Tanwir terakhir untuk periode 2022‑2027 akan dilangsungkan pada November 2026 di Universitas Muhammadiyah Palu, Sulawesi Tengah. Kegiatan ini menjadi forum tertinggi kedua setelah Muktamar dalam struktur AD/ART Muhammadiyah.
Sementara itu, persiapan Muktamar ke‑49 yang dijadwalkan pada 2027 tengah digencarkan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Tanwir Palu akan menandai akhir siklus 2022‑2027 sekaligus menjadi momentum untuk merumuskan program jangka panjang organisasi.
Dalam sambutan peluncuran logo Tanwir serta peringatan Milad ke‑114 Muhammadiyah pada 12 September di kantor PP Yogyakarta, Haedar menekankan, “Di Tanwir nanti, kami akan menyusun visi program Muhammadiyah untuk 25 tahun ke depan.” Ia menambahkan bahwa sejak tahun 2000 Muhammadiyah telah menyusun rencana lima tahunan, dan kini paket strategi tersebut telah selesai, sehingga diperlukan pembaruan yang mencakup kuartal berikutnya.
Organisasi yang telah menginjak 114 tahun menekankan pentingnya kesinambungan kebijakan, tidak seperti program pemerintah yang kadang terputus‑putus. Haedar mengingatkan bahwa agenda organisasi harus berjalan berkesinambungan agar tidak meninggalkan celah penyelesaian.
Bersama Satukan Bangsa: Refleksi Kebangsaan
Milad ke‑114 mengusung tema “Bersama Satukan Bangsa”, menegaskan potensi persatuan dalam keragaman Indonesia yang berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, realitas politik dan ekonomi yang dinamis menimbulkan perbedaan pandangan yang tajam. Haedar menilai kedua sektor tersebut sebagai sendi strategis yang memerlukan dialog konstruktif untuk menemukan titik temu dan moderasi.
Ia menambahkan, “Tanwir ini kami jadikan sarana menegaskan bahwa modal sosial bangsa harus terus digerakkan, bukan dibiarkan statis, agar mampu menghadapi tantangan perbedaan.”
Pemimpin organisasi menekankan bahwa pengelolaan keragaman memerlukan visi kepemimpinan yang merata, tidak hanya di tingkat pusat tetapi hingga ke akar rumput. Tanggung jawab tersebut bukan eksklusif pemerintah, melainkan juga lembaga kemasyarakatan.
Bagi Muhammadiyah, persatuan harus bertransformasi menjadi kemajuan nyata, membangun peradaban yang lebih maju. Oleh karena itu, upaya menyatukan bangsa bukan sekadar agenda rakyat, melainkan harus diusung oleh kalangan elit yang memelihara semangat kebersamaan demi tujuan bersama.
Dengan agenda ini, Tanwir Palu diharapkan menjadi tonggak penting dalam menentukan arah gerak Muhammadiyah selama satu setengah generasi ke depan.