, buru kutu, hamaqata, dan shafajaza. Guru diajak menghafal lewat lagu "Satu Dua Tiga Empat" setelah mendengar cerita Jaza yang membawa lidi untuk mengusir kutu yang mengganjal di sofa.

Kata kunci kedua (B) meliputi sasyadzola, ghowa tsutsun, ‘alam hijau, dzanau thoba, serta khodhak lari. Untuk mengingatnya, peserta menyanyikan nada "Balonku Ada Lima" dengan lirik yang dirangkai menjadi sebuah puisi pendek:

Shasa mau ke mana
Dzolan ke rumah Tsutsun
Sambil memandang apa
Memandang alam hijau
Lalu pergi berenang
Berenang di Dzanau Toba
Tiba‑tiba melihat khodhok lari di sana

Selama sesi praktik (micro‑teaching), lima guru – termasuk Ustazah Nurul Ainia Rachmayuni dan Ustaz Muhammad Hilmi Fakhrudin – mencoba menerapkan teknik baru, sambil saling memberi masukan. Beberapa peserta sempat tertawa karena lupa urutan, namun suasana tetap kondusif untuk belajar.

Harapan ke Depan

Ustaz Sya’roni menutup pelatihan dengan harapan bahwa siswa SD Muri kelak dapat membaca Al‑Qur’an dengan standar internasional, bahkan berpotensi melahirkan tokoh penting di dunia Islam. Seorang wali kelas, Ustazah Nurul Istiqomah, mengaku termotivasi untuk terus meningkatkan kemampuan mengajarnya.

Pelatihan berakhir pada pukul 15.30 WIB dengan target penerapan penuh Metode Tajdid pada tahun ajaran 2027/2028.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co