Pesan M. Muchlas Abror pada Pengajian di Yogyakarta - Al-Ma'un

Pesan M. Muchlas Abror pada Pengajian di Yogyakarta

M. Muchlas Abror, mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2005–2010), menegaskan bahwa setiap detik kehidupan harus diisi dengan perbuatan baik, kerja keras, dan pengabdian kepada Allah SWT.

Pengajian Ahad Pagi di Masjid Mataram, Yogyakarta

Pada Ahad, 13 September, ia menyampaikan ceramah di Masjid Mataram, Pakel Baru, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Dalam sambutannya, Muchlas menekankan bahwa waktu yang telah lewat tidak dapat dipulihkan, sehingga kesempatan yang ada kini harus dimanfaatkan untuk menambah amal kebajikan dan memberi manfaat bagi sesama.

"Kehidupan ini harus diisi dengan amal baik, kerja keras, serta pengabdian kepada Allah SWT," ujarnya.

Etika Sosial dan Keseimbangan Dunia‑Akhirat

Ia mengajak umat untuk senantiasa menghargai, menolong, dan menjaga hubungan baik antar sesama tanpa memandang perbedaan. Selain itu, Muchlas menekankan pentingnya menyeimbangkan urusan dunia dengan persiapan akhirat, menjadikan setiap kesempatan hidup sebagai ruang perbaikan diri dan kontribusi bagi lingkungan.

Pesan tersebut selaras dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al‑Hakim dari Ibnu ‘Abbas, yang mengingatkan umat agar tidak menyia‑nyiakan kesempatan yang Allah berikan.

"Hadis ini mengajarkan agar manusia tidak menyia‑nyiakan kesempatan yang diberikan Allah SWT," jelasnya.

Generasi Muda, Kesehatan, dan Kerja Sebagai Ibadah

Muchlas khususnya menyoroti peran generasi muda, mengingatkan bahwa masa produktif harus diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. "Jangan sampai masa muda berlalu tanpa diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, agar tidak menyesal di usia senja," tegasnya.

Ia juga menilai kesehatan sebagai nikmat berharga. Selama tubuh masih fit, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, beribadah, dan melakukan amal kebaikan.

"Selagi sehat, gunakanlah kesehatan untuk beribadah, bekerja, dan melakukan amal kebaikan," ajaknya.

Menurut Muchlas, pekerjaan tidak sekadar memenuhi kebutuhan materi, melainkan dapat menjadi ibadah bila dijalankan dengan niat yang tulus, kejujuran, dan tanggung jawab.

"Kerja yang dilakukan dengan sungguh‑sungguh, jujur, dan bertanggung jawab merupakan bagian dari amal saleh," katanya.

Penutup: Mengukir Jejak Kebaikan

Ia menutup ceramah dengan menekankan bahwa setiap waktu yang masih dimiliki adalah peluang untuk menabur kebaikan. Hidup bukan hanya diukur dari apa yang didapatkan untuk diri sendiri, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

"Kita dapat mengisi dan menggunakan waktu sebaik‑baiknya, berbuat kebaikan kepada sesama, sehingga semakin tinggi nilai manfaatnya bagi orang lain, amal itu semakin utama dan berkah," pungkasnya.

Secara keseluruhan, pesan Muchlas menegaskan pentingnya kesadaran akan keterbatasan hidup dan mengajak setiap individu—khususnya generasi muda—untuk menjadikan setiap momen sebagai sarana berkontribusi, memperkuat iman, serta menyiapkan bekal akhirat.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id