Al-Ma'un: Kemiskinan
Showing posts with label Kemiskinan. Show all posts
Showing posts with label Kemiskinan. Show all posts
Surabaya Tingkatkan Alokasi Pendidikan Jadi 22% di RAPBD 2027, Apa Dampaknya bagi Anak?

Surabaya Tingkatkan Alokasi Pendidikan Jadi 22% di RAPBD 2027, Apa Dampaknya bagi Anak?

Surabaya menyiapkan anggaran pendidikan sebesar 22 persen dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2027, sebuah peningkatan yang menandai komitmen daerah terhadap sektor kritis ini.

RAPBD 2027 diperkirakan mencapai Rp12,8 triliun, sehingga alokasi pendidikan mencapai kira‑kira Rp2,82 triliun. Sebagai perbandingan, APBD 2025 menyalurkan Rp2,588 triliun untuk pendidikan atau 20,96 persen dari total Rp12,3 triliun.

Peningkatan dua poin persentase itu menempatkan Surabaya di atas ambang minimum 20 persen yang diamanatkan Pasal 31 ayat 4 Undang‑Undang Dasar 1945 serta ditegaskan kembali dalam UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Makna anggaran bagi pendidikan

Di balik angka, kota ini telah menunjukkan kemajuan pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang pada 2025 mencapai 85,65, naik 0,96 poin dari 84,69 pada tahun sebelumnya.

Persen penduduk miskin pada Maret 2025 turun menjadi 3,56 persen, menyisakan sekitar 105.090 jiwa yang masih berada di bawah garis kemiskinan.

Pemerintah kota menanggulangi masalah tersebut dengan membebaskan biaya pendidikan di sekolah negeri dan memperluas bantuan bagi keluarga rentan. Pada tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 7.380 siswa SMA, SMK, dan MA menerima dukungan, termasuk bantuan tunai Rp350.000 per bulan serta perlengkapan sekolah bagi mereka yang bersekolah di lembaga swasta.

Intervensi semacam ini penting karena kemiskinan tidak hanya tercermin dalam pendapatan, melainkan juga dalam biaya seragam, transportasi, buku, dan kebutuhan harian lainnya yang dapat memaksa anak berhenti belajar.

Oleh karena itu, peningkatan anggaran diharapkan tidak sekadar menurunkan biaya sekolah, melainkan memperpanjang dan memperkaya jalur pendidikan bagi setiap anak Surabaya.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari antaranews.com
Surabaya Hadapi Tantangan Data dalam Perlindungan Sosial Digital

Surabaya Hadapi Tantangan Data dalam Perlindungan Sosial Digital

Di kota pelabuhan Surabaya, program Perlindungan Sosial Digital (PSD) ternyata menghadapi dilema: warga yang tampak paling membutuhkan bantuan bisa saja terlewat karena catatan administratif, sementara penerima manfaat yang sudah naik taraf hidup tetap tercatat menerima bantuan.

Menurut data terbaru, PSD telah mencakup 1.004.298 kepala keluarga. Namun, proses pembaruan data mengungkap adanya 219.000 warga yang tidak dapat ditemukan dan sekitar 26.000 nama yang sudah tercatat meninggal.

Angka ini menegaskan bahwa tantangan utama bukan sekadar menggelar platform digital, melainkan memastikan sistem dapat mengenali kondisi riil setiap individu.

Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa pada Maret 2025, jumlah penduduk miskin di Surabaya mencapai 105.090 jiwa atau 3,56 % dari total penduduk. Meskipun persentase ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, dinamika kemiskinan tetap berlangsung—keluarga dapat naik kelas, turun kembali, atau berada di ambang kemiskinan yang rawan kembali ke jurang terdahulu.

Data Administratif vs Realitas Sosial

Kasus kepemilikan kendaraan menjadi contoh konkret. Petugas menemukan rumah dengan kondisi ekonomi lemah namun tercatat memiliki mobil. Penelusuran lebih lanjut mengungkap bahwa kendaraan tersebut terdaftar atas nama pengemudi profesional, atau bahkan KTP pemilik dipinjam untuk pendaftaran STNK.

Situasi ini memperlihatkan keterbatasan mengandalkan NIK atau STNK sebagai indikator kesejahteraan. Sebuah nomor identitas memang menandai seseorang, dan nomor kendaraan menandai pemilik secara administratif, namun keduanya belum tentu mencerminkan siapa yang sebenarnya menikmati aset atau menanggung beban hidup keluarga.

Oleh karena itu, basis data perlindungan sosial harus dipandang bukan sekadar daftar orang miskin, melainkan peta dinamis yang menggambarkan siapa yang memerlukan bantuan, siapa yang berada dalam kondisi rentan, dan siapa yang telah berhasil mandiri.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari antaranews.com