Muslim di Universitas Muhammadiyah: Fenomena Krismuha Tak Lagi Pinggiran - Al-Ma'un

Muslim di Universitas Muhammadiyah: Fenomena Krismuha Tak Lagi Pinggiran

Keberadaan mahasiswa beragama selain Islam di kampus-kampus Muhammadiyah tidak lagi menjadi kasus langka, bahkan di wilayah yang dianggap pusat gerakan tersebut.

Di beberapa perguruan tinggi yang berada di daerah dengan populasi Muslim minoritas—seperti Universitas Muhammadiyah Papua, Universitas Muhammadiyah Sorong, Maumere, dan Kupang—mahasiswa non-Muslim memang sudah menjadi bagian rutin karena institusi tersebut menjadi pilihan utama dibandingkan tidak melanjutkan pendidikan.

Namun, hal yang sama juga terjadi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pada tahun akademik 2026/2027 tercatat ada 56 mahasiswa baru yang beragama Katolik, Kristen, Buddha, maupun Hindu, sementara lebih dari 75 % pendatang baru tidak berasal dari keluarga Muhammadiyah.

"Kami tidak memaksa mereka untuk berpindah agama, tetapi kami berharap mereka dapat memahami Islam sebagai rahmatan lil alamin," ujar Rektor UMY, Nurmandi, dalam acara MATAR 2026.

Universitas Aisyiyah (UNISA) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD)—juga menarik minat mahasiswa non-Muslim. UNISA mencatat 78 mahasiswa baru beragama Hindu, Katolik, dan Kristen untuk tahun akademik yang sama, sedangkan UAD menerima 35 mahasiswa dengan latar belakang serupa dan masih membuka pendaftaran.

angka tersebut menegaskan bahwa kenyamanan belajar di lingkungan Muhammadiyah terbuka untuk semua, tanpa memandang latar belakang agama, sehingga fenomena Krismuha tidak lagi terbatas pada pinggiran.

Mayoritas Mahasiswa PTMA Bukan Dari Keluarga Muhammadiyah

Persyarikatan Muhammadiyah mengelola 165 perguruan tinggi di Indonesia serta satu di Malaysia (Universitas Muhammadiyah Malaysia). Semua institusi tersebut menerapkan prinsip inklusif, melayani tidak hanya umat Islam atau anggota Muhammadiyah, melainkan seluruh generasi bangsa.

Inklusi ini membuka peluang yang setara bagi setiap pemuda untuk menempuh pendidikan tinggi, dengan sambutan hangat di setiap kampus.

Contoh nyata terlihat ketika Ismail Fahmi, Wakil Sekretaris Majelis Pustaka Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyapa mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia menanyakan latar belakang keluarga para peserta, dan hasilnya menunjukkan proporsi mahasiswa dari keluarga Muhammadiyah jauh lebih kecil dibandingkan dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU).

Menurut perkiraan Fahmi, sekitar 60 % mahasiswa baru di UMS berasal dari keluarga NU, sementara di UMM angka tersebut dapat mencapai 90 %.

Fenomena ini mencerminkan perubahan dinamika demografis di pendidikan tinggi Muhammadiyah, di mana keterbukaan menjadi nilai utama.

Keberagaman agama di antara mahasiswa Muhammadiyah bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata komitmen institusi untuk menjadi tempat belajar yang inklusif, sekaligus memperkuat posisi mereka di tengah persaingan pendidikan nasional.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id