Al-Ma'un: Lazismu
Showing posts with label Lazismu. Show all posts
Showing posts with label Lazismu. Show all posts
Lazismu dan BPKH RI Gandeng Bangun Tiga Kelas Madrasah Diniyah di Sorong, Papua Barat Daya

Lazismu dan BPKH RI Gandeng Bangun Tiga Kelas Madrasah Diniyah di Sorong, Papua Barat Daya

Lazismu bersama Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) RI menandatangani kerja sama untuk mendirikan tiga ruang kelas baru pada Madrasah Diniyah (Madin) Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Tujuan Pembangunan

Menurut anggota Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, fasilitas baru ini direncanakan menjadi fondasi bagi generasi muda Papua yang berpengetahuan luas dan berakhlak mulia.

"Yayasan madrasah dan masyarakat setempat dapat berkontribusi nyata meningkatkan mutu pendidikan anak‑anak di Sorong," ujar beliau.

Ia menambahkan bahwa keberadaan tiga ruang kelas akan memperluas dampak positif dalam menyiapkan generasi yang siap berperan aktif membangun masyarakat dan bangsa.

Apresiasi dari BPKH

Yogashwara Vidyan, anggota Komite Investasi dan Penempatan BPKH RI, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat sejak tahap perencanaan hingga selesainya pembangunan kelas Madrasah Diniyah DDI Katimin, Sorong.

"Semoga ruang kelas ini menjadi tempat tumbuhnya ilmu, iman, akhlak, dan amal saleh, serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan umat," tuturnya.

Jadwal dan Penanggung Jawab

Andi Kurniawan, penanggung jawab Program Kemaslahatan BPKH‑Lazismu, menjelaskan bahwa proyek pembangunan tiga kelas dijadwalkan selesai dalam 100 hari kalender, dimulai 27 Desember 2025 dan berakhir 5 April 2026.

Ucapan Terima Kasih dari DDI

Muhammad Nur, Wakil Ketua Pengurus DDI, menyampaikan rasa syukur kepada Pemerintah Republik Indonesia, khususnya BPKH, atas bantuan tiga ruang kelas baru yang disalurkan melalui Lazismu.

"Bantuan ini merupakan bukti nyata kepedulian negara terhadap peningkatan sarana pendidikan dan dakwah, sehingga proses belajar mengajar serta kegiatan keagamaan dapat berlangsung lebih nyaman, aman, dan produktif," ujarnya.

Dengan fasilitas baru ini, diharapkan proses pembelajaran di DDI Katimin menjadi lebih optimal, sekaligus memperkuat peran madrasah sebagai pusat pengembangan ilmu agama dan karakter bagi pemuda Papua.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Mengenal Tiga Pola Hubungan Lazismu dengan Muhammadiyah dalam Upaya Fundraising

Mengenal Tiga Pola Hubungan Lazismu dengan Muhammadiyah dalam Upaya Fundraising

Lazismu memiliki kemampuan mengelola dana yang canggih, namun keberhasilan penggalangan dana sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan dengan organisasi induk, yaitu Muhammadiyah. Hubungan yang bersahabat, tegang, atau terpinggirkan masing‑masing menimbulkan dampak berbeda terhadap efektivitas program filantropi.

Model 1: Sinergi “Klop”

Dalam skenario ideal, Lazismu dan Muhammadiyah beroperasi selaras. Pimpinan kedua belah pihak saling memahami peran, sehingga visi organisasi dapat diterjemahkan menjadi aksi penggalangan dana yang terkoordinasi. Sinergi ini memanfaatkan jaringan masjid, lembaga pendidikan, dan kader Muhammadiyah untuk mengoptimalkan zakat, infaq, sedekah, wakaf, serta dana sosial lainnya.

Model 2: Hubungan “Cold”

Pola ini menggambarkan kedekatan yang renggang. Meskipun tidak terjadi konflik terbuka, masing‑masing entitas menjalankan agenda sendiri tanpa integrasi yang kuat. Akibatnya, potensi dana yang dapat digabungkan tidak termanfaatkan secara maksimal, meski belum menimbulkan hambatan serius.

Model 3: “Exclusion” atau Terpinggirkan

Pada model paling menantang, Lazismu tidak dianggap sebagai bagian integral ekosistem Muhammadiyah. Aktivitasnya bahkan dapat dipersepsikan mengganggu program yang sudah berjalan, sehingga menimbulkan kesulitan dalam koordinasi, komunikasi, dan legitimasi kelembagaan.

Dari “Cold” ke “Klop”: Jalan Konsolidasi

Ketiga pola tersebut bukanlah status permanen. Dengan pendekatan kelembagaan, dialog terbuka, serta demonstrasi hasil kerja yang konkret, hubungan yang semula dingin dapat beralih menjadi sinergi. Jika terjadi eksklusi, upaya diplomasi internal dan penegasan peran Lazismu sebagai instrumen filantropi Muhammadiyah menjadi kunci perubahan.

Inti keberhasilan fundraising Lazismu terletak pada kekuatan ekosistem: hubungan yang solid antara jam’iyah dan jemaah akan memperbesar peluang organisasi menjadi penggerak utama dalam pemberdayaan masyarakat.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Mahasiswa UM Surabaya Galang Rp650 Ribu untuk Korban Bencana di NTT

Mahasiswa UM Surabaya Galang Rp650 Ribu untuk Korban Bencana di NTT

Mahasiswa Komisi Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Achilles dari Universitas Muhammadiyah Surabaya berhasil mengumpulkan dana untuk membantu warga yang terdampak bencana alam di Nusa Tenggara Timur.

Penggalangan Dana Secara Online

Program penggalangan berlangsung selama sembilan hari, mulai 1 hingga 9 September 2026. Donasi diterima melalui platform Instagram, WhatsApp, serta jaringan internal organisasi, dengan partisipasi Badan Pimpinan Harian PK IMM Achilles dan masyarakat umum.

Jumlah total yang terkumpul mencapai Rp650.000.

Penyaluran Bantuan Melalui Lazismu Umsura

Seluruh dana diserahkan kepada Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Umsura, yang kemudian menyalurkan bantuan kepada korban di NTT.

Mahasiswa Tekankan Nilai Kepedulian Sosial

Yuliana Imroatus Sholikhah, ketua Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat PK IMM Achilles, menekankan bahwa meski jumlah bantuan terbilang kecil dibandingkan kebutuhan, semangat gotong‑royong dan niat ikhlas menjadi nilai utama.

“Donasi bukan sekadar angka, melainkan wujud keikhlasan untuk berbagi dan kehadiran kami di tengah masyarakat yang membutuhkan,” ujar Yuliana.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial di kalangan mahasiswa, agar aksi kepedulian tidak berhenti pada satu kali donasi saja.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Alat Efektif Pantau Keberlanjutan UMKM di Sidoarjo

Alat Efektif Pantau Keberlanjutan UMKM di Sidoarjo

Kotak infak yang ditempatkan di warung atau tempat usaha UMKM binaan Lazismu Sidoarjo kini berfungsi ganda: menjadi sarana monitoring perkembangan usaha sekaligus mendorong mustahik menjadi muzaki.

Tim Lazismu melakukan kunjungan setiap dua bulan, tidak hanya mengumpulkan infak dari kotak, tetapi juga menilai kondisi usaha penerima manfaat. Pendekatan sederhana ini memberi gambaran nyata tentang kelangsungan program pemberdayaan.

Monitoring lewat Kotak Infak

Program pemberdayaan UMKM Lazismu Sidoarjo diluncurkan setelah pandemi Covid-19 melanda ekonomi lokal, menyebabkan banyak usaha kecil tutup. Bersama Lazismu Pusat dan dukungan CSR Bank Mega Syariah, Lazismu Sidoarjo menyalurkan modal, peralatan, serta bantuan khusus untuk warung dan UMKM penyandang disabilitas.

Setelah bantuan diberikan, tim tidak meninggalkan penerima manfaat. Setiap dua bulan, petugas datang mengambil infak dan sekaligus memeriksa operasional usaha, menanyakan perkembangan penjualan, kendala, serta peluang baru.

Dengan cara ini, kotak infak menjadi titik temu antara donasi dan evaluasi, sekaligus menumbuhkan kebiasaan berbagi di kalangan penerima manfaat.

Kasus Bu Jujuk: Konveksi Bertahan Tiga Tahun

Salah satu contoh keberhasilan adalah Bu Zuariyah, yang lebih akrab disapa Bu Jujuk. Seorang single parent berusia 19 tahun, ia mengelola usaha konveksi sejak pandemi. Mengandalkan jaringan dalam organisasi sosial serta media sosial, Bu Jujuk berhasil menarik pesanan busana Muslim, seragam pengajian, dan pakaian acara.

Selama tiga tahun program, usahanya tetap berjalan dan ia mampu menyisihkan rata-rata Rp163.000 per bulan ke dalam kotak infak. Angka ini menjadi indikator perubahan: dari penerima bantuan menjadi penyumbang.

Peran Kotak Infak dalam Evaluasi Program

Data infak dan observasi lapangan memberikan gambaran lengkap tentang keberlanjutan usaha. Tim dapat mengidentifikasi UMKM yang masih membutuhkan dukungan tambahan, sekaligus menyoroti kisah sukses yang menginspirasi.

Hasil monitoring menjadi bahan pertimbangan dalam perbaikan program, memastikan bantuan tidak berhenti pada pemberian modal semata, melainkan berlanjut hingga usaha mencapai kemandirian ekonomi.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Donasi

Kotak infak Lazismu bertransformasi menjadi instrumen penting dalam proses monitoring dan evaluasi pemberdayaan UMKM. Melalui kunjungan rutin, Lazismu tidak hanya mengumpulkan infak, tetapi juga menilai dinamika usaha, membantu penerima manfaat mengatasi tantangan, dan mendorong mereka berkontribusi kembali kepada masyarakat.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Muhammadiyah Perkuat Aksi Kemanusiaan: Infak Jumat, Lazismu, dan Pemulihan Bencana di NTT, Sumatera, Kalimantan

Muhammadiyah Perkuat Aksi Kemanusiaan: Infak Jumat, Lazismu, dan Pemulihan Bencana di NTT, Sumatera, Kalimantan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Muhammadiyah memperluas upaya kemanusiaannya untuk membantu korban bencana di sejumlah wilayah melalui penggalangan infak Jumat, pengerahan relawan, layanan kesehatan, penyediaan kebutuhan pokok, serta pendampingan pada fase pemulihan.

Menurut Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, M. Izzul Muslimin, organisasi telah mengeluarkan arahan agar infak Jumat di masjid‑masjid Muhammadiyah dikumpulkan dan disalurkan kepada masyarakat yang terdampak, khususnya bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Izzul menekankan bahwa penggalangan dana tidak harus berhenti setelah satu minggu; umat Muhammadiyah dapat melanjutkan kontribusi bila diperlukan. Selain NTT, perhatian juga diberikan kepada korban kebakaran hutan dan lahan di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan.

"Artinya edaran itu tidak berarti satu pekan berhenti, tapi kalau seandainya ada yang ingin melanjutkan lagi juga enggak apa‑apa," ujar Izzul dalam acara Ruang Publik TVMu, 5 September.

Ia mengajak seluruh anggota Muhammadiyah menyalurkan kepedulian melalui infak Jumat maupun Lazismu di tiap tingkatan persyarikatan.

Dari Penghimpunan hingga Distribusi

Gerakan ini melibatkan beberapa unit internal. Lazismu berperan sebagai pengumpul dana, sementara Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menangani asesmen kebutuhan dan pelaksanaan bantuan di lapangan.

Bendahara MDMC, Dede Haris Sumarno, menegaskan bahwa semangat gotong‑royong dalam membantu korban bencana telah menjadi bagian integral dari tradisi Muhammadiyah.

"Kalau di Persyarikatan Muhammadiyah ini adalah sesuatu yang saya kira sudah sangat mendarah daging," kata Dede.

MDMC melakukan penilaian awal untuk memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran, mulai dari hunian darurat, pangan, layanan kesehatan, kebutuhan anak, pendidikan sementara, hingga fasilitas ibadah.

Di Flores, tim kesehatan MDMC mendirikan rumah sakit lapangan dan unit layanan bergerak karena pengungsi tersebar di banyak titik. Bantuan juga mencakup tempat tinggal sementara mengingat ancaman gempa susulan.

"Adik‑adik kita boleh saja mengalami kejadian seperti ini, tapi pendidikannya tidak boleh ditinggalkan," tambah Dede.

Di Kalimantan, MDMC tetap menempatkan tim khusus untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, sementara di Flores tim medis dari rumah sakit Muhammadiyah beroperasi secara bergiliran.

"Posisi membantu, tidak menggantikan pemerintah. Kita berkoordinasi mana rumah yang rusak berat, rusak sedang, dan sebagainya," jelas Dede.

Muhammadiyah One Response

Penanganan bencana tidak berhenti pada tahap darurat. Setelah situasi stabil, Muhammadiyah melanjutkan upaya pemulihan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Setiap majelis atau lembaga dalam jaringan persyarikatan mengambil peran sesuai kompetensinya: Majelis Ekonomi untuk revitalisasi ekonomi, Majelis Pendidikan Dasar Menengah untuk program pendidikan, serta perguruan tinggi dan rumah sakit untuk dukungan teknis.

Konsep ini disebut Muhammadiyah One Response, yakni sinergi seluruh elemen persyarikatan dalam rangkaian penanganan bencana.

"Tidak hanya satu atau dua lembaga, tapi seluruh elemen yang ada di persyarikatan bergerak bersama sesuai dengan tahapannya masing‑masing," ujar Dede.

Direktur Fundraising Lazismu, Mochammad Sholeh Farabi, menambahkan bahwa dukungan masyarakat harus berkelanjutan meski sorotan media mulai memudar.

"Jangan biarkan kepedulian itu berhenti walaupun kabar tentang bencana mulai menghilang dari televisi," kata Farabi.

Menurutnya, Muhammadiyah biasanya hadir sejak awal bencana dan tetap mendampingi korban hingga proses pemulihan selesai.

"Jadi jalan bencana itu panjang. Biasanya memang Muhammadiyah itu tim yang biasanya pertama datang tapi pulang paling terakhir," ujarnya.

Rp7,4 Miliar dan 20 Ribu Kaleng RendangMu

Lazismu melaporkan bahwa hingga kini dana yang terkumpul untuk penanganan bencana NTT mencapai sekitar Rp7,4 miliar, sesuai arahan Pimpinan Pusat.

"Menurut data yang terkumpul di Lazismu, berdasarkan surat PP Muhammadiyah untuk menghimpun itu sampai saat ini sudah masuk sekitar 7,4 miliar rupiah," kata Farabi.

Jumlah tersebut akan disalurkan berdasarkan hasil asesmen tim lapangan. Untuk bencana lain seperti kebakaran hutan dan erupsi, proses penghimpunan masih berlangsung.

Lazismu menyiapkan paket bantuan yang menyesuaikan dengan kelompok rentan, antara lain family kit, woman kit, dan hygiene kit. Di Kalimantan, bantuan tambahan berupa uang, masker, dan perlengkapan kesehatan juga telah tersedia.

Komunitas akademik Muhammadiyah turut berperan dengan menggalang bantuan melalui mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan ortom.

Selain dana, Lazismu menyalurkan sekitar 20 000 kaleng RendangMu—makanan siap saji berbahan daging kurban—kepada korban gempa di NTT melalui posko-posko Muhammadiyah.

"Saat ini kami sudah menyalurkan kurang lebih ada 20.000 kaleng," ungkap Farabi.

Farabi menegaskan bahwa semua dana dikelola dengan prinsip amanah, profesional, dan transparan, serta dilaporkan secara berkala melalui media dan kanal digital.

Mengusulkan Dana Abadi Kemanusiaan

Dede Haris Sumarno mengusulkan pembentukan dana abadi kemanusiaan untuk mempercepat respons awal saat bencana terjadi, sehingga tidak harus menunggu proses penggalangan dana.

"Namun apabila kita telah memiliki dana abadi kemanusiaan, insyaallah maka bahasa anak mudanya akan lebih gercep," ujar Dede.

Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan semangat Al‑Maun, yang menekankan bantuan tanpa memandang agama, suku, atau latar belakang.

"Bencana kemanusiaan itu melampaui segalanya. Tidak ada agama, tidak ada suku, semua kita bantu hanya karena rasa kemanusiaan," katanya.

Farabi menutup dengan mengingatkan bahwa dukungan publik—baik dana, tenaga, maupun barang—masih sangat dibutuhkan hingga korban benar‑benar pulih.

"Kami semua elemen di Muhammadiyah akan mendampingi para penyintas bencana sampai mereka pulih," pungkas ia.

📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Muhammadiyah Salurkan Beasiswa Rp4,5 Miliar untuk Dukung Studi 475 Kader

Muhammadiyah Salurkan Beasiswa Rp4,5 Miliar untuk Dukung Studi 475 Kader

 

“Tanpa perempuan yang cerdas tidak akan lahir generasi yang cerdas.” Annisa Nur Fitriana, kader Nasyiatul Aisyiyah itu tampak senang menerima beasiswa dari Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) dan Majelis Pemberdayaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI).

Baginya beasiswa ini tidak hanya berarti secara pribadi, tetapi juga membuktikan bahwa Muhammadiyah benar-benar hadir untuk umat.

“Jumlahnya lebih banyak dari tahun sebelumnya. Sebagai seorang ibu, saya bersyukur bisa meniti karier pendidikan sambil berorganisasi,” lanjutnya.

Annisa Nur Fitriana, kader Nasyiatul Aisyiyah menyampaikan syukur dan apresiasi atas beasiswa yang diterimanya. Foto/dok.lazismu

Penyerahan beasiswa kader Muhammadiyah ini digelar di Kantor PP Muhammadiyah, Cik Di Tiro, Yogyakarta, Senin (25/8/2025). Annisa bukan satu-satunya yang merasakan hal itu. Dari 475 penerima manfaat, banyak di antaranya adalah perempuan.

Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, hadir bersama Direktur Utama Lazismu Ibnu Tsani, serta Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan. Total beasiswa yang digulirkan mencapai Rp4,5 miliar, dengan nilai Rp14 juta untuk mahasiswa di luar negeri dan Rp10 juta bagi yang menempuh studi di dalam negeri.

“Agenda pentasyarufan beasiswa kader hari ini merupakan implementasi pilar program pendidikan yang kali kedua dilakukan Lazismu dan MPKSDI. Tahun ini ada 475 penerima manfaat, sementara secara keseluruhan sejak program berjalan sudah 800 orang dengan nilai Rp7,5 miliar,” kata Mujadid Rais. Ia menekankan agar para penerima memanfaatkan kesempatan ini sepenuh hati. “Beasiswa ini berasal dari uang zakat para muzaki. Mohon studinya dilanjutkan dengan penuh kesungguhan,” pesannya.

Bachtiar Dwi Kurniawan menyebut respons pendaftaran beasiswa tahun ini begitu tinggi. “Ini sangat membahagiakan, ada dinamika dan kolaborasi. MPKSDI juga memberi dukungan pendampingan keislaman, Kemuhammadiyahan, serta keterampilan sosial bagi penerima,” jelasnya. Ia menambahkan, dukungan tidak berhenti di tahap seleksi, melainkan juga pada proses pengkaderan, kepemimpinan, dan organisasi.

Apresiasi juga datang dari Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib. “Selamat kepada penerima manfaat yang mendapatkan beasiswa ini, karena Lazismu telah memberikan yang terbaik,” katanya. Irwan menilai program ini sebagai wujud kesungguhan persyarikatan menyiapkan kader. “Semangat melanjutkan pendidikan dan melahirkan pemikiran progresif perlu terus dipelihara,” tambahnya.

Di balik angka dan formalitas penyaluran, ada wajah-wajah muda Muhammadiyah yang menaruh harapan besar pada beasiswa ini. Seorang penerima mengaku, keterbatasan yang dihadapi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. “Kesempatan ini ajang untuk terus berkarya. Mudah-mudahan kami bisa kembali memberikan manfaat untuk Muhammadiyah di bidang manapun kami nanti berkarya,” ucapnya.

Sumber tulisan:Jakartamu.com