Meneladani Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai fondasi utama bagi setiap Muslim. Namun, untuk dapat meneladani beliau secara konsisten, seseorang harus memiliki tiga landasan: keimanan yang teguh kepada Allah, orientasi hidup yang berfokus pada akhirat, serta kebiasaan berzikir yang terus-menerus.
Pembicara Saiful Bahri, anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyampaikan hal tersebut dalam program Mimbar Jumat TVMu pada Jumat, 4 September. Ia menegaskan bahwa Rasulullah diutus sebagai manusia paling mulia dan contoh terbaik bagi seluruh umat, baik dalam ranah pribadi maupun sosial.
Al‑Qur'an menyinggung tiga sifat yang harus dimiliki oleh orang yang ingin menjadikan Nabi sebagai uswatun hasanah. Ketiga sifat tersebut menjadi pilar yang menghubungkan hati seorang Muslim dengan teladan Nabi.
Pertama, keyakinan kuat kepada Allah serta harapan memperoleh ridha dan rahmat-Nya. Kedua, kepercayaan kepada hari kiamat dan kebangkitan. Ketiga, kebiasaan intens berzikir dan mengagungkan Allah dalam setiap situasi. Ketiga unsur ini menyiapkan seorang Muslim untuk lebih dekat dengan Nabi dan meneladani langkahnya.
“Meneladani Rasul dalam konteks pribadi maupun kolektif bukanlah hal yang mustahil,” ujar Saiful.
Membangkitkan Potensi Kebaikan
Saiful mengaitkan teladan Nabi dengan misi pembaruan yang dibawanya, merujuk pada Surah al‑Jumu‘ah ayat 2 yang menyoroti pengutusan Rasul di tengah masyarakat dengan tingkat literasi rendah. Menurutnya, Nabi hadir untuk mengaktifkan potensi kebaikan yang tersembunyi di balik budaya jahiliah.
Langkah awal Nabi ialah menyampaikan ayat‑ayat Allah, memperkenalkan konsep keesaan, serta memperkuat dimensi spiritual umat. Selanjutnya, beliau mengajarkan Al‑Qur’an, hikmah, dan bimbingan praktis.
Saiful mencontohkan asal usul Universitas Al‑Qarawiyyin dan Al‑Azhar yang bermula dari masjid, menegaskan pentingnya spiritualitas sebagai landasan pendidikan.
Ia menekankan bahwa meskipun manusia memulai dengan keterbatasan, potensi mereka tetap dapat berkembang. Nabi tidak menolak siapa pun yang datang dengan keimanan dan kesaksian atas kerasulannya; sebaliknya, beliau mengangkat potensi positif mereka.
Fikih Perubahan Sosial
Dalam konteks itu, Saiful mengajak umat menginternalisasi konsep fiqh al‑taghyir atau “fikih perubahan” yang kini dikenal sebagai al‑fiqh al‑insya’i, yakni hukum yang mengatur rekayasa sosial.
“Perubahan sosial harus dirancang secara sadar; bila tidak, kita justru menjadi korban perubahan yang tak terkontrol,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa ketika kemungkaran dibiarkan merajalela, praktik yang salah akan menjadi kebiasaan. Sebaliknya, perubahan yang disengaja dapat mengubah kondisi masyarakat menjadi lebih baik.
Contoh yang diambilnya adalah transformasi Madinah, yang dulunya menghadapi permasalahan sosial‑ekonomi, kemudian beralih menjadi pusat peradaban berkat upaya Nabi dalam mengoptimalkan potensi masyarakat.
Teladan Nabi dimulai dari pemahaman ayat‑ayat Qur’an, lalu diterjemahkan menjadi nilai yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari‑hari.
Iman kepada Akhirat Membentuk Visi
Karakter kedua yang menjadi syarat meneladani Nabi adalah keimanan pada hari akhir. Saiful menegaskan bahwa keyakinan akan kebangkitan menumbuhkan perspektif hidup yang melampaui kepentingan jangka pendek.
“Orang yang hanya memikirkan hari ini tanpa menimbang konsekuensi akhirat tidak memiliki visi jangka panjang,” katanya.
Ia memaparkan rangkaian fase eksistensi manusia: alam arwah, rahim, dunia, barzakh, hingga akhirat yang kekal. Kesadaran akan fase akhir ini seharusnya mempengaruhi perilaku di dunia.
Orang yang sadar akan pertanggungjawaban di akhirat akan menjauhi dusta, pengkhianatan, serta pelanggaran syariat. Saiful mengutip kisah Fatih yang mengenakan kain kafan pada mahkota sebagai simbol pengingat akan kematian dan tanggung jawab kepemimpinan.
Zikir sebagai Penguat Keteladanan
Karakter ketiga ialah meningkatkan zikir kepada Allah. Saiful menekankan bahwa perintah untuk selalu mengingat Allah berfungsi menjaga kedekatan spiritual secara berkelanjutan.
Ia mengkritik sikap manusia yang hanya mendekat kepada Allah saat membutuhkan, lalu menjauh bila tidak ada keperluan. Pola ini harus diganti dengan hubungan yang konsisten melalui zikir dan ibadah.
“Apapun posisi kita—berdiri, duduk, atau berbaring—kita dianjurkan mengingat Allah agar dapat meneladani Nabi,” ujarnya.
Zikir menjadi media untuk menanamkan nilai‑nilai kebaikan dalam setiap aktivitas, sehingga teladan Nabi dapat terwujud dalam perilaku nyata.