Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts
Bunuh Diri Anak dan Dua Cara Membacanya

Bunuh Diri Anak dan Dua Cara Membacanya

Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI 

Kasus bunuh diri murid sekolah dasar di NTT menghadirkan ironi tajam atas klaim kebahagiaan yang kerap dikemukakan. Tragedi ini menuntut pembacaan yang lebih cermat tentang bagaimana kesedihan bekerja, bereskalasi, dan luput dari perhatian kita bersama.

Oleh Reza Indragiri Amriel; Ahli Psikologi Forensik

 YBR (10), seorang murid sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia setelah diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Dugaan sementara, motofnya karena tidak bis amembeli alat tulis.

Tentang bunuh diri anak-anak, saya sudah menulis sejak 23 tahun lalu di Republika. Coba baca bunga rampai Ajari Ayah ya, Nak, terbitan Serambi, tahun 2014 silam.

Kalau mau membuka mata, anak-anak yang kesulitan membeli alat tulis adalah fenomena “biasa”. Lebih parah: banyak yang bahkan sampai tidak bisa bersekolah. Lebih parah lagi: banyak yang tidak bisa makan. Tapi mereka tidak bunuh diri.

Jadi, kalau mau membuka hati, sesungguhnya bukan masalah anak tidak bisa membeli alat tulis yang membuat geger.


Klaim Kebahagiaan

Peristiwa menyedihkan sekaligus menakutkan ini sebaiknya diperhatikan oleh Presiden Prabowo Subianto dengan secermat mungkin. Pasalnya, ini kontras dengan gembar-gembor salah kaprah Presiden bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya paling bahagia sedunia.

Tentu, kesedihan (ketidakgembiraan) harus dilihat sebagai spektrum, bukan biner atau hitam-putih. Jadi, ada skala mulai dari yang agak sedih sampai yang paling sedih. Pada tingkatan kesedihan terparah, terjadilah keputusasaan yang hanya bisa “diobati” pelaku dengan mengakhiri hidupnya sendiri.

Warga yang kesedihannya berada pada level di bawah itu pasti sangat banyak. Tapi apakah kita memerhatikan populasi yang sesungguhnya amat sangat besar itu? Pasti tidak. Kita sudah mati rasa terhadap penderitaan yang baru “sebatas” itu. Kita hanya terperanjat ketika merespons kesengsaraan terekstrem, seperti yang terjadi pada anak NTT itu.

Dua Cara Membaca

Kita boleh memilih simpulan apa yang paling pas untuk memotret kemalangan berujung tragedi pada bocah NTT itu.

Pertama, bunuh diri merupakan ujung akhir dari duka nestapa yang terus bereskalasi dari waktu ke waktu (kronis). Karena kronis, semestinya kematian bisa dicegat jika kita cukup awas mengamati perubahan tabiat anak, mulai dari kemunculan pemikiran tentang bunuh diri, dan seterusnya. Pusat masalah mereka berada pada afeksi.


Kalau simpulan itu yang kita iyakan, maka bisa dibayangkan betapa tingginya risiko anak-anak Indonesia untuk bunuh diri. Mereka yang tidak kunjung bersekolah, mereka yang lapar berkepanjangan, mereka yang penyakitnya semakin parah, dapat dipahami sebagai anak-anak yang terus bergerak menuju titik pengambilan keputusan terekstrem seperti anak NTT tadi.

Kedua, bunuh diri lebih merupakan wujud depresi reaktif. Mirip depresi, tetapi pemunculannya sekonyong-konyong. Jadi, terbitnya keputusan untuk bunuh diri lebih disebabkan oleh keterbatasan wawasan seseorang dalam menemukan solusi-solusi konstruktif atas persoalan yang sedang ia hadapi.

Persoalannya—anggaplah—tidak terlalu berat, tetapi pengetahuannya tentang opsi-opsi jalan keluar masih terlalu minim. Jadi, pokok masalahnya ada pada kognisi.

Apa pun itu, betapa pilunya kita menangkap warna altruistis pada peristiwa bunuh diri murid SD di NTT itu. Ia mengakhiri hidupnya sendiri guna mengurangi beban hidup orang yang ia sayangi.

Belum lama #kaburajadulu membahana di media sosial. Presiden berang. Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan meradang. Mereka gagal membaca suasana batin kaum muda yang merasa negeri ini (tepatnya: pengelola negeri ini) tak lagi bisa diharap.

Anak NTT itu ‘cuma’ merealisasikan tagar tadi lewat perilaku paling fatalistis.

Seketika terbayang suara cempreng Iwan Fals:
“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu.
demi satu impian yang kerap mengganggu tidurmu.
anak sekecil itu tak sempat menikmati waktu.
dipaksa memecahkan karang, lemah jarimu terkepal.”

Kontras dengan sosok semisal Fufufafa. Andai Fufufafa mau mengakui betapa beratnya beban yang terpaksa kita tanggung akibat keberadaannya, lalu ia pamit baik-baik, saya bakal mencari lagu Iwan Fals yang lebih gembira. (#)

Samping kuburan kucing, 5 Februari 2026

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Sumber Tulisan:tagar.co

 Kabupaten Ramah Anak, Jargon yang Enak Didengar, tapi Ini Faktanya

Kabupaten Ramah Anak, Jargon yang Enak Didengar, tapi Ini Faktanya

 


anak-anak putus sekolah karena miskin

Kabupaten Ramah Anak, faktanya ada ratusan ribu anak yang dipaksa berhenti belajar bukan karena malas, tapi karena kondisi.

Oleh Khoirul Anam, Aktivis Muhammadiyah Children Center

 Kabupaten Ramah Anak (KRA) kedengarannya manis. Kayak nama menu dessert di kafe hipster.

Tapi jangan terkecoh, di balik spanduk warna-warni yang mulai pudar dimakan hujan, baliho bupati senyum full HD, dan jargon seperti Anak Terlindungi, Negara Maju, ada cerita getir yang bahkan gula jawa pun nggak bisa menetralkan.

Kita buka dulu datanya. Tahun 2024 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat 38 kabupaten/kota di Jawa Timur sudah pegang predikat Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).

Mulai dari tingkat pratama, madya, nindya, sampai utama. Keren bukan? Di brosur iya, tapi di lapangan? Ehm…

Mending kita ngomong pakai angka nasional biar nggak dibilang “nyerang daerah”.


Putus Sekolah: Naik Tipis, Luka Nggak Tipis

Data secara nasional, angka putus sekolah 2024 malah naik di beberapa jenjang. SD dari 0,17 % ke 0,19 %.

SMP dari 0,14 % ke 0,18 %, dan SMK tembus 0,28 %.

Jumlahnya nggak main-main sekitar 38.500 anak SD putus sekolah tahun itu.

Itu belum termasuk 730 ribu lebih anak lulusan SMP yang nggak melanjutkan sekolah.

Artinya, di negeri yang katanya “ramah anak” ini, ada ratusan ribu anak yang dipaksa berhenti belajar bukan karena malas, tapi karena kondisi.

Ada yang harus bantu orang tua jualan, ada yang kerja di sawah, ada juga yang… kawin.


Pekerja Anak

Badan Pusat Statistik mencatat pada tahun 2024 jumlah pekerja anak rentan usia 10–17 tahun mengalami kenaikan dari 1,01 juta (2023) jadi 1,27 juta orang.

Angka kenaikannya 2,39 % menuju 2,85 % dalam setahun. Dan keseluruhan ada di perdesaan berada pada angka 2,82 %, sisanya di perkotaan menunjukkan angka di 1,72 %.

Bayangkan anak-anak yang mestinya sibuk ikut ekskul atau lomba cerdas cermat, malah sibuk bawa cangkul, ngojek, atau jadi buruh pabrik rumahan.

Dan ya, mereka bekerja bukan buat beli iPhone, tapi buat beli beras.


Pernikahan Dini: Daripada Zina ke Daripada Kelaparan

Pemerintah pusat bangga karena target menurunkan angka pernikahan anak dari 11,21 % (2018) menuju 8,74 % pada (2024).

Tapi mari jujur ribuan anak melakukan pernikahan di bawah umur.

Kementerian Agama mencatat ada 4.150 pasangan yang dapat dispensasi nikah pada 2024, sedikit turun dari 5.489 di 2023.

Dan kita tahu, banyak pernikahan itu bukan cinta sejati ala sinetron, tapi hasil tekanan ekonomi atau kehamilan tak diinginkan.

Tragisnya, banyak juga yang cuma bertahan seumur jagung lalu bercerai.

Jadilah mereka janda atau duda belia, tanpa pendidikan, tanpa pekerjaan, plus bonus trauma.


Branding vs Realitas

Indikator KLA itu ada 24 butir mulai dari kesehatan, pendidikan, partisipasi anak, dan lain-lain.

Tapi sayangnya, banyak daerah cuma fokus di acara seremonial.

Bentuk Forum Anak? Check. Gelar Festival Kreativitas? Check. Upload dokumentasi ke media sosial? Double check.

Tapi bagaimana dengan Sistem Perlindungan Kesehatan Mental Anak?

Bagaimana SOP deteksi dini gangguan psikologis? Bagaimana layanan rujukan untuk anak korban bullying atau KDRT?

Jawaban jujurnya belum ada sistem nasional yang kuat.

Terlebih lagi pendampingan untuk para guru BK sangat kurang, mereka tidak dibekali pelatihan memadai, orang tua nggak tahu harus berbuat apa, dan pemerintah daerah sibuk pasang spanduk Stop Bullying di mobil dinas.

Konon katanya, pemerintah sedang bersiap untuk pembelajaran deep learning (pembelajaran mendalam), yang fokus utamanya memperkuat peran Guru BK.

Semoga itu benaran dan bukan sekadar yepping karena kita sedang gagap menghadapi persoalan utamanya.

Yang pada akhirnya kita melahirkan generasi yang mentalnya habis terkikis pelan-pelan.

Anak-anak dihukum karena miskin, diabaikan karena berbeda, dan dibiarkan jadi dewasa sebelum waktunya. Sekali lagi kita butuh sistem.

Kalau semua ini terus dibiarkan, Kabupaten Ramah Anak hanya akan jadi label formalitas cantik di piagam, pahit di kenyataan.

Dan mungkin, lebih jujur kalau slogannya diganti jadi Kabupaten Pura-Pura Ramah Anak, tapi Aslinya Bikin Anak Lelah. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto

Sumber tulisan:tagar.co