Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, menekankan pentingnya menjadikan kesehatan sebagai bekal dalam menunaikan amal saleh ketika menyampaikan sambutan pada Pengajian Tarjih edisi spesial, rangkaian Musyawarah Nasional Tarjih XXXIII yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Rabu (4/11).
Kesehatan: Nikmat yang Sering Terlupakan
Ia membuka kajian dengan mengingatkan hadis Nabi Muhammad Saw tentang dua anugerah yang cenderung membuat manusia lengah, yaitu kesehatan dan waktu luang. Kedua hal ini sering dianggap remeh karena hadir secara rutin dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal, kemampuan bernapas lega, menikmati makanan, dan melaksanakan aktivitas adalah karunia yang nilainya tak ternilai. Seseorang yang pernah mengalami gangguan pernapasan, misalnya, akan menyadari betapa berharganya udara yang selama ini dihirup tanpa kesulitan.
Tanpa tubuh yang sehat, di manakah nilai uang?
Menurut Agus, kepedulian terhadap kesehatan seharusnya seimbang dengan kepedulian terhadap harta. Banyak orang rela mengeluarkan biaya besar untuk membeli rumah, mobil, atau pakaian, namun menganggap pengeluaran untuk menjaga kesehatan sebagai beban mahal.
Ia mengutip lagi hadis tentang lima perkara sebelum lima perkara, menekankan pentingnya memanfaatkan masa sehat sebelum sakit melanda. Pesan tersebut mengajak umat memanfaatkan kondisi fit untuk menambah amal kebaikan.
Agus menegaskan bahwa aktivitas menjaga kesehatan dapat menjadi ibadah bila didasari niat yang tulus. Olahraga, pola makan seimbang, serta perawatan kebugaran dapat dihitung sebagai amal saleh bila ditujukan untuk melindungi amanah Allah dan mempersiapkan diri menunaikan ketaatan.
Waktu sehat tidak ibadah, ketika mau ibadah sudah sakit. Harusnya ketika sehat, ibadahnya semakin giat.
Ia menjelaskan bahwa kesehatan terbagi menjadi empat dimensi yang saling terkait: fisik, mental, sosial, dan spiritual. Seseorang belum dapat disebut sehat secara menyeluruh bila hanya satu dimensi yang baik sementara yang lain terganggu.
Contohnya, masalah sosial seperti utang atau konflik hubungan dapat memicu tekanan psikologis yang pada gilirannya memengaruhi kondisi fisik. Sebaliknya, penyakit fisik seperti stroke dapat mengganggu kesehatan mental, interaksi sosial, bahkan praktik spiritual.
Agus mengajak masyarakat untuk membangun kebiasaan hidup sehat melalui pemeriksaan rutin, pengendalian penyakit, pola makan tepat, aktivitas fisik, serta pengelolaan emosi. Ia memperingatkan agar tidak mudah mempercayai klaim pengobatan yang tidak memiliki dasar ilmiah.
Menurutnya, anggapan bahwa semua bahan herbal selalu aman dan obat medis selalu berbahaya adalah persepsi keliru. Pengobatan harus berlandaskan bukti ilmiah dan dilakukan di bawah bimbingan tenaga kesehatan yang kompeten.
Sebagai penutup, Agus mengajak peserta untuk menjadikan membaca Al‑Qur’an sebagai kebiasaan harian. Ia menyebut sejumlah studi yang menunjukkan manfaat membaca Al‑Qur’an bagi fungsi kognitif, sehingga kebiasaan tersebut sekaligus berkontribusi pada kesehatan fisik dan memperkuat dimensi spiritual.