Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pusat Muhammadiyah sedang menyiapkan peta jalan kedaulatan pangan yang akan menjadi kerangka kerja utama hingga tahun 2028. Inisiatif ini menitikberatkan pada pengembangan pertanian berkelanjutan, varietas tanaman unggul, serta penyediaan benih berkualitas tinggi.
Strategi Menghadapi Tantangan Demografis
Ketua MPM Pusat, M. Nurul Yamin, menyatakan bahwa langkah tersebut diambil dalam rangka menanggapi proyeksi pertumbuhan penduduk global yang diperkirakan mencapai 9–10 miliar jiwa pada 2050, naik dari sekitar 8,3 miliar saat ini. Di dalam negeri, populasi Indonesia diperkirakan akan menyentuh 287 juta jiwa pada 2026, menambah beban kebutuhan pangan nasional.
Yamin menekankan, peningkatan jumlah penduduk menuntut produksi pangan yang lebih tinggi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menambahkan, “Kita harus memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien dan tetap menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian.”
Fokus pada Pertanian Berkelanjutan
Menurut MPM, sektor pertanian Indonesia tengah dihadapkan pada alih fungsi lahan, frekuensi ekstrem cuaca seperti kekeringan dan banjir, serta penurunan kualitas tanah. Oleh karena itu, pertanian berkelanjutan dijadikan landasan untuk memastikan produksi pangan tidak hanya mencukupi kebutuhan kini, tetapi juga melindungi sumber daya alam bagi generasi mendatang.
Model pertanian berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi usaha tani, menambah nilai ekonomi, memperbaiki kesejahteraan petani, serta memperluas akses masyarakat terhadap pangan bergizi.
Varietas Unggul dan Benih Bermutu sebagai Kunci
Yamin menegaskan bahwa kedaulatan pangan tidak hanya soal luas lahan, melainkan juga inovasi teknologi. Pengembangan varietas unggul dan penyediaan benih berkualitas menjadi pilar utama. Faktor genetik melalui varietas unggul dipandang sebagai dasar peningkatan produktivitas tanaman, sementara benih berkualitas memastikan potensi genetik tersebut dapat terwujud di lapangan.
Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mendukung pertanian yang ramah lingkungan dan meningkatkan ketahanan pangan.
Pengenalan Padi Mentari 1
Sebagai wujud konkret, Muhammadiyah melalui MPM meluncurkan varietas padi bernama Mentari 1 pada Jambore Nasional Jamaah Tani Muhammadiyah (Jamnas I JATAM) 2025 di Kebumen, Jawa Tengah. Varietas ini mencatat rata‑rata hasil panen 6,7 ton per hektare gabah kering giling (GKG) dengan potensi mencapai 9,7 ton per hektare. Selain produktivitas tinggi, Mentari 1 memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dan kadar amilosa yang lebih rendah dibandingkan varietas konvensional.
Pengembangan Mentari 1 diharapkan memperkuat kemandirian petani, meningkatkan pendapatan, dan menumbuhkan ekosistem pertanian yang lebih resilient.
Menuju 2028
MPM menargetkan bahwa melalui pemupukan varietas unggul seperti Mentari 1 dan penyediaan benih berkualitas, Indonesia dapat memperkuat kedaulatan pangan menjelang 2028. Yamin menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk menjadi aktor utama dalam memastikan bangsa memiliki kemampuan produksi pangan yang mandiri dan berkelanjutan.