Perayaan hari jadi ke‑81 Provinsi Jawa Timur pada 12 Oktober 2026 menjadi momentum untuk meninjau capaian pembangunan sekaligus menyoroti tantangan yang masih harus diatasi.
jumlah layanan digital belum otomatis menjamin kemudahan bagi seluruh warga
Di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, tema “Jawa Timur Unggul, Maju Berkelanjutan” dijadikan kompas arah kebijakan. Namun, arti sejati tema itu tidak hanya terletak pada rangkaian acara atau penghargaan, melainkan pada dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat, mulai dari petani yang memperoleh penghasilan layak, anak‑anak di daerah pinggiran yang mendapatkan pendidikan berkualitas, hingga keluarga rentan yang lebih mudah mengakses layanan kesehatan.
Modal dan Tantangan
Provinsi ini menyimpan potensi ekonomi yang luas, menjadi pusat industri, perdagangan, pertanian, serta distribusi barang strategis bagi perekonomian nasional. Tantangannya bukan sekadar mempertahankan posisi itu, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi bertransformasi menjadi kesejahteraan yang merata.
Angka Kehidupan
PDB provinsi Jawa Timur mencatat pertumbuhan 5,33 % pada 2025, dengan nilai produk domestik regional bruto (harga berlaku) mencapai Rp 3.403,17 triliun. Sektor industri pengolahan menyumbang 31,32 % dari total struktur ekonomi, menandakan daya tarik produksi yang tinggi.
Di bidang pertanian, produksi padi pada 2025 mencapai 10,44 juta ton gabah kering giling, naik 12,60 % dibandingkan tahun sebelumnya, dan menyumbang sekitar 17,34 % produksi padi nasional, memperkuat peran Jawa Timur sebagai penyangga ketahanan pangan Indonesia.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik melaporkan persentase penduduk miskin turun menjadi 9,06 % pada Maret 2026, dibandingkan 9,50 % pada Maret 2025. Namun, jumlah orang yang masih berada di bawah garis kemiskinan tetap mencapai 3,712 juta jiwa. Tingkat kemiskinan ekstrem pada 2025 tercatat 0,29 %, menandakan perlunya intervensi lebih terarah untuk menghapus angka tersebut.
Penurunan persentase kemiskinan merupakan indikator positif, namun realitas jumlah penduduk miskin mengingatkan bahwa pekerjaan rumah belum selesai. Banyak keluarga masih harus membagi pendapatan untuk kebutuhan pokok, pendidikan, perumahan, dan kesehatan.
Pasar Kerja dan Kualitas Pekerjaan
Data BPS menunjukkan tingkat pengangguran terbuka Jawa Timur pada Februari 2026 sebesar 3,55 %, turun 0,06 poin persentase dari Februari 2025. Namun, proporsi tenaga kerja yang terdaftar pada sektor formal menurun menjadi 35,56 %, turun 0,53 poin persentase dalam periode yang sama. Penurunan angka pengangguran belum otomatis berarti tercipta lebih banyak pekerjaan yang menjamin pendapatan stabil, perlindungan sosial, dan prospek karier.
Oleh karena itu, pertumbuhan industri dan investasi harus dihubungkan dengan penciptaan lapangan kerja yang layak, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah. Tanpa sinergi tersebut, pertumbuhan ekonomi dapat terus melaju sementara sebagian masyarakat tetap berada dalam pekerjaan yang tidak aman.
Pusat dan Pinggiran
Keseimbangan antara pusat kota dan wilayah pinggiran menjadi kunci untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif, di mana manfaat pertumbuhan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.