Al-Ma'un: Filantropi
Showing posts with label Filantropi. Show all posts
Showing posts with label Filantropi. Show all posts
Mengenal Tiga Pola Hubungan Lazismu dengan Muhammadiyah dalam Upaya Fundraising

Mengenal Tiga Pola Hubungan Lazismu dengan Muhammadiyah dalam Upaya Fundraising

Lazismu memiliki kemampuan mengelola dana yang canggih, namun keberhasilan penggalangan dana sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan dengan organisasi induk, yaitu Muhammadiyah. Hubungan yang bersahabat, tegang, atau terpinggirkan masing‑masing menimbulkan dampak berbeda terhadap efektivitas program filantropi.

Model 1: Sinergi “Klop”

Dalam skenario ideal, Lazismu dan Muhammadiyah beroperasi selaras. Pimpinan kedua belah pihak saling memahami peran, sehingga visi organisasi dapat diterjemahkan menjadi aksi penggalangan dana yang terkoordinasi. Sinergi ini memanfaatkan jaringan masjid, lembaga pendidikan, dan kader Muhammadiyah untuk mengoptimalkan zakat, infaq, sedekah, wakaf, serta dana sosial lainnya.

Model 2: Hubungan “Cold”

Pola ini menggambarkan kedekatan yang renggang. Meskipun tidak terjadi konflik terbuka, masing‑masing entitas menjalankan agenda sendiri tanpa integrasi yang kuat. Akibatnya, potensi dana yang dapat digabungkan tidak termanfaatkan secara maksimal, meski belum menimbulkan hambatan serius.

Model 3: “Exclusion” atau Terpinggirkan

Pada model paling menantang, Lazismu tidak dianggap sebagai bagian integral ekosistem Muhammadiyah. Aktivitasnya bahkan dapat dipersepsikan mengganggu program yang sudah berjalan, sehingga menimbulkan kesulitan dalam koordinasi, komunikasi, dan legitimasi kelembagaan.

Dari “Cold” ke “Klop”: Jalan Konsolidasi

Ketiga pola tersebut bukanlah status permanen. Dengan pendekatan kelembagaan, dialog terbuka, serta demonstrasi hasil kerja yang konkret, hubungan yang semula dingin dapat beralih menjadi sinergi. Jika terjadi eksklusi, upaya diplomasi internal dan penegasan peran Lazismu sebagai instrumen filantropi Muhammadiyah menjadi kunci perubahan.

Inti keberhasilan fundraising Lazismu terletak pada kekuatan ekosistem: hubungan yang solid antara jam’iyah dan jemaah akan memperbesar peluang organisasi menjadi penggerak utama dalam pemberdayaan masyarakat.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
 Muhammadiyah–Kemenbud Salurkan Sarana Kesenian untuk Seniman Jalanan

Muhammadiyah–Kemenbud Salurkan Sarana Kesenian untuk Seniman Jalanan

 

    Penyerahan bantuan kanvas sebesar 30 meter salah satu komunitas jalanan. Foto: jakartamu.com/muhibudin kamali


  Lembaga Seni Budaya PP Muhammadiyah menyalurkan sarana dan prasarana kebudayaan bagi seniman jalanan dari Kementerian Kebudayaan RI. Penyerahan dilakukan di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Rabu (17/12/2025).

Acara ini dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Prof. Syafiq A. Mughni, Wakil Ketua LSB PP Muhammadiyah Edi Sukardi dan KH Kusen, S.Ag., M.A., Ph.D. yang dikenal sebagai Kiai Cepu. Hadir pula sejumlah komunitas jalanan seperti Matahari Street Punk, Komunitas Derik, komunitas dimensi, serta komunitas disabilitas. Mereka turut menampilkan karya dan pertunjukan seni dalam kegiatan tersebut.

Penampilan Komunitas Matahari Street Punk. Foto: jakartamu.com/muhibudin kamali

Bantuan dari Kemenbnud yang diserahkan berupa alat lukis dan perangkat musik yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing komunitas. Komunitas Derik menerima kanvas berukuran besar beserta cat akrilik. Komunitas Dimensi memperoleh berbagai ukuran kanvas, cat, kuas, palet, hingga frame kanvas.

Untuk komunitas Street Punk disalurkan perangkat pendukung pertunjukan musik seperti mikrofon, stand, instrumen perkusi, gitar, biola, dan sistem tata suara. Sementara komunitas disabilitas menerima perlengkapan musik antara lain mikrofon, keyboard beserta stand, gitar listrik dan akustik, kajon, serta tamborin.

Syafiq A. Mughni mengapresiasi dukungan Kementerian Kebudayaan dan inisiatif LSB PP Muhammadiyah dalam menjangkau seniman jalanan. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari dakwah yang bergerak melalui jalur seni dan budaya.

“Lebih dari membantu mereka yang selama ini berada di tepian kehidupan masyarakat, kegiatan ini adalah bagian dakwah Muhammadiyah yang terus dikembangkan agar bisa menyentuh segala aspek kehidupan masyarakat,” ujar Syafiq saat membuka acara.

Ia juga menyinggung peran seni dalam perjalanan sejarah peradaban. “Seni dan budaya dalam sejarah memiliki peran strategis. Misalnya gerakan Renaisans di Eropa, juga menempatkan seni sebagai bagian penting,” katanya.

Syafiq menambahkan, Muhammadiyah kerap dipersepsikan jauh dari aktivitas seni budaya, meski sebenarnya tidak pernah mengambil jarak dengan seni secara umum. Melalui program penyaluran sarana ini, ia berharap persepsi tersebut berubah. 

“Muhammadiyah akan terus mengembangkan dakwah seni dan budaya, karena itu memang bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia,” ujarnya.

Sumber Berita:www.jakartamu.com