Di sebuah ruang belajar pesantren, generasi santri kini tidak hanya mendalami kitab kuning, melainkan juga menguasai teknologi modern seperti robotika, pemrograman, dan kecerdasan buatan.
Kunjungan Tingkat Nasional
Pada 16 Oktober 2026, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyaksikan langsung proses pembelajaran AI dan robotika di Pondok Pesantren Darullughah Waddawa'ah (Dalwa), Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Santri‑santri menampilkan hasil karya berupa cetakan tiga dimensi (3D) dan aplikasi pengenalan wajah berbasis AI.
Sehari setelahnya, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut, menilai program itu sebagai langkah konkrit memperluas cakupan ilmu pengetahuan dan teknologi di lingkungan pesantren.
Menjembatani Tradisi dan Teknologi
Pengalaman di Dalwa menegaskan bahwa pesantren tidak perlu memilih antara melestarikan tradisi keilmuan Islam dan mengadopsi kemajuan teknologi. Kedua aspek dapat berjalan selaras asalkan teknologi diperlakukan sebagai alat yang memperkaya manfaat ilmu, tanpa menggantikan nilai akhlak, logika, dan tanggung jawab moral.
Pertanyaan penting kini beralih pada bagaimana program AI‑robotika ini dapat bertransformasi dari proyek percontohan menjadi kapasitas berkelanjutan yang menjangkau lebih banyak santri serta menghasilkan inovasi berdampak bagi masyarakat.
Contoh Lain di Pacitan
Pondok Pesantren Tremas di Pacitan juga menggelar kegiatan serupa pada 30 April 2026. Selama dua hari, 30 santri dan santriwati tingkat Madrasah Aliyah mengikuti kurikulum robotika berbasis berpikir komputasional. Kegiatan itu menandai langkah awal pendidikan teknologi di pesantren, sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan tidak semata diukur dari kecanggihan peralatan atau kunjungan pejabat.
Ukuran keberhasilan yang lebih relevan adalah kemampuan para santri dalam mengidentifikasi permasalahan, menyusun strategi penyelesaian, menguji hipotesis, dan menghasilkan produk yang memiliki nilai kegunaan nyata.
"Masa depan santri tidak hanya tentang mengoperasikan mesin atau menulis kode, melainkan menggabungkan ilmu, akhlak, kreativitas, dan kepedulian sosial untuk mencipta solusi yang bermanfaat," ujar seorang pendidik setempat.