PT Jakarta International Container Terminal (JICT) menekankan pentingnya sinergi lintas perusahaan dalam memperkuat daya saing sektor logistik nasional lewat ajang Pelindo Container Cup 2026 yang digelar di GOR Soemantri Brodjonegoro, Jakarta Selatan, pada Jumat 30 Oktober.
Turnamen sebagai Sarana Membangun Ekosistem Logistik
Max Suswendi, Direktur Keuangan JICT sekaligus Ketua Panitia Container Cup 2026, menyatakan bahwa keberhasilan industri pelabuhan tidak semata‑mata bergantung pada infrastruktur, teknologi, atau produktivitas terminal, melainkan pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan beroperasi sebagai satu ekosistem yang terintegrasi.
JICT memandang turnamen tersebut sebagai wadah untuk mempererat jaringan profesional, meningkatkan komunikasi antar pemangku kepentingan, serta menumbuhkan budaya kerja kolaboratif di luar aktivitas operasional harian.
Ia menegaskan bahwa logistik yang tangguh tidak dapat terwujud bila hanya dikerjakan oleh satu entitas tanpa adanya kepercayaan dan koordinasi antar pelaku industri.
"Logistik yang kuat tidak dibangun oleh satu perusahaan yang bekerja sendiri. Dibutuhkan kepercayaan, komunikasi, dan kolaborasi dari seluruh pelaku industri. Container Cup menjadi ruang untuk memperkuat nilai‑nilai tersebut di luar aktivitas operasional sehari‑hari," ujar Max.
Sejarah dan Format Kompetisi
Konsep Container Cup berakar dari inisiatif komunitas JICT Ballers pada 2025, ketika edisi pertama mempertemukan 18 tim dari grup Pelindo, perbankan, serta mitra logistik dalam format basket tiga lawan tiga (3x3).
Pada tahun 2026, kompetisi kembali digelar dengan dua kategori utama, yaitu Champion Division dan Executive Division 45+, dan komunitas JICT Ballers berpartisipasi aktif di kedua divisi tersebut.
Nilai Strategis Basket 3x3 untuk Operasional Pelabuhan
Max menjelaskan bahwa dinamika permainan 3x3 mencerminkan kompetensi yang dibutuhkan di pelabuhan modern, seperti pengambilan keputusan cepat, komunikasi efektif, disiplin, dan kerja sama tim.
"Di lapangan, setiap pemain harus memahami perannya, membaca situasi, dan bergerak bersama untuk mencapai tujuan. Prinsip yang sama berlaku dalam pengelolaan terminal peti kemas. Kecepatan tanpa koordinasi tidak akan menghasilkan kinerja yang optimal," tuturnya.
Transformasi Operasional JICT
Selain menggelar turnamen, JICT terus memperkuat transformasi operasional melalui modernisasi peralatan, digitalisasi proses, dan peningkatan keandalan layanan terminal untuk mendukung aliran barang nasional.
Max menambahkan bahwa kemajuan teknologi tidak cukup; sumber daya manusia tetap menjadi kunci utama perubahan, sehingga investasi pada hubungan solid dan budaya kolaboratif dianggap penting untuk menjaga daya saing logistik Indonesia ke depan.