Showing posts with label Haedar Nashir. Show all posts
Showing posts with label Haedar Nashir. Show all posts
Pesan Haedar Nashir di Muktamar XXIV IPM: Perkuat Iman, Ilmu, dan Spirit Pembaharuan

Pesan Haedar Nashir di Muktamar XXIV IPM: Perkuat Iman, Ilmu, dan Spirit Pembaharuan

 


Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, memberikan amanat dalam Pembukaan Muktamar ke XXIV Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) di Universitas Muhammadiyah Makassar.

“Saya adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, tapi saya juga adalah alumni IPM,” ujar Haedar saat membuka pidatonya pada Jumat (6/2).

Sejarah panjang perjalanan Haedar Nashir dalam bermuhammadiyah khususnya saat di IPM masih teringat jelas di ingatannya.

Haedar mengungkap bahwa dalam mengawali masa-masanya di IPM, Haedar bergabung bersama IPM SMA Negeri 10 Bandung pada tahun 1975-1977. Kemudian, setelah bertolak ke Yogyakarta tahun 1980 an,  Ia bergabung dengan Pimpinan Wilayah IPM DIY pada tahun 1980-1982 yang kemudian diteruskannya hingga ke PP IPM di tahun 1983-1986.

Haedar menyebut bahwa seluruh ortom (Organisasi Otonom) Muhammadiyah: ‘Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Hizbul Wathan, dan Tapak Suci Putra Muhammadiyah adalah rumah besar yang mana semuanya melebur jadi satu, menjadi kekuatan besar bernama Persyarikatan Muhammadiyah.

“Kita perlu bangga berada dan menjadi penggerak Muhammadiyah. Dalam usia 113 tahun kita telah bergerak di seluruh sudut tanah air, sampai pelosok 3T,” sebut Haedar.

“Kita juga telah bergerak dengan membangun sekolah di Melbourne, Australia, Universiti Muhammadiyah Malaysia, markas dakwah di Kairo, dan puluhan PCIM yang sebagian diantaranya telah memiliki badan hukum di negara setempat,” tambahnya.

Tak hanya itu, ribuan sekolah, dan ratusan rumah sakit, klinik dan perguruan tinggi yang dimiliki Muhammadiyah kini menjelma menjadi raksasa amal usaha yang mampu memakmurkan untuk semua.

“Ada komitmen, ada tanggung jawab, ada kebersamaan yang harus mengikat muktamar ini menjadi muktamar yang berdampak, muktamar yang berjaya, dan muktamar yang memberi maslahat bagi Muhammadiyah, umat, dan bangsa,” tegas Haedar.

Tak jarang dalam salam IPM, kita selalu mendengar kalimat “nuun wal qolami wa maa yasthuruun” yang artinya: Demi Pena dan Apa yang Mereka Tuliskan.

Menyoroti kalimat tersebut, Haedar menjelaskan bahwa kalimat itu merupakan semboyan yang kehadirannya cukup penting untuk menegaskan identitas IPM.

“Kalimat Nuun Wal Qolami Wa Maa Yasthuruun”. Nuun yang artinya demi pena, dan apa yang mereka tuliskan memiliki spirit dasar yang luar biasa,” ungkap Haedar.

Haedar dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan pesan bagi kader-kader IPM. 

Haedar mengungkap bahwa Nuun adalah simbol kerahasiaan, membuka setiap ayat yang hanya Allah yang tahu. Maka Haedar menegaskan, dalam spirit ber Muhammadiyah diperlukan penanaman jiwa Iman, amal, taqwa, dan tauhid yang menjadi landasan utamanya.

“Kemajuan apapun yang kita peroleh, kejayaan apapun yang kita banggakan, akan hampa ketika iman, amal, taqwa, dan tauhid lepas dari jiwa pergerakkan kita. Itu adalah nilai utama yang harus kalian jaga,” pesan Haedar.

Haedar juga memberikan pesan bahwa dalam bermuktamar dan menjalankan roda organisasi perlu menegaskan kualitas ilmu, cakapan, keahlian dan jiwa pembaharuan.

“Kalian jangan bertindak, berbuat, berkata, dan bergerak tanpa ilmu. Indonesia emas, Indonesia jaya, akan betul-betul menjadi emas dan menjadi jaya jika ada tradisi ilmu, tradisi berpikir, dan tradisi pembaharuan,” jelas Haedar.

“Sehebat apapun iman dan taqwa, dan tauhid, seluas apapun ilmu dan jiwa pembaharuan tidak mungkin membawa kemaslahatan jika kita tidak terus berkhidmat memnbangun umat bangsa, dan kemanusiaan semesta dengan spirit wa ma Arsalnaka Illa Rahmatan Lil Alamin,” ujarnya.

Diakhir Haedar menegaskan bahwa generasi muda di Muhammadiyah adalah Dahlan Muda Pembaharu yang mampu mengguncang dunia, kemudian ia mampu membawa pembaharuan itu untuk menggerakkan Indonesia dan persyarikatan Muhammadiyah.

“Pembaharu ibarat burung rajawali yang selalu terbang tinggi dan tak pernah mencari tempatnya sendiri, yang dia hinggap di setiap tempat untuk mengalirkan api perubahan dan kemajuan umat bangsa dan kemanusiaan semesta. Itulah harapan kami kepada IPM,” kata Haedar.(Bhisma)

Sumber Berita:muhammadiyah.or.id

Haedar Nashir: Reformasi Butuh Kesabaran, Bukan Perubahan Struktur yang Tergesa

Haedar Nashir: Reformasi Butuh Kesabaran, Bukan Perubahan Struktur yang Tergesa



Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan pentingnya konsistensi dalam menjalankan agenda Reformasi 1998, termasuk dalam penataan institusi strategis negara seperti Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Haedar menyampaikan bahwa Indonesia telah lebih dari dua dekade menjalani reformasi dengan berbagai konsekuensi dan capaian penting. Salah satu hasil mendasar reformasi tersebut adalah penempatan institusi-institusi strategis negara yang langsung di bawah Presiden.

“Indonesia sudah lebih dari 20 tahun menjalani reformasi dengan segala risikonya. Reformasi 1998 itu justru menempatkan institusi-institusi penting langsung di bawah Presiden,” ujar Haedar ketika ditemui awak media selepas membuka Rakornas II Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Semarang, pada Kamis malam (29/1).

Menurut Haedar, arah reformasi yang telah ditempuh seharusnya dijaga secara konsisten. Ia mengingatkan bahwa membangun sistem ketatanegaraan memerlukan kesabaran dan ketekunan, bukan dengan pendekatan bongkar-pasang struktur yang berpotensi menimbulkan persoalan baru.

“Reformasi itu harus konsisten. Membangun sistem perlu kesabaran, tidak bisa setiap muncul masalah lalu struktur kelembagaan dibongkar dan diubah,” tegasnya.

Haedar berpandangan bahwa berbagai persoalan yang muncul di institusi negara, baik Polri, TNI, maupun lembaga pemerintahan lainnya, lebih tepat diselesaikan melalui reformasi internal yang berkelanjutan dan substansial.

“Kalau ada masalah di Polri, TNI, atau komponen negara lainnya, lebih baik dilakukan reformasi dari dalam. Itu jauh lebih substantif,” imbuhnya.

Ia juga mengingatkan bahwa menempatkan institusi seperti Polri atau TNI di bawah kementerian justru berpotensi melahirkan problem baru. Pasalnya, reformasi birokrasi di tingkat kementerian sendiri belum sepenuhnya tuntas dan masih menghadapi persoalan serius, termasuk praktik korupsi.

“Kalau ditempatkan di bawah kementerian, bisa muncul problem baru. Reformasi birokrasi di kementerian saja belum selesai,” jelas Haedar.

Lebih lanjut, Haedar menilai bahwa mempertahankan Polri di bawah Presiden, disertai dengan penguatan reformasi internal secara konsisten, merupakan pilihan paling rasional untuk menjaga arah reformasi nasional sekaligus menghindari kontroversi yang dapat membingungkan publik.

“Supaya tidak muncul kontroversi yang membuat rakyat bingung soal arah bangsa ini ke mana,” ujarnya.

Haedar juga menilai bahwa keputusan DPR yang menetapkan Polri tetap berada di bawah Presiden sejalan dengan platform Reformasi 1998. Ia meyakini pandangan tersebut sejalan dengan sikap banyak organisasi kemasyarakatan yang mendorong penguatan reformasi internal sebagai bagian dari konsolidasi demokrasi, baik di tingkat pusat maupun daerah.

“Pandangan ormas-ormas itu pada umumnya mendorong reformasi dari dalam sebagai bagian dari konsolidasi demokrasi,” tandasnya.

Sumber Berita:muhammadiyah.or.id

Haedar Nashir Ajak Warga Muhammadiyah Segera Daftar E-KTAM Lewat Aplikasi MASA

Haedar Nashir Ajak Warga Muhammadiyah Segera Daftar E-KTAM Lewat Aplikasi MASA

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir ajak seluruh warga Muhammadiyah segera mendaftar Elektronik Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (E-KTAM).

Saat ini mendaftar atau membuat KTAM semakin mudah, tidak perlu lagi datang ke Kantor PP Muhammadiyah di Jogja atau yang di Jakarta, maupun ke Kantor Pimpinan Wilayah. Karena pendaftaran bisa melalui Aplikasi MASA.

“Bagi yang belum punya KTAM segera urus, sekarang lebih mudah termasuk adik-adik ini. Hanya tinggal pakai aplikasi,” kata Haedar ketika peluncuran E-KTAM di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Sabtu (13/12).

Kemudahan ini diharapkan meningkatkan minat warga Muhammadiyah yang ingin membuat E-KTAM. Sebab tidak perlu repot-repot datang ke kantor Muhammadiyah, sebab pembuatan bisa dilakukan dari mana saja termasuk dari rumah.

“Tidak perlu datang ke kantor untuk membuat E-KTAM, boleh datang ke kantor untuk berkunjung,” imbuhnya.

Selain untuk memudahkan member atau anggota Muhammadiyah yang ingin memiliki validasi berupa E-KTAM, di Aplikasi MASA juga tertera berbagai fitur yang berkaitan dengan materi-materi Kemuhammadiyahan, Al Qur’an, arah kiblat, dan lain sebagainya.

Melalui Aplikasi MASA ini, imbuh Haedar, juga sebagai wadah konsolidasi untuk iuran anggota. Maka jika di aplikasinya sudah ada tagihan, dimohon untuk segera dibayar sesuai dengan tagihan yang tertera.

Sumber Berita:muhammadiyah.or.id

 Seruan Haedar Nashir untuk Pejabat: Indonesia Merdeka adalah Mandat untuk Mengabdi

Seruan Haedar Nashir untuk Pejabat: Indonesia Merdeka adalah Mandat untuk Mengabdi

 

YOGYAKARTA, JAKARTAMU.COM | Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan para pejabat, kemerdekaan adalah mandat sejarah untuk mengabdi sepenuh hati. Pesan Haedar sangat jelas, jabatan publik bukan ruang untuk meminta, melainkan untuk memberi.

Dalam Pidato Kebangsaan memperingati 80 tahun Indonesia Merdeka, Sabtu (16/8/2025), Haedar menyampaikan rasa syukur atas capaian bangsa. Pendidikan, kesehatan, politik, ekonomi, hingga kehidupan beragama menurutnya menunjukkan banyak kemajuan yang patut diapresiasi. Namun, kemajuan itu harus terus diarahkan agar benar-benar menjadi jalan menuju cita-cita kemerdekaan.

Haedar menyoroti generasi muda, baik milenial maupun Gen Z, sebagai penentu arah bangsa pada era baru yang penuh tantangan global. Mereka disebutnya sebagai penerus estafet perjuangan yang tak boleh kehilangan idealisme dan komitmen kebangsaan.

Dalam pidatonya, Haedar juga memberi perhatian pada arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai langkah presiden yang menekankan pembangunan sumber daya manusia, keberpihakan pada rakyat kecil, serta penegakan kedaulatan bangsa merupakan wujud political will yang patut diapresiasi.

“Patut diapresiasi political will Presiden Prabowo Subianto yang fokus pada pengembangan SDM berkualitas, mendorong pengusaha besar peduli bangsa, dan menegakkan kedaulatan bangsa,” kata Haedar.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa keberanian politik presiden tak boleh berhenti di tataran gagasan. Seluruh kementerian dan lembaga, menurut Haedar, harus bergerak dalam satu irama agar arah perubahan benar-benar terasa bagi rakyat. Tanpa itu, mandat konstitusi akan kehilangan makna.

“Yang terpenting, seluruh kementerian dan institusi pemerintahan hingga daerah mengikuti satu irama, sehingga memberi jalan dan harapan baru bagi masa depan Indonesia setelah 80 tahun merdeka,” ujarnya.

Haedar menegaskan bahwa amanat rakyat adalah amanat pengabdian. Para pejabat publik, katanya, wajib memegang teguh konstitusi dengan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

“Khusus bagi para petinggi negeri, jadikan Indonesia merdeka sebagai mandat untuk mengabdi sepenuh hati dalam menjalankan perintah konstitusi. Lindungi bangsa ini dengan tanggung jawab penuh, untuk memberi dan bukan meminta,” tegasnya.

Di tengah dunia yang semakin kompleks, Haedar mengingatkan pentingnya keberpihakan politik kepada rakyat kecil dan kesungguhan membangun sumber daya manusia. Ia menutup pidatonya dengan ajakan agar kemerdekaan dipahami sebagai gerak nyata, bukan sekadar simbol tahunan.

“Mari wujudkan Indonesia yang bersatu, berdaulat, rakyat sejahtera, dan Indonesia maju sebagaimana tema HUT kemerdekaan ke-80,” kata Haedar.

Sumber tulisan:Jakartamu.com

Kotagede dalam Jejak Panjang Gerakan Islam: Haedar Nashir Resmikan Enam Bangunan AUM di Kotagede

Kotagede dalam Jejak Panjang Gerakan Islam: Haedar Nashir Resmikan Enam Bangunan AUM di Kotagede



Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menghadiri dan memberikan sambutan dalam Pengajian Akbar sekaligus peresmian sejumlah amal usaha Muhammadiyah di Kotagede, Yogyakarta.


Acara yang digelar di Masjid Multifungsi SMP Muhammadiyah 7 pada Sabtu (02/08) ini menjadi momen reflektif atas jejak sejarah Islam dan pergerakan Muhammadiyah di tanah Yogyakarta, khususnya Kotagede.


Bagi Haedar, Kotagede bukan sekadar tempat bersejarah. Ia mengaku memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan kawasan ini. “Saat aktif di IPM tahun 1983–1985, saya sering keluar masuk tempat ini untuk rapat dan kegiatan. Tempat ini punya kesan mendalam,” ujarnya.


Haedar juga menyinggung kediaman almarhum Bashori, salah satu tokoh Muhammadiyah Kotagede, yang kini difungsikan sebagai pondok pesantren tahfidzul Quran. Ia menyebutnya sebagai amal jariyah yang insyaAllah akan terus mengalirkan pahala, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.


“Bapak ibu juga yang menyumbangkan untuk kepentingan agama dan pendidikan ini juga insyaAllah akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir walaupun kita sudah berada di alam yang lain,” kata Haedar.


Dalam pidatonya, Haedar menekankan pentingnya memahami konteks sejarah Kotagede yang tak terpisahkan dari perkembangan Islam di Nusantara. Menurutnya, Kotagede adalah pusat awal berdirinya Kerajaan Islam Mataram pada 1570 M, yang dipimpin Kiai Ageng Pamanahan dan dilanjutkan Pangeran Senopati hingga Sultan Agung.


“Sejarah ini penting bagi kita. Kesultanan di Yogyakarta adalah kerajaan Islam. Islam tidak bisa dilepaskan dari sejarah Mataram dan masyarakat Yogyakarta,” tegas Haedar.


Ia mengajak umat Islam menjadikan sejarah ini sebagai fondasi memperkuat relasi sosial dan budaya Islam di wilayah ini.


Tak hanya berperan dalam sejarah kerajaan, Kotagede juga menempati posisi strategis dalam sejarah Muhammadiyah. Setelah Muhammadiyah berdiri di Kauman tahun 1912, cabang awal segera berkembang di Kotagede.


“Tahun 1922 sudah menjangkau Surakarta, Pekalongan, Garut, Batavia, hingga Aceh. Tahun 1926 sudah masuk Sulawesi dan Papua. Tidak ada ormas Islam lain yang secepat itu penyebarannya,” ujar Haedar.


Ia menyebut Muhammadiyah sebagai kekuatan Islam yang menyatu dengan semangat kebangsaan dan kemanusiaan semesta.


Kotagede juga dikenal sebagai tempat lahirnya banyak tokoh besar. Di antaranya adalah Prof. Rasjidi, Menteri Agama pertama RI yang merupakan alumni Muallimin Yogyakarta, lulusan Universitas Al-Azhar di Kairo dan Sorbonne di Paris.


“Waktu itu sangat langka seorang santri bisa kuliah ke Eropa. Ini harus jadi teladan bagi anak-anakku sekalian di Kotagede ini,” ujar Haedar seraya mengajak pelajar untuk menjadi generasi ulul albab, yaitu insan berilmu, berhati bening, dan dekat dengan Allah, sebagaimana tersirat dalam QS Ali ‘Imran: 190–191.


Haedar juga menyinggung potensi ekonomi masyarakat Kotagede yang dikenal sebagai pusat perdagangan. Menurutnya, ini merupakan warisan historis dari para saudagar Muslim yang menjadi tulang punggung dakwah dan kemerdekaan bangsa.


“Coba bayangkan, pusat kerajaan Islam, pusat ilmu, pusat dagang—luar biasa Kotagede ini,” katanya.


Namun, ia mengingatkan, potensi ini hanya akan berdampak besar jika seluruh amal usaha—masjid, kampus, rumah sakit, sekolah—digerakkan secara kolektif sebagai kekuatan yang menyatu demi masa depan Islam yang berkemajuan.


Dalam kesempatan itu, Haedar secara simbolis menandatangani prasasti peresmian untuk sejumlah amal usaha Muhammadiyah di Kotagede, yaitu: Masjid Multifungsi SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta, Kampus 2 SD Muhammadiyah Purbayan, Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Muhammadiyah Ibnu Juraimi Cokroyudan dan Kudusan, TK ABA Bodon, serta RS PKU Muhammadiyah Kotagede.


Acara yang berlangsung khidmat dan penuh semangat ini dihadiri oleh para tokoh Muhammadiyah Kotagede, ulama, guru, karyawan, serta murid-murid dari berbagai satuan pendidikan Muhammadiyah di wilayah tersebut.

Sumber tulisan:muhammadiyah.or.id