Al-Ma'un: Pendidikan Tinggi
Showing posts with label Pendidikan Tinggi. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Tinggi. Show all posts
Pakar Serahkan Naskah Urgensi BPGMN, Dukung Pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional

Pakar Serahkan Naskah Urgensi BPGMN, Dukung Pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menerima naskah urgensi mengenai pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) yang disusun oleh sejumlah pakar.

Kolaborasi Pakar, Akademisi, dan Pemerintah

Naskah tersebut memuat hasil diskusi yang melibatkan akademisi, peneliti, pakar, pemerintah daerah, serta organisasi masyarakat sipil, sebagai dasar perumusan kerangka kelembagaan pengelolaan gambut dan mangrove di tingkat nasional.

Brian Yuliarto memuji pendekatan yang diusung Presiden, yakni memanfaatkan keahlian para pakar, akademisi, dan peneliti, sebagai terobosan penting dalam penyusunan kebijakan.

Ia menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dioptimalkan untuk menyelesaikan masalah nyata, termasuk tantangan pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove.

Menteri berharap praktik terbaik, pengalaman lapangan, serta hasil riset yang dikumpulkan oleh berbagai pihak sudah tercermin secara lengkap dalam formulasi yang diserahkan.

Menurutnya, pelestarian gambut harus selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Pengelolaan lahan yang produktif dan berkelanjutan diharapkan dapat mengurangi risiko kebakaran sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi penduduk yang tinggal di kawasan tersebut.

Raja Juli Antoni menambahkan pentingnya melibatkan semua pemangku kepentingan dalam proses pembentukan badan ini, agar penyusunan kebijakan bersifat partisipatif.

Ia menyampaikan bahwa naskah urgensi akan dijadikan dasar untuk langkah administratif selanjutnya, termasuk pengajuan izin prakarsa kepada Presiden sebagai bagian dari penyusunan Peraturan Presiden.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari antaranews.com
Rektor Fatoni University Thailand Kunjungi UMSU, Pelajari Model Pendidikan Muhammadiyah

Rektor Fatoni University Thailand Kunjungi UMSU, Pelajari Model Pendidikan Muhammadiyah

Ismail Lutfi Japakiya, rektor Fatoni University Thailand, menyatakan kekagumannya terhadap peran Muhammadiyah dalam dunia pendidikan, khususnya di tingkat perguruan tinggi.

Latar Belakang dan Tujuan Kunjungan

Muhammadiyah, yang didirikan pada tahun 1912 oleh Kiai Ahmad Dahlan, kini mengelola 165 institusi perguruan tinggi, ribuan sekolah, taman kanak-kanak, serta ribuan masjid. Rektor Japakiya menekankan harapannya agar seluruh amal kebajikan Muhammadiyah menjadi pahala bagi pendiri organisasi tersebut.

Pada 14 September, ia hadir dalam acara Bincang Santai bersama UMSU FM di Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU). Kunjungan ini dimaksudkan untuk bertemu dengan para pemimpin Muhammadiyah serta meninjau praktik pengembangan pendidikan yang dapat dijadikan contoh bagi Fatoni University, yang juga berstatus perguruan tinggi swasta serupa dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah‑Aisyiyah (PTMA).

Hubungan dengan Keluarga Kiai Ahmad Dahlan

Fatoni University Thailand menjalin hubungan baik dengan keluarga Kiai Dahlan di Thailand. Sebagai penghormatan, universitas tersebut memberikan gelar doktor kehormatan kepada Winai Dahlan, cucu Kiai Ahmad Dahlan yang memimpin Halal Center di Chulalongkorn University, Bangkok.

Kerjasama Lintas Negara

Rektor Japakiya juga menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang membuka jalur kerja sama antara Fatoni University dengan University Muhammadiyah Malaysia (UMAM) di Perlis, memperkuat jaringan kolaborasi pendidikan di kawasan Asia Tenggara.

Kunjungan ini menegaskan komitmen Fatoni University untuk belajar dari model pendidikan Muhammadiyah dan memperluas jejaring akademik internasional demi peningkatan kualitas pendidikan di kedua negara.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Pendekatan Moderat Muhammadiyah Perkuat Jejaring Global lewat UMAM di Malaysia

Pendekatan Moderat Muhammadiyah Perkuat Jejaring Global lewat UMAM di Malaysia

Pandangan wasathiyah atau sikap tengah yang dianut Muhammadiyah mempermudah gerakan ini untuk merambah ke kancah internasional.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syamsul Anwar, pada Senin 14 September dalam acara Bincang Santai yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) lewat FM 91.6.

Kerangka Moderasi sebagai Kunci Ekspansi Global

Syamsul menjelaskan bahwa sikap tengah menjadi landasan bagi Muhammadiyah dalam memperluas pergaulan di tingkat dunia, termasuk upaya memfasilitasi berdirinya University Muhammadiyah Malaysia (UMAM) di negara bagian Perlis.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Malaysia, khususnya Raja Muda Perlis, Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail, yang berperan penting dalam proses pendirian UMAM.

"Kerjasama ini berjalan sangat baik; bukan hanya UMRI yang terlibat, namun UMSU pun dapat memanfaatkan peluang ini," ujar Syamsul.

satunya Perguruan Tinggi Muhammadiyah‑Aisyiyah (PTMA) yang berhasil dibangun di luar Indonesia, menandai langkah historis bagi institusi pendidikan Muhammadiyah.

Sejalan dengan itu, Syamsul mengajak seluruh elemen, khususnya kampus PTMA, untuk saling bersinergi dan berkolaborasi demi kemajuan bersama.

"Keberhasilan akan lebih mudah diraih bila kita bergerak bersama. Dengan kebersamaan, segala tantangan dapat diatasi," tegasnya.

Menjaga Akar Manhaj Islam Berkemajuan

Dalam konteks hubungan global dan upaya internasionalisasi, termasuk yang dijalankan oleh UMSU, ia menekankan pentingnya tetap berpegang pada manhaj Islam Berkemajuan sebagai pandangan resmi organisasi.

"Manhaj ini bersifat progresif dan diharapkan mampu menyelesaikan masalah-masalah krusial dalam kehidupan masyarakat," jelasnya.

Dengan menggunakan kerangka pemikiran Islam yang berkemajuan, Muhammadiyah berharap dapat meninjau permasalahan secara komprehensif, baik yang bersifat internal maupun eksternal, serta memberikan solusi yang relevan.

Pendekatan moderat Muhammadiyah tidak hanya memperkuat posisi institusi dalam arena pendidikan internasional, tetapi juga menegaskan komitmen organisasi untuk tetap berlandaskan pada prinsip Islam yang progresif, membuka ruang bagi kolaborasi lintas negara yang lebih luas.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Muslim di Universitas Muhammadiyah: Fenomena Krismuha Tak Lagi Pinggiran

Muslim di Universitas Muhammadiyah: Fenomena Krismuha Tak Lagi Pinggiran

Keberadaan mahasiswa beragama selain Islam di kampus-kampus Muhammadiyah tidak lagi menjadi kasus langka, bahkan di wilayah yang dianggap pusat gerakan tersebut.

Di beberapa perguruan tinggi yang berada di daerah dengan populasi Muslim minoritas—seperti Universitas Muhammadiyah Papua, Universitas Muhammadiyah Sorong, Maumere, dan Kupang—mahasiswa non-Muslim memang sudah menjadi bagian rutin karena institusi tersebut menjadi pilihan utama dibandingkan tidak melanjutkan pendidikan.

Namun, hal yang sama juga terjadi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pada tahun akademik 2026/2027 tercatat ada 56 mahasiswa baru yang beragama Katolik, Kristen, Buddha, maupun Hindu, sementara lebih dari 75 % pendatang baru tidak berasal dari keluarga Muhammadiyah.

"Kami tidak memaksa mereka untuk berpindah agama, tetapi kami berharap mereka dapat memahami Islam sebagai rahmatan lil alamin," ujar Rektor UMY, Nurmandi, dalam acara MATAR 2026.

Universitas Aisyiyah (UNISA) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD)—juga menarik minat mahasiswa non-Muslim. UNISA mencatat 78 mahasiswa baru beragama Hindu, Katolik, dan Kristen untuk tahun akademik yang sama, sedangkan UAD menerima 35 mahasiswa dengan latar belakang serupa dan masih membuka pendaftaran.

angka tersebut menegaskan bahwa kenyamanan belajar di lingkungan Muhammadiyah terbuka untuk semua, tanpa memandang latar belakang agama, sehingga fenomena Krismuha tidak lagi terbatas pada pinggiran.

Mayoritas Mahasiswa PTMA Bukan Dari Keluarga Muhammadiyah

Persyarikatan Muhammadiyah mengelola 165 perguruan tinggi di Indonesia serta satu di Malaysia (Universitas Muhammadiyah Malaysia). Semua institusi tersebut menerapkan prinsip inklusif, melayani tidak hanya umat Islam atau anggota Muhammadiyah, melainkan seluruh generasi bangsa.

Inklusi ini membuka peluang yang setara bagi setiap pemuda untuk menempuh pendidikan tinggi, dengan sambutan hangat di setiap kampus.

Contoh nyata terlihat ketika Ismail Fahmi, Wakil Sekretaris Majelis Pustaka Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyapa mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia menanyakan latar belakang keluarga para peserta, dan hasilnya menunjukkan proporsi mahasiswa dari keluarga Muhammadiyah jauh lebih kecil dibandingkan dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU).

Menurut perkiraan Fahmi, sekitar 60 % mahasiswa baru di UMS berasal dari keluarga NU, sementara di UMM angka tersebut dapat mencapai 90 %.

Fenomena ini mencerminkan perubahan dinamika demografis di pendidikan tinggi Muhammadiyah, di mana keterbukaan menjadi nilai utama.

Keberagaman agama di antara mahasiswa Muhammadiyah bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata komitmen institusi untuk menjadi tempat belajar yang inklusif, sekaligus memperkuat posisi mereka di tengah persaingan pendidikan nasional.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id