Al-Ma'un: Kaderisasi
Showing posts with label Kaderisasi. Show all posts
Showing posts with label Kaderisasi. Show all posts
Kader Muhammadiyah Lepas Landas ke Maroko, Siap Raih Ilmu dan Budaya Baru

Kader Muhammadiyah Lepas Landas ke Maroko, Siap Raih Ilmu dan Budaya Baru

Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengantar sekelompok kader yang memperoleh beasiswa studi ke Maroko pada Sabtu, 12 September, melalui Bandara Internasional Soekarno‑Hatta.

Pesan Ketua PP Muhammadiyah

Sehari sebelum keberangkatan, Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, menekankan pentingnya memaksimalkan peluang yang jarang datang ini. Ia mengajak para penerima beasiswa untuk menjadikan masa tinggal di Maroko sebagai bagian integral dari proses kaderisasi organisasi.

"Manfaatkan setiap kesempatan untuk menggali pengetahuan seluas‑luasnya," kata Syafiq, menambahkan bahwa mereka harus menyerap ilmu dari para dosen, menjelajahi koleksi manuskrip serta literatur di perpustakaan, dan turut menyelami kebudayaan setempat. Ia juga mengingatkan agar waktu dapat diatur secara efisien sehingga kegiatan akademik, pengembangan wawasan, dan tugas organisasi dapat berjalan seimbang.

Fokus pada Bahasa dan Sejarah Maroko

Cecep Taufikurrohman, anggota Tim Beasiswa Luar Negeri PP Muhammadiyah, menyoroti betapa kaya sejarah dan peradaban Maroko. Ia mendorong para kader untuk tidak hanya menguasai bahasa Arab, tetapi juga meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan Prancis yang banyak dipakai di sana.

"Jika kembali hanya menguasai bahasa Arab, kesempatan itu akan terlewat," ujarnya. "Manfaatkan lingkungan belajar untuk menambah kompetensi bahasa dan pengetahuan lain yang relevan."

Cecep menegaskan bahwa beasiswa ini merupakan amanah yang harus dijaga oleh para kader, baik dari sisi keagamaan, institusi PP Muhammadiyah, maupun perguruan tinggi yang menampung mereka. Diharapkan mereka kembali menjadi ulama yang mampu menyebarkan cahaya ilmu serta mengharumkan nama Muhammadiyah selama berada di Maroko.

Kolaborasi dengan PCIM Maroko

Para kader juga diminta untuk memberikan kontribusi kepada Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Maroko secara proporsional, sementara PCIM diharapkan memberikan dukungan adaptasi bagi mereka.

Harapan Keluarga

Salah satu orang tua wakil penerima beasiswa menyampaikan rasa terima kasih dan memohon doa serta bimbingan agar anak‑nya dapat belajar dengan optimal. "Kami tidak mampu membalas semua kebaikan ini, semoga Allah memberi balasan di kemudian hari," ungkapnya.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Kader IPM Bawean Tempuh 10 Jam Laut ke Gresik untuk Musyda ke-23: Pengalaman dan Harapan Baru

Kader IPM Bawean Tempuh 10 Jam Laut ke Gresik untuk Musyda ke-23: Pengalaman dan Harapan Baru

Delapan belas jam sebelum Musyda IPM Kabupaten Gresik dimulai, tujuh kader utama Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Cabang Bawean berangkat dari pulau mereka menggunakan kapal feri Gili Iyang. Perjalanan laut yang memakan waktu sekitar sepuluh jam tidak mengurangi semangat mereka untuk berpartisipasi dalam Musyda ke-23 yang digelar pada 11–13 September 2026.

Daftar Kader yang Mengikuti Musyda

Rom­bang terdiri dari ketua umum PC IPM Bawean Ilham Novian Ramadani bersama Saylul Asasi, Rafif Zidane Naufaldi, Rivaldi Nabil Bahtiar, M. Aghil Ardieansyah, Khanitatul Imaniyah, dan Frishella Agustun. Tiga kader dari Ranting IPM – Diana Bathreza, Muhammad Alfath Yuliansyah, serta Putri Kaysatus Syafaqah – berangkat lebih dulu, sehingga total sepuluh kader mewakili Bawean dalam forum tersebut.

Harapan Pembina Terhadap Perjalanan

Pembina PC IPM Bawean, Eklis Dinika, menekankan bahwa kehadiran di Musyda bukan sekadar formalitas, melainkan bagian integral dari proses belajar. Ia mengungkapkan, “Semoga sepuluh orang ini menemukan jati diri masing‑masing melalui interaksi, sehingga mereka dapat mengenali bakat, minat, kemampuan, dan keahlian mereka.”

Eklis menambahkan bahwa pengalaman berorganisasi di tingkat kabupaten diharapkan memperluas wawasan, membangun karakter, serta melatih kemampuan pengambilan keputusan dan tanggung jawab.

Manfaat dan Tantangan Bagi Kader Bawean

Perjalanan panjang menjadi arena latihan kaderisasi; di atas kapal mereka berdiskusi, menyiapkan materi, dan memperkuat ikatan tim. Sesampainya di Gresik, para kader bertemu rekan‑rekan IPM dari berbagai wilayah, memperluas jejaring, serta menyerap dinamika organisasi setempat.

Menurut Eklis, pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan di Musyda diharapkan tidak berhenti di sana. Kader diharapkan membawa pulang insight baru untuk memperkaya kegiatan IPM di Bawean dan menginspirasi generasi selanjutnya.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Perkuat Kaderisasi di Lingkungan Sekolah dan Pesantren, MPKSDI Launching Buku Pedoman Pengkaderan

Perkuat Kaderisasi di Lingkungan Sekolah dan Pesantren, MPKSDI Launching Buku Pedoman Pengkaderan

 

Perkuat Kaderisasi di Lingkungan Sekolah dan Pesantren, MPKSDI Launching Buku Pedoman Pengkaderan

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto apresiasi peluncuran Buku Pedoman Perkaderan Sekolah, Madrasah, dan Pesantren Muhammadiyah.

Agenda yang diselenggarakan di Unismuh Makassar pada Jumat (6/2) ini merupakan hasil kerja sama antara Majelis Pembina Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI), Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, serta PP IPM.

“Ini tentu satu langkah yang patut kita apresiasi karena ini upaya untuk mensistematisasi pelatihan-pelatihan yang ada di lingkungan sekolah-sekolah Muhammadiyah, dan tentu juga madrasah, dan pesantren,” katanya.

Melalui adanya Buku Pedoman Perkaderan ini Agung berharap perkaderan di ribuan sekolah dan madrasah, serta ratusan pesantren Muhammadiyah dapat dijalankan sesuai dengan petunjuk dan teknis yang seirama.

Jika sudah demikian, tersendatnya usaha mengembangkan ranting, cabang, daerah, bahkan wilayah yang beralasan kekurangan kader tidak boleh ada lagi. Sebab institusi pendidikan Muhammadiyah adalah wadah kaderisasi yang subur.

Kaderisasi di institusi pendidikan Muhammadiyah tidak hanya diperuntukkan bagi peserta didik saja, melainkan juga guru dan tenaga kependidikan yang lain. Mereka harus menjadi kader yang ikut bersama-sama membesarkan persyarikatan.

“Kalau gurunya terabaikan ideologinya, dampak lebih lanjutnya murid-murid kita juga terabaikan. Berkali-kali hal seperti itu yang menyebabkan kenapa ada problem kader di berbagai tingkatan persyarikatan Muhammadiyah,” ungkapnya.

Pada sisi inilah kebutuhan buku pedoman mendesak untuk diadakan. Sehingga pengkaderan di sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak hanya dilakukan oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Sementara itu, Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan menyampaikan terima kasih atas kepercayaan dan kemudahan yang diberikan ke MPKSDI untuk membuat produk pedoman pengkaderan ini.

“Ini mungkin bukua pedoman yang ke-12 yang kami susun di MPKSDI, sengaja kami memprioritaskan untuk melengkapi yang kurang, apa yang perlu ada di kami,” ungkapnya.

Bachtiar menambahkan, pengkaderan di Muhammadiyah tidak hanya diselenggarakan di lingkungan institusi pendidikan, tapi menyeluruh di setiap Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM).

Meski saat ini sudah launching, tapi Buku Pedoman Pengkaderan ini masih membutuhkan masukan dalam implementasinya. Oleh karena itu, jika ingin memberi masukan supaya bisa disampaikan ke MPKSDI

Sumber berita:muhammadiyah.or.id