Duta Besar Republik Indonesia untuk Prancis, Monako, dan Andorra sekaligus Delegasi Tetap RI di UNESCO, Mohamad Oemar, menegaskan bahwa penampilan kolintang bukan sekadar pertunjukan seni melainkan juga menyampaikan pesan perdamaian.
Acara “Celebrating Kolintang” di Markas Besar UNESCO
Pada Kamis, 1 Oktober 2026, UNESCO di Paris menyelenggarakan acara “Celebrating Kolintang” yang mempertemukan kolintang asal Minahasa dengan balafon dari Afrika Barat. Kegiatan yang diprakarsai oleh KBRI Paris ini menonjolkan budaya sebagai platform dialog dan kerjasama antarnegara, menurut siaran pers KBRI yang diterima di Jakarta.
“Di tengah dunia yang kerap memanfaatkan perbedaan sebagai sumber konflik, kebudayaan membuka peluang lain: perbedaan menjadi pintu dialog, dialog menumbuhkan kepercayaan, dan kepercayaan mendukung terciptanya perdamaian,” ujar Oemar.
Ia menambahkan bahwa pengakuan internasional yang semakin luas terhadap suatu warisan budaya tidak menghilangkan identitas atau kepemilikannya, melainkan memperkuat rasa hormat terhadap warisan tersebut.
Kolintang Masuk Daftar Warisan Takbenda Bersama Balafon
Penampilan kolintang di UNESCO juga menandai langkah internasional penting. Pada tahun 2024, kolintang dimasukkan dalam perluasan nominasi balafon yang diajukan oleh Mali, Burkina Faso, dan Côte d’Ivoire, sehingga UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda bersama tradisi balafon.

Kolintang dan balafon, yang berasal dari komunitas budaya berbeda, dipertemukan dalam semangat “shared cultural heritage” serta kolaborasi lintas negara.
Fayez, yang hadir dalam acara, menekankan pentingnya peran komunitas dalam melestarikan warisan budaya bagi generasi mendatang. “Semangat UNESCO bukan soal kepemilikan, melainkan tentang bagaimana komunitas tetap menjadi inti, bagaimana pengetahuan diwariskan, dan bagaimana warisan tetap hidup,” katanya.
Kolaborasi Musik Indonesia‑Afrika
Grup PINKAN Kolintang Indonesia mempersembahkan rangkaian lagu nusantara, sementara seniman balafon menampilkan musik tradisional mereka. Kedua kelompok kemudian bersatu menginterpretasikan “La Vie en Rose” sebagai simbol pertemuan budaya Asia dan Afrika.
Acara ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober, sekaligus memperkenalkan ragam ekspresi budaya Indonesia kepada komunitas internasional di UNESCO.