Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-33 pada Kamis, 5 November, di Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Acara tersebut diangkat dengan tema “Meneguhkan Akidah, Memperindah Akhlak, Menguatkan Ibadah, dan Memberdayakan Umat untuk Peradaban Berkemajuan” sebagai bagian dari perayaan satu abad Majelis Tarjih.
Munas menitikberatkan pada lima topik utama: fikih bagi lanjut usia, fikih kedaulatan pangan, Risalah Akidah Islam Muhammadiyah, Risalah Akhlak Praktis, serta pengembangan tuntunan ibadah yang terkait dengan persoalan tatswib.
Harapan dan Arahan Ketua Umum
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyatakan harapannya agar diskusi para ulama tarjih dari seluruh daerah berlangsung secara mendalam dan komprehensif, sehingga hasilnya dapat memberi manfaat luas bagi bangsa dan kemanusiaan.
“Ini merupakan manifestasi Islam yang berkemajuan,” ujar Haedar.
Ia menekankan pentingnya memperhatikan kondisi sosial ekonomi kelompok lansia, khususnya masyarakat menengah ke bawah, agar kebijakan yang diusulkan tidak bersifat elitistik.
“Desain model bagi lansia harus melibatkan semua lapisan masyarakat,” tambah Haedar, yang juga dikenal sebagai pakar sosiologi.
Partisipasi Ulama dan Agenda Tambahan
Ustadi Hamzah, Ketua MTT PP Muhammadiyah, melaporkan bahwa sekitar 320 ulama tarjih akan berpartisipasi melalui berbagai komisi, dengan tujuan memberikan kontribusi pemikiran bagi umat Islam, bangsa, dan Persyarikatan Muhammadiyah.
“Semoga Munas Tarjih ke-33 menghasilkan sesuatu yang luar biasa,” ia menutup pernyataannya.
Selain pembahasan utama, Munas akan menampilkan dua seminar: satu membahas kedaulatan pangan, dan satu lagi menyoroti warisan KH Mas Mansur dalam bidang tarjih dan kebangsaan. Acara penghargaan kepada keluarga KH Mas Mansur serta napak tilas perjuangannya juga dijadwalkan.
Peran Tuan Rumah
Sukadiono, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, mengucapkan terima kasih atas kepercayaan PP Muhammadiyah menjadikan Jawa Timur tuan rumah Munas. Ia menilai dukungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sangat vital bagi kelangsungan gerakan.
Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Mundakir, menyampaikan kesiapan kampus dalam menyediakan fasilitas transportasi, akomodasi, dan layanan lainnya bagi para peserta, mengibaratkan peran tuan rumah sebagai wujud filosofi Jawa yang mengutamakan keramahan kepada tamu.
Dengan agenda yang padat dan partisipasi luas, Munas Tarjih XXXIII diharapkan menghasilkan rekomendasi fikih yang relevan dengan tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat.