Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informatika (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ismail Fahmi, mengungkap antusiasme masyarakat terhadap platform ChatHPT hanya dua hari setelah peluncurannya melalui unggahan di Facebook pada 7 November.
setara 16,2% dari total—menyoroti tata cara shalat, jumlah rakaat, hingga posisi sujud. Angka ini tiga kali lipat lebih tinggi dibanding topik terpopuler berikutnya.
Kelima topik paling sering diajukan semuanya berhubungan dengan ibadah harian: setelah shalat, pertanyaan beralih ke shalat Jumat dan khutbah (2.520), zikir, doa, serta shalawat (2.366), wudhu, thaharah, dan najis (2.188), serta peran imam, makmum, dan shalat berjamaah (1.813).
Peringkat ketujuh didominasi oleh muamalah digital dan AI dengan 1.555 pertanyaan, melampaui topik nikah, talak, rujuk (1.543) dan muamalah, riba, bisnis (1.524). Hal ini menandakan bahwa pengguna tidak hanya mencari panduan ibadah, tetapi juga petunjuk dalam mengelola aktivitas digital mereka.
Beberapa isu klasik dalam diskursus Tarjih tetap muncul, seperti rokok dan tembakau (779 pertanyaan), qunut (717), kalender Hijriah serta penetapan hari raya (478), dan politik‑kebangsaan (467). Karena satu pertanyaan dapat masuk ke lebih dari satu kategori, persentase total tidak selalu mencapai 100%.
Statistik Token ChatHPT: 7,94 Miliar dalam Dua Hari
Ismail menjelaskan bahwa pada 5–6 November 2026, sistem ChatHPT memproses total 7,94 miliar token. Token merupakan unit kata yang dibaca atau dihasilkan model AI, dan mencerminkan beban kerja sistem.
Rinciannya menunjukkan token masukan mencapai 7,76 miliar, sementara token keluaran hanya 179 juta. Setiap jawaban yang diberikan melibatkan pembacaan sekitar 43 token masukan, yang meliputi instruksi, riwayat percakapan, dan kutipan dari naskah Tarjih.
Menurutnya, proses ini tidak bergantung pada ingatan internal model semata, melainkan mengacu pada Himpunan Putusan Tarjih, Fatwa Tarjih, serta dokumen tanya‑jawab agama yang telah disaring sebelumnya.
Kebutuhan warga akan rujukan keagamaan yang cepat dan akurat terbukti tinggi, terbukti dari lonjakan pertanyaan tentang rakaat, wudhu, atau qunut yang kini dapat dijawab secara instan melalui ChatHPT.
Ke depan, tantangan utama tetap pada menjaga konsistensi kualitas jawaban dan kestabilan sistem seiring pertumbuhan jumlah pengguna.
Perlu ditekankan bahwa ChatHPT, yang dikembangkan oleh MPI PP Muhammadiyah bekerjasama dengan LabMu untuk Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PP Muhammadiyah, bersifat sebagai alat bantu interpretasi naskah Tarjih, bukan sebagai sumber fatwa resmi. Untuk urusan yang memerlukan kepastian hukum, masyarakat dianjurkan merujuk langsung pada teks putusan dan berkonsultasi dengan Majelis Tarjih.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Setelah tiga bulan fase percobaan yang menghasilkan sekitar 13 ribu pertanyaan, layanan asisten AI ChatHPT melonjak tajam menjadi 50.756 pertanyaan hanya dalam satu hari pertama sejak resmi diluncurkan.
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informatika (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ismail Fahmi, menyampaikan data tersebut melalui unggahan di media sosial pada Jumat, 6 November 2026.
Ia menjelaskan, sejak peresmian oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah pada Munas Tarjih, Kamis 5 November 2026, hingga sore hari Jumat berikutnya, terdapat penambahan sekitar 37 ribu pertanyaan baru. Angka ini hampir tiga kali lipat total pertanyaan yang terkumpul sejak uji coba dimulai pada bulan Agustus.
ChatHPT berfungsi sebagai asisten digital yang membantu pengguna menelusuri koleksi Tarjih Muhammadiyah, meliputi Himpunan Putusan Tarjih, Fatwa Tarjih, serta sesi Tanya Jawab Agama. Layanan ini dapat diakses melalui situs hpt.muhammadiyah.or.id atau lewat super‑app MASA dengan masuk menggunakan Muhammadiyah ID.
Ratusan Ribu Panggilan dalam Dua Hari
Pada hari peluncuran, sistem mencatat 97.418 panggilan ke model AI. Dalam 24 jam berikutnya, angka tersebut naik menjadi 137.067 panggilan, sehingga total panggilan selama dua hari mencapai 234.485.
Ismail menambahkan bahwa satu pertanyaan biasanya memicu beberapa panggilan karena AI harus menelusuri naskah, memeriksa sumber relevan, dan menyusun jawaban yang tepat.
Selama periode tersebut tercatat 14.165 akun Muhammadiyah ID yang mengakses ChatHPT, dan 13.871 di antaranya (97,9 %) mengajukan pertanyaan. Rinciannya, 11.851 akun (83,7 %) berada pada Level 1, 1.632 akun (11,5 %) pada Level 2, dan 682 akun (4,8 %) pada Level 3.
Temuan ini menunjukkan bahwa lebih dari delapan dari sepuluh pengguna adalah akun Level 1, yakni warga yang belum terdaftar sebagai anggota Persyarikatan. Sementara itu, pengguna Level 2 dan Level 3 berjumlah 2.314 akun atau 16,3 % dari total.
Dengan demikian, ChatHPT tidak hanya melayani anggota internal, melainkan juga membuka pintu bagi masyarakat luas untuk memahami perspektif Muhammadiyah dalam persoalan agama, sekaligus menjadi sarana potensial mengajak mereka menjadi anggota resmi.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, memimpin pelepasan peserta jalan sehat yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat dalam rangka menyambut Milad Muhammadiyah ke-114 di Bandung, Sabtu 7 November.
Semangat Kebugaran dan Kebersamaan
"Bermuhammadiyah itu menggembirakan dan memajukan," ujar Fajar, menegaskan rasa bangga menjadi bagian dari organisasi tersebut.
Ia memuji inisiatif PWM Jawa Barat yang menghidupkan perayaan lewat kegiatan jalan sehat, menyebutnya sebagai peluang bagi anggota untuk menikmati kebersamaan sekaligus menjaga kebugaran di tengah kesibukan organisasi.
Fajar menambahkan, "Jangan lupa bergembira," sebagai ajakan untuk tetap merayakan kebahagiaan bersama.
Dengan nada ringan, ia menyinggung kebiasaan aktivis yang sering terjebak rapat dan gorengan, namun melupakan pentingnya gerak fisik. "Bukan hanya olah pikir, tetapi juga kita harus olahraga," tegasnya.
Ia menekankan nilai guyub dalam acara tersebut, karena pertemuan warga Muhammadiyah dari beragam daerah di Jawa Barat menjadi sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat semangat kolaborasi.
Menurut Fajar, kebugaran tubuh dan kekompakan persaudaraan dapat menjadi sumber energi untuk memperluas manfaat Muhammadiyah bagi masyarakat luas. Dengan kesehatan fisik dan mental, para penggerak dapat melaksanakan pengabdian secara optimal.
"Semoga di Milad Muhammadiyah ke‑114 ini, kita semua selalu diberi kesehatan lahir dan batin dalam menggerakkan persyarikatan," ia menutup dengan harapan.
Selain itu, Fajar menginformasikan bahwa Muhammadiyah akan menyelenggarakan acara Tanwir di Kota Palu pada pekan berikutnya, yang direncanakan akan dibuka oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ketua PWM Jawa Barat, Ahmad Dahlan, menyatakan bahwa jalan sehat merupakan wujud rasa syukur dalam menyambut Milad ke‑114 serta pengingat untuk memperkuat komitmen dan memberikan pelayanan terbaik melalui Muhammadiyah.
"Gerak jalan ini merupakan bentuk rasa syukur kami dalam menyambut Milad Muhammadiyah ke‑114. Terima kasih Pak Wamendikdasmen Fajar telah berkenan hadir dan melepas peserta jalan sehat," ujarnya.
Kegiatan tersebut diikuti ribuan peserta dari warga Muhammadiyah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan Kabupaten Sumedang, serta jajaran PWM Jawa Barat, sejumlah PDM di Jawa Barat, dan perwakilan amal usaha Muhammadiyah di wilayah tersebut.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Di sudut kota yang sama, tiga orang yang pernah saling kehilangan akhirnya menemukan jalan untuk saling mengenal kembali.
Cerpen oleh Rizal Mazaki
Tagar.co – Pukul sembilan lewat tujuh belas menit malam, seorang anak kecil masih berdiri di antara meja-meja kedai kopi.
Kemeja lusuhnya sedikit kebesaran. Celananya menyisakan noda tanah di bagian lutut. Di tangan kirinya tergantung sebuah wadah plastik berisi telur puyuh yang dibungkus dalam beberapa kantong kecil.
“Telur puyuh, Bu. Telur puyuhnya.”
Suaranya nyaris tenggelam oleh percakapan pengunjung dan deru kendaraan yang melintas di jalan raya.
Beberapa orang melirik, sebagian menggeleng, sisanya bahkan tidak menyadari kehadirannya. Anak itu tidak berhenti.
Ia berpindah dari satu meja ke meja lain, menawarkan dagangannya dengan suara yang sama. Sesekali ia mengusap keringat di dahinya menggunakan punggung tangan. Di meja paling ujung, seorang perempuan muda sedang menikmati secangkir kopi.
Namanya Nimas.
Ia memperhatikan anak itu sejak beberapa menit lalu. Bukan karena dagangannya, melainkan karena jam sudah terlalu malam untuk seorang anak seusianya masih berjalan sendirian.
“Dek.” Anak itu menoleh.
“Sini.”
Ia mendekat, lalu mengangkat wadah plastiknya sedikit.
“Berapa satu bungkus?”
“Lima ribu, Mbak.”
Nimas mengeluarkan selembar uang dari dompetnya.
“Dua bungkus, ya.”
Anak itu mengambil dua kantong telur puyuh, lalu menyerahkannya dengan hati-hati.
“Terima kasih, Mbak.”
“Kamu belum pulang?”
“Sebentar lagi. Masih ada yang belum habis.”
Nimas melirik wadah plastik di tangannya. Isinya tinggal beberapa bungkus.
“Besok sekolah?”
Anak itu mengangguk.
“Kelas berapa?”
“Empat.”
Nimas tersenyum kecil.
“Namanya siapa?”
“Arga.”
“Rumahnya jauh?”
“Enggak terlalu, Mbak.”
Arga menjawab singkat. Ia tidak terbiasa menjelaskan banyak hal kepada orang asing. Sebelum pergi, Nimas sempat memperhatikan kaki anak itu.
Tanpa alas.
Ia kembali menatap Arga, tetapi anak itu sudah beranjak menuju meja berikutnya. Nimas menunduk. Kopinya masih hangat, tetapi entah mengapa malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Pagi hari selalu datang dengan suara yang sama di sudut kota itu. Pedagang sayur membuka lapak. Tukang becak mulai mencari penumpang. Sepeda motor memenuhi jalanan sempit di sekitar pasar. Aroma ikan, sayuran basah, dan asap kendaraan bercampur menjadi satu.
Di tengah keramaian itu, Arga berjalan sendirian.
Seragam putih merahnya sudah kusam. Kancing bagian atasnya berbeda warna dengan kancing lainnya. Celananya sedikit kependekan, memperlihatkan pergelangan kaki yang menghitam karena debu jalanan.
anak lain berjalan berkelompok. Beberapa diantar orang tua, sebagian bercanda sambil membawa tas bergambar tokoh kartun.
Arga tidak membawa tas.
Di tangan kanannya hanya ada kantong kresek bening yang berisi satu buku tulis dan sebuah pensil pendek.
Ia melewati kios buah, warung nasi, lalu sebuah toko kelontong yang pintunya baru dibuka.
“Ga, berangkat sekolah?”
Seorang pedagang menyapanya.
“Iya, Pak.”
“Sudah sarapan?”
Arga menggeleng kecil.
“Belum.”
Pedagang itu mengambil sepotong roti dari etalase.
“Nih. Jawa.”
“Enggak usah, Pak. Nanti saya bayar.”
“Sudah, makan saja. Bapak juga belum sarapan.”
Arga menerima roti itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Pak.”
Ia melanjutkan langkahnya.
Di sepanjang jalan, Arga sudah terbiasa melihat hal-hal yang tidak dimiliki anak-anak seusianya. Sepatu baru, tas sekolah, uang saku, bekal makan siang. Semuanya tampak sederhana bagi sebagian orang, tetapi baginya seperti barang-barang yang hanya bisa dilihat dari balik etalase.
Namun, ia tidak terlalu memikirkannya. Setidaknya, ia masih bisa sekolah. Dan selama masih bisa sekolah, ia merasa belum kehilangan semuanya.
Rumah Arga berada di salah satu bangunan rumah susun di pinggiran kota. Lantai bawah. Unit kecil dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan ruang depan yang menyatu dengan dapur.
Di dinding dekat jendela tergantung sebuah kalender lama. Di atas meja kecil terdapat gelas plastik, beberapa lembar uang, dan foto seorang lelaki yang tersenyum sambil menggendong anak kecil.
Itu ayahnya.
Sudah beberapa bulan sejak kecelakaan itu merenggut nyawa lelaki tersebut. Arga masih sering memandangi foto itu, terutama ketika malam terasa terlalu sepi.
Ibunya tidak tinggal bersamanya. Perempuan itu bekerja di luar kota dan hanya sesekali pulang. Uang yang dikirim setiap beberapa minggu digunakan untuk membayar kebutuhan rumah, listrik, dan sekolah.
Namun, tidak semuanya selalu cukup. Pagi itu, sebelum berangkat sekolah, Arga sempat membuka laci meja.
Di dalamnya ada beberapa lembar uang dan secarik kertas dari sekolah.
Pemberitahuan tunggakan pembayaran administrasi.
Ia membaca tulisan itu beberapa kali, kemudian melipatnya kembali.
Tidak ada gunanya menangis.
Tidak ada pula yang bisa ia lakukan selain berusaha.
Setelah pulang sekolah nanti, ia harus berjualan lagi.
Sore hari, Arga mulai berkeliling.
Telur puyuh itu ia bawa dalam wadah plastik yang disimpan di keranjang kecil. Beberapa dibungkus dengan tusuk bambu dan bumbu sederhana agar mudah dijual.
Ia mendatangi warung makan, kios gorengan, pedagang kaki lima, hingga gang-gang kecil yang ramai menjelang magrib.
“Telur puyuh, Bu.”
“Tidak, Nak. Sudah ada.”
“Telur puyuh, Pak.”
“Besok saja.”
Arga mengangguk.
Ia tidak memaksa.
Di sebuah warung, seorang pembeli membeli tiga bungkus. Di tempat lain, seorang ibu membeli dua bungkus untuk anaknya.
Sedikit demi sedikit, isi keranjangnya berkurang. Ketika matahari mulai tenggelam, Arga duduk sebentar di pinggir trotoar. Ia membuka kantong kresek yang dibawanya sejak pagi, mengeluarkan buku tulis, lalu mencoret sesuatu di halaman belakang.
angka kecil.
Ia menghitung uang hasil penjualan hari itu.
Lima ribu. Sepuluh ribu. Lima belas ribu.
Setelah dikurangi modal, masih ada sedikit uang yang bisa dibawa pulang. Arga memasukkan kembali bukunya. Di seberang jalan, seorang anak seusianya sedang dibonceng ayahnya. Anak itu tertawa sambil memeluk punggung lelaki di depannya.
Arga memperhatikan sebentar. Kemudian ia berdiri dan kembali berjalan. Dagangan belum habis.
Malam berikutnya, Nimas kembali duduk di kedai kopi yang sama. Ia datang hampir setiap malam setelah menyelesaikan pekerjaannya. Tidak ada alasan khusus. Ia hanya menyukai suasana kota setelah matahari terbenam.
orang datang dan pergi. Lampu kendaraan membentuk garis-garis panjang di jalan. Suara mesin kopi terdengar sesekali dari balik meja kasir.
Nimas sedang membaca pesan di ponselnya ketika suara kecil terdengar dari samping.
“Telur puyuh, Mbak?”
Ia mengangkat kepala.
Arga.
“Lho, kamu lagi?”
Arga tersenyum tipis.
“Iya, Mbak.”
“Sudah makan?”
“Sudah.”
Jawabannya terlalu cepat.
Nimas tidak langsung percaya, tetapi ia juga tidak ingin membuat anak itu merasa sedang diperiksa.
“Dua bungkus lagi, ya.”
Arga mengambilkan pesanannya.
Saat menyerahkan uang, Nimas melihat sesuatu di tangan anak itu. Sebuah gantungan kunci kecil berbentuk burung, warnanya sudah pudar dan salah satu sayapnya retak.
“Gantungan kunci itu punya siapa?”
Arga melihat tangannya.
“Punya bapak.”
“Bapakmu?”
“Iya. Dulu sering dibawa kalau pergi kerja.”
Nimas memperhatikan gantungan itu lebih lama. Ada sesuatu yang terasa familier. Namun, ia belum bisa mengingatnya.
“Bapakmu sekarang di mana?”
Arga menunduk sebentar.
“Sudah meninggal, Mbak.”
Nimas terdiam.
“Maaf.”
“Enggak apa-apa.”
Arga memasukkan uang ke kantong kecilnya. Sebelum pergi, Nimas bertanya lagi.
“Namanya siapa, Dek?”
Arga menyebutkan nama ayahnya. Dan kali ini, Nimas benar-benar kehilangan kata-kata.
Nama itu.
Nama yang dulu sering dipanggilnya dari ujung rumah. Nama kakaknya.
“Arga?”
Anak itu menoleh.
“Kamu anaknya siapa tadi?”
Arga mengulang nama ayahnya.
Nimas menatap wajahnya. Ada sesuatu pada bentuk mata dan garis senyumnya yang tiba-tiba terasa sangat dekat.
Tetapi Arga sudah pergi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh. Malam itu, kopi Nimas tidak habis. Di sudut pasar yang berbeda, seorang lelaki tua sedang duduk di bangku kayu.
Usianya mungkin sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Rambutnya memutih, punggungnya sedikit membungkuk, dan tangannya tampak bergetar ketika memegang gelas teh.
Sebagian pedagang hanya memanggilnya Pak Tua. Ia tinggal tidak jauh dari sana dan menghabiskan sebagian besar waktunya di sekitar pasar.
Beberapa hari terakhir, ia sering melihat seorang anak laki-laki membawa keranjang kecil berisi telur puyuh.
Awalnya, ia hanya membeli satu bungkus. Kemudian dua. Lama-kelamaan, ia hampir selalu membeli dagangan anak itu setiap kali mereka bertemu. Bukan karena ia terlalu menyukai telur puyuh.
Ada sesuatu pada anak itu yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan. Suatu sore, Arga kembali menghampirinya.
“Telur puyuh, Kek?”
Lelaki tua itu mengangkat wajah.
“Masih banyak?”
“Lumayan.”
“Berapa?”
“Lima ribu satu bungkus.”
Kakek itu mengambil dua bungkus, lalu menyerahkan uang sepuluh ribu. Arga menghitungnya.
“Pas, Kek.”
Kakek mengangguk. Beberapa saat kemudian, ia bertanya.
“Boleh tanya sesuatu?”
“Boleh.”
“Nama bapakmu siapa?”
Arga menyebutkan nama ayahnya. Tangan kakek berhenti bergerak. Gelas teh yang berada di sampingnya nyaris tersenggol.
“Bapakmu tinggal di mana dulu?”
“Dulu di sini, Kek. Sekarang sudah enggak ada.”
Kakek menatapnya.
“Maksudmu?”
“Bapak sudah meninggal. Kecelakaan.”
Suara kendaraan dari jalan raya terdengar seperti menjauh. Kakek menunduk. Ia mengeluarkan dompet kecil dari saku bajunya, lalu mengambil selembar uang tambahan.
“Ini buat kamu.”
Arga menggeleng.
“Enggak usah, Kek. Ini sudah pas.”
“Ambil saja.”
“Kalau uangnya lebih, nanti saya enggak enak.”
Kakek memandang anak itu cukup lama. Lalu ia menarik kembali uang tersebut.
“Ya sudah. Hati-hati pulangnya.”
Arga mengangguk. Ketika anak itu mulai menjauh, kakek masih duduk di tempatnya. Nama yang baru saja disebutkan Arga berputar-putar di kepalanya. Nama anak lelakinya. Nama yang sudah lama tidak pernah ia dengar dari mulut orang lain. Malam itu, Nimas membuka sebuah kotak lama di lemari kamarnya.
Kotak itu berisi beberapa foto keluarga, surat-surat, dan barang-barang kecil yang sudah lama tidak disentuhnya. Ia mencari foto kakaknya. Satu per satu lembar foto dibuka. Ada foto saat kakaknya masih sekolah. Foto ketika mereka pergi ke pantai. Foto keluarga ketika semuanya masih tinggal bersama.
Kemudian ia menemukan sebuah foto kecil. Di dalamnya, ayahnya berdiri sambil menggendong kakaknya yang masih berusia sekitar sepuluh tahun. Di samping mereka, Nimas kecil sedang tersenyum. Nimas memperbesar foto itu dengan jari.
Pada pergelangan tangan kakaknya tergantung sebuah gantungan kunci berbentuk burung. Sama. Persis seperti yang dibawa Arga. Nimas duduk terdiam. Ia kembali mengingat percakapannya dengan anak itu. Tentang ayahnya yang sudah meninggal.
Tentang dagangan telur puyuh. Tentang wajah kecil yang memiliki garis senyum serupa kakaknya. Ia mengambil ponsel dan membuka daftar kontak lama. Nama kakaknya masih tersimpan di sana.
Tidak aktif.
Sudah lama.
Nimas meletakkan ponsel di meja. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa benar-benar ingin mengetahui sesuatu yang selama ini ia biarkan berlalu. Di mana anak kakaknya tinggal? Dan siapa yang menjaganya sekarang?
Ada satu hal yang tidak diketahui Nimas tentang kakaknya.
Jauh sebelum kecelakaan itu terjadi, hubungan ayah Arga dengan kakek sebenarnya sudah lama merenggang.
Dahulu, kakek memiliki usaha kecil yang cukup untuk menghidupi keluarga. Ia berharap anak lelakinya kelak meneruskan usaha tersebut. Menurutnya, pekerjaan yang sudah ada jauh lebih menjanjikan daripada memulai sesuatu dari nol.
Namun, ayah Arga memiliki keinginan berbeda. Ia ingin bekerja dengan caranya sendiri. Ia tidak ingin seluruh hidupnya berjalan berdasarkan keputusan orang lain, bahkan keputusan ayahnya sendiri.
Perselisihan itu semakin besar ketika ayah Arga menikahi perempuan yang kemudian menjadi ibu Arga.
Kakek tidak sepenuhnya menyetujui pilihan anaknya. Ia merasa perempuan itu dan keluarganya tidak akan mampu memberikan kehidupan yang layak bagi anak lelakinya.
Ucapan itu melukai hati ayah Arga.
Bukan karena ia tidak mampu menerima perbedaan pendapat, melainkan karena orang yang seharusnya paling memahami pilihannya justru merendahkan keluarga yang sedang ia bangun. Suatu malam, pertengkaran besar terjadi.
“Bapak selalu menganggap saya tidak bisa menentukan hidup sendiri,” kata ayah Arga.
“Saya hanya ingin kamu punya masa depan yang jelas.”
“Dengan pekerjaan seperti itu? Dengan penghasilan yang tidak seberapa?”
Ayah Arga terdiam sesaat.
“Setidaknya saya tidak harus membuat keluarga saya merasa tidak cukup baik di mata orang lain.”
Kakek membalas dengan suara yang meninggi.
“Kalau kamu memilih pergi, jangan harap semuanya akan mudah!”
Ayah Arga mengambil jaketnya.
Ia tidak membanting pintu. Tidak pula mengucapkan kata-kata kasar. Ia hanya pergi. Dan sejak malam itu, hubungan mereka semakin jauh. Nimas pernah mencoba menjadi penengah. Namun, ia terlalu muda dan tidak memiliki cukup keberanian untuk mengubah keputusan kedua orang yang sama-sama keras kepala.
Waktu berjalan.
Ayah Arga menikah, memiliki anak, dan membangun kehidupan sederhana bersama keluarganya. Ia tidak lagi sering mengunjungi rumah orang tuanya. Sesekali Nimas masih menghubunginya. Mereka bertukar kabar, tetapi percakapan mereka semakin jarang.
Sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi.
Kabar kematian ayah Arga sampai kepada keluarga besarnya melalui seorang kerabat. Namun, alamat keluarga kecil itu sudah tidak jelas. Nomor lama yang pernah digunakan untuk menghubungi mereka tidak lagi aktif.
benar memahami betapa jauh jarak yang telah ia biarkan terbentuk. Tetapi saat itu, anak lelakinya sudah tidak bisa ditemui lagi. Dua hari kemudian, Nimas berhasil menemukan alamat rumah susun tempat Arga tinggal.
Bangunannya tidak terlalu jauh dari pasar. Cat dindingnya mulai mengelupas dan lorongnya sempit. Lampu kuning di beberapa bagian berkedip sesekali. Nimas berdiri di depan salah satu pintu. Ia mengetuk dua kali.
Tok… tok…
Seorang perempuan muncul dari dalam.
“Cari siapa, Mbak?”
“Saya Nimas. Saya ingin bertemu Arga.”
Perempuan itu memandang Nimas sebentar.
“Arga belum pulang. Mungkin masih jualan.” Nimas mengangguk.
“Boleh saya menunggu?”
Perempuan itu mempersilakannya masuk. Nimas duduk di kursi plastik dekat meja kecil. Matanya menyapu ruangan.
Satu kamar tidur. Satu kamar mandi. Dapur kecil di sudut ruangan. Sebuah kalender lama tergantung di dinding.
Di atas meja, ada foto seorang lelaki.
Nimas berdiri.
Ia mendekati foto itu.
Tidak salah lagi.
Itu kakaknya.
Tangannya menyentuh bingkai foto yang sedikit berdebu.
“Ini…”
Perempuan itu mendekat.
“Bapaknya Arga.”
Nimas mengangguk pelan.
“Saya adiknya.”
Perempuan itu terdiam. Beberapa saat kemudian, ia memperkenalkan diri sebagai Bu Sari, tetangga yang sesekali membantu mengawasi Arga ketika anak itu pulang.
Nimas lalu mengetahui bagaimana keponakannya menjalani hari-hari.
Tentang sekolahnya.
Tentang dagangannya.
Tentang uang yang dikirim ibunya.
Tentang seorang anak yang hampir setiap hari berjalan sendiri melewati pasar. Nimas mendengarkan tanpa menyela. Sesekali ia menunduk. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan kepada kakaknya, tetapi tidak ada lagi kesempatan untuk mendengar jawabannya.
Sebelum pulang, Nimas meminta nomor telepon ibu Arga kepada Bu Sari. Panggilan itu baru terhubung pada malam hari.
Nimas duduk di kamarnya sambil memandangi layar ponsel. Ia sudah beberapa kali mencoba menyusun kalimat, tetapi semuanya terasa terlalu sulit untuk dimulai. Akhirnya, panggilan diangkat.
“Halo?”
Suara perempuan terdengar dari seberang.
“Assalamualaikum. Apa benar ini ibunya Arga?”
“Iya. Ini siapa?”
“Saya Nimas. Adik dari almarhum suami Ibu.”
Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Lalu terdengar tarikan napas panjang.
“Nimas?”
“Iya, Bu.”
“Kamu… tahu Arga dari mana?”
Nimas menunduk.
“Saya bertemu Arga beberapa kali di pusat kota. Dia jualan telur puyuh.”
Suara di seberang mendadak berubah.
“Dia masih jualan sampai malam?”
Nimas terdiam sejenak.
“Iya, Bu. Saya juga sudah datang ke rumahnya.”
Tidak ada suara. Hanya terdengar bunyi samar seperti seseorang sedang meletakkan sesuatu.
“Maaf,” kata Nimas akhirnya. “Saya baru tahu keadaan Arga sekarang.”
Perempuan itu menarik napas panjang.
“Saya juga minta maaf, Nimas.”
“Kenapa, Bu?”
“Saya sebenarnya tahu keluarga bapaknya masih ada.”
Nimas terdiam.
“Dulu, sebelum suami saya meninggal, kami memang sudah lama tidak berhubungan dengan keluarga Bapak. Dia tidak pernah melarang saya menghubungi kalian. Tapi dia selalu bilang belum siap bertemu lagi.
Suara perempuan itu sedikit bergetar.
“Setelah dia meninggal, saya pernah mencoba menghubungi nomor lama Bapak. Tidak aktif. Saya juga tidak tahu harus mencari ke mana. Waktu itu saya baru saja kehilangan suami, harus mengurus pemakaman, lalu mencari pekerjaan agar Arga tetap bisa makan.”
Ia berhenti sejenak.
“Saya tidak bermaksud menjauhkan Arga dari keluarganya.”
Nimas memejakan mata.
“Tidak apa-apa, Bu.”
“Ketika saya tahu ada keluarga dari pihak bapaknya, saya sebenarnya senang. Tapi saya takut.”
“Takut kenapa?”
“Saya takut Arga akan merasa tidak diinginkan lagi. Saya takut dia akan mendengar cerita tentang masa lalu yang belum tentu bisa dia pahami. Saya juga takut orang-orang akan menganggap saya tidak mampu menjaga anak sendiri.”
Nimas menggenggam ponselnya lebih erat.
“Bu, saya tidak datang untuk mengambil Arga dari Ibu.”
Di seberang, suara itu kembali terdiam.
“Saya hanya ingin mengenal keponakan saya. Saya juga ingin memperbaiki sesuatu yang dulu tidak sempat saya perbaiki dengan kakak saya.”
Beberapa detik berlalu.
Lalu terdengar isak kecil.
“Kalau begitu… tolong temani dia, Nimas.”
Nimas tidak langsung menjawab.
“Tapi jangan biarkan dia merasa harus memilih antara keluarga bapaknya dan ibunya. Dia sudah kehilangan terlalu banyak.”
Nimas mengangguk, meskipun perempuan di seberang sana tidak dapat melihatnya.
“Iya, Bu. Saya mengerti.”
Sebelum panggilan berakhir, ibu Arga meminta satu hal.
“Kalau nanti bertemu Bapak, sampaikan bahwa saya tidak pernah melarang Arga mengenal keluarganya. Saya hanya tidak tahu harus memulai dari mana.”
Nimas menatap layar ponselnya setelah panggilan terputus.
Malam itu, ia menyadari bahwa bukan hanya kakek yang terlambat menemukan jalan pulang. Ada seorang ibu yang selama ini berusaha menjaga anaknya dengan cara yang ia mampu, meskipun harus mengorbankan kehadirannya sendiri.
Dua hari kemudian, Nimas kembali ke rumah susun. Kali ini, ia tidak datang sendirian. Seorang lelaki tua berjalan pelan di sampingnya. Kakek itu mengenakan kemeja sederhana dan membawa sebuah amplop cokelat yang sudah sedikit kusut.
Arga baru saja pulang sekolah ketika mereka tiba. Ia masih mengenakan seragamnya. Kantong kresek bening tergantung di tangan.
“Arga,” panggil Nimas.
Anak itu berhenti.
“Eh, Mbak Nimas.”
Nimas tersenyum.
“Boleh kenalan sama seseorang?”
Arga melihat lelaki tua di sampingnya. Ia mengenal wajah itu. Kakek yang sering membeli telur puyuhnya.
“Kakek?”
Lelaki tua itu mengangguk.
“Masih ingat saya?”
Arga tersenyum kecil.
“Ingat. Yang suka beli dua bungkus.”
Kakek ikut tersenyum, tetapi bibirnya tampak bergetar.
“Iya. Saya.”
Mereka masuk ke dalam rumah. Nimas mengambil sebuah foto dari amplop cokelat yang dibawa kakek.
Foto lama. Di dalamnya terdapat seorang lelaki muda, seorang perempuan kecil, dan seorang lelaki paruh baya.
Arga memperhatikan foto itu. Ia mengenali lelaki muda yang berdiri di tengah.
“Bapak…”
Nimas mengangguk.
“Iya. Itu bapakmu.”
Arga mengambil foto itu dengan kedua tangan.
“Yang ini siapa?” Nimas menunjuk perempuan kecil.
“Itu Mbak Nimas. Waktu masih kecil.”
Lalu ia menunjuk lelaki paruh baya.
“Dan itu…”
Kakek menyelesaikan kalimatnya.
“Saya. Ayah dari bapakmu.”
Arga menatapnya. Beberapa detik berlalu.
“Berarti… Kakek?” Lelaki tua itu mengangguk.
“Iya, Nak.”
Ruangan menjadi sunyi.
Arga memandang foto itu lagi, lalu melihat wajah kakek. Ia seperti sedang mencoba mencocokkan dua potongan gambar yang selama ini tidak pernah ia ketahui saling berhubungan.
“Kenapa Kakek enggak pernah bilang?”
Kakek tidak langsung menjawab. Ia menunduk, membuka amplop cokelat, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas kecil.
“Saya mencari kamu, Ga.”
Arga mengerutkan dahi.
“Cari aku?”
Kakek mengangguk.
“Sudah lama. Kakek pernah datang ke beberapa tempat yang katanya dulu bapakmu tinggal. Tapi tidak ketemu.”
catatan itu. Ada beberapa nama jalan, tanggal, dan alamat yang ditulis dengan tangan.
“Beberapa kali saya melihat anak yang mirip bapakmu. Saya pikir mungkin kamu. Tapi saya tidak pernah yakin.”
Arga memandang kertas itu.
“Terus kenapa Kakek enggak tanya?”
Kakek terdiam.
Kali ini, ia menatap cucunya.
“Karena Kakek takut salah.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan karena Kakek tidak tahu harus mulai dari mana.”
Arga tidak menjawab.
Kakek mengeluarkan sebuah foto lain dari amplop. Foto ayah Arga ketika masih kecil, sedang berdiri di sampingnya. Di bagian belakang foto tertulis sebuah kalimat pendek.
Untuk Bapak, suatu hari nanti kita harus bicara lagi.
Kakek menyentuh tulisan itu.
“Bapakmu pernah menyimpan foto ini. Kakek menemukannya setelah dia meninggal.”
Ia menelan ludah.
“Dulu, Kakek terlalu sibuk merasa paling tahu apa yang baik untuk anak sendiri. Sampai lupa kalau anak juga punya hak untuk menentukan jalan hidupnya.”
Kakek menatap foto itu.
“Kakek pikir, kalau dibiarkan beberapa waktu, dia akan pulang sendiri. Kakek tidak pernah menyangka waktu ternyata tidak menunggu siapa pun.”
Ia kembali menatap Arga.
“Kakek seharusnya datang lebih cepat.”
Tidak ada tangisan keras. Tidak ada pelukan yang tiba-tiba. Hanya seorang lelaki tua yang duduk di kursi plastik, memegang foto anaknya, dan seorang anak kecil yang sedang berusaha memahami bahwa ternyata ia masih memiliki keluarga.
Malam itu, ibu Arga menelepon. Nimas memberikan ponselnya kepada Arga.
“Arga, ada telepon dari Ibu.”
Arga segera mengambilnya.
“Halo, Bu.”
“Sudah makan, Nak?”
“Sudah.”
“Sekolahnya bagaimana?”
“Baik.”
Ada jeda.
Lalu ibu Arga bertanya dengan suara pelan.
“Kamu sudah bertemu Kakek?”
Arga melihat lelaki tua yang duduk tidak jauh darinya.
“Sudah, Bu.”
“Orangnya baik?”
Arga mengangguk, meskipun ibunya tidak bisa melihat.
“Baik.”
Ibu Arga terdiam.
“Kalau Kakek atau Mbak Nimas datang, temani saja. Mereka keluarga Bapak.”
Arga memainkan ujung kantong kresek di tangannya.
“Berarti Ibu enggak apa-apa?”
Pertanyaan itu membuat perempuan di seberang telepon kehilangan kata-kata sejenak.
“Ibu enggak apa-apa, Nak.”
“Arga takut Ibu marah.”
“Kenapa harus marah?”
“Karena Arga ketemu keluarga Bapak.”
Di seberang sana terdengar napas panjang.
“Ga, dengarkan Ibu.”
“Iya, Bu.”
“Keluarga Bapak bukan berarti bukan keluarga kamu. Kamu boleh mengenal mereka. Kamu boleh dekat dengan mereka. Itu tidak akan membuat Ibu kehilangan kamu.”
Arga menunduk.
“Ibu kapan pulang?”
“Kalau pekerjaan Ibu sudah selesai, Ibu pulang.”
“Arga tunggu.”
“Iya, Nak. Ibu juga ingin cepat pulang.”
Panggilan berakhir.
Arga mengembalikan ponsel kepada Nimas. Ia tidak banyak bicara. Hanya duduk sambil memandangi foto ayahnya. Kakek kemudian mendekat.
“Boleh Kakek lihat?”
Arga menyerahkan foto itu. Lelaki tua tersebut memperhatikan wajah anaknya cukup lama.
“Dulu bapakmu juga suka menyimpan foto ini,” katanya.
Arga mendongak.
“Bapak pernah cerita tentang Kakek?”
Kakek tersenyum tipis.
“Pernah. Mungkin tidak banyak.”
“Bapak marah sama Kakek?”
Kakek tidak langsung menjawab.
Ia menatap cucunya, kemudian mengangguk pelan.
“Pernah.”
Arga menunggu.
“Kakek juga pernah marah sama bapakmu. Kami sama-sama keras kepala.”
“Terus sudah enggak marah?”
Kakek tersenyum getir.
“Seharusnya kami bisa saling memaafkan sebelum semuanya terlambat.”
Arga kembali menatap foto itu.
Ia tidak sepenuhnya memahami apa yang terjadi antara ayahnya dan kakek. Tetapi ia tahu ada sesuatu yang membuat keduanya tidak bisa bertemu lagi. Dan mungkin, untuk saat ini, ia tidak perlu memahami semuanya sekaligus.
Beberapa hari berlalu.
Kehidupan Arga belum berubah sepenuhnya. Ibunya masih bekerja di luar kota. Ia masih tinggal di rumah susun yang sama. Sekolah masih menjadi tanggung jawab yang harus ia perjuangkan.
Namun, kini Nimas sesekali datang menemaninya. Kakek juga mulai sering mengunjunginya. Mereka tidak pernah memaksanya berhenti berjualan. Tidak pula menjanjikan bahwa semua masalah akan selesai dalam sehari.
Mereka hanya mulai hadir. Suatu pagi, Arga bersiap berangkat sekolah. Kantong kresek bening masih tergantung di tangannya. Di dalamnya ada buku tulis yang sama, dengan beberapa halaman yang mulai terlipat.
Kakek sudah menunggu di depan pintu.
“Sudah siap?”
“Sudah.”
Kakek melirik kantong kresek itu.
“Bukunya masih dibawa begitu?”
Arga melihat tangannya.
“Iya, Kek.”
“Besok kita cari tas, ya.”
Arga tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis.Mereka mulai berjalan menyusuri lorong rumah susun, kemudian keluar menuju jalan yang sama dengan yang setiap hari dilewati Arga.
Pasar sudah ramai.
Pedagang mulai membuka lapak. Tukang becak mencari penumpang. Kendaraan memenuhi jalanan.
Di antara keramaian itu, Arga berjalan di samping kakeknya.
Tidak jauh dari sana, Nimas sedang duduk di kedai kopi yang beberapa malam lalu menjadi tempat pertama ia mengenal anak itu. Secangkir kopi terhidang di hadapannya.
Ia melihat ke arah jalan.
Kali ini, ia tidak melihat seorang anak kecil yang berjalan sendirian sambil membawa dagangan. Ia melihat Arga bersama kakeknya. Nimas tersenyum kecil. Kota itu masih sama.
orang masih sibuk dengan urusannya masing-masing.
Hanya saja, pagi itu ada sesuatu yang berbeda. Arga tidak lagi berjalan sendirian. Ia masih membawa satu buku di dalam kantong kresek. Masih mengenakan seragam yang sama. Masih tinggal di rumah susun yang sama.
Namun, kini ia tahu bahwa di antara sekian banyak orang yang berjalan melewatinya, ada beberapa orang yang bersedia berhenti, mengenalnya, dan berjalan di sampingnya.
Di sudut kota yang sama, tiga orang yang pernah saling kehilangan akhirnya menemukan jalan untuk saling mengenal kembali.
Kita tidak selalu bisa memperbaiki masa lalu, tetapi kita selalu punya kesempatan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebab, pada akhirnya, keluarga bukan hanya tentang siapa yang memiliki hubungan darah dengan kita, melainkan siapa yang bersedia hadir ketika kita membutuhkan tempat untuk pulang. (#)
Penyunting Ichwan Arif
14
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Kisah dua putra Adam yang mempersembahkan kurban menjadi fokus ayat-ayat 27‑28 Surah Al‑Maidah. Meskipun keduanya menyerahkan persembahan, hanya satu yang diterima Allah, memicu perseteruan yang berujung pada pembunuhan. Cerita ini mengajarkan tentang kualitas amal, ketakwaan, serta bahaya iri‑hasad.
Persembahan yang Membuka Hati
Dalam tradisi tafsir, kedua tokoh dikenal sebagai Habil dan Kabil. Habil, seorang peternak, menawarkan hewan terbaiknya, sementara Kabil, seorang petani, mempersembahkan hasil pertanian yang kurang memuaskan. Perbedaan kualitas persembahan menjadi faktor utama mengapa Allah menerima kurban Habil.
Qur’an menegaskan bahwa Allah tidak menilai berdasarkan benda semata, melainkan pada ketakwaan sang pemberi: “Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang yang bertakwa.”
Ketakwaan Sebagai Penentu Nilai Amal
Ayat ini mengalihkan perhatian dari tampilan luar ibadah ke niat dan keikhlasan hati. Sebuah amal yang tampak besar di mata manusia dapat tidak bernilai di sisi Allah bila tidak dilandasi ketakwaan, sementara amal sederhana dapat memiliki nilai tinggi bila dilakukan dengan keikhlasan.
Pengajaran ini mengingatkan agar umat tidak sekadar memamerkan amal, melainkan memperbaiki niat, kejujuran, dan kepatuhan kepada Allah.
Ancaman Iri dan Tindakan Kekerasan
Ketika kurban Kabil tidak diterima, ia mengancam akan membunuh saudaranya. Sikap ini mencerminkan bahaya hasad yang mengubah rasa tidak puas menjadi niat jahat. Alih‑alih introspeksi, Kabil justru menyalakan amarah terhadap Habil.
Balasan Habil tidak berupa pembalasan fisik, melainkan penolakan terhadap ancaman dengan menyatakan takut kepada Allah. Ia berkata, “Jika engkau menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu; sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”
Dua Dimensi Ketakwaan
Kisah ini menegaskan bahwa ketakwaan meliputi dua aspek: memberikan yang terbaik dalam ibadah kepada Allah, serta menahan diri dari kezaliman terhadap sesama. Seorang mukmin harus mampu menyuguhkan amal yang tulus sekaligus mengendalikan hati, lisan, dan tindakan agar tidak menyakiti orang lain.
ketika mempersembahkan sesuatu kepada Allah, apakah kita menawarkan yang terbaik atau hanya yang tersisa? Dan ketika melihat keberhasilan orang lain, apakah kita bersyukur atau justru diliputi rasa iri?
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Bayangkan seekor lebah yang pada suatu pagi terjebak oleh laba‑laba buatan di antara kelopak bunga. Setelah berhasil meloloskan diri, lebah tersebut menjadi lebih berhati‑hati, selalu memeriksa bunga sebelum mendekat, meski ancaman sudah tiada. Penelitian ini menimbulkan pertanyaan: apakah pengalaman buruk dapat menimbulkan rasa takut pada makhluk sekecil lebah?
Pengalaman Buruk dan Kewaspadaan pada Lebah
Tim yang dipimpin oleh Lars Chittka di Universitas Queen Mary menemukan bahwa lebah yang pernah diserang oleh “laba‑laba” tiruan cenderung menghindari bunga yang tampak aman. Perilaku ini menyerupai kewaspadaan berkelanjutan yang pada manusia biasanya terkait dengan trauma.
Lalat Buah dan Sistem Penghargaan
Penelitian yang diterbitkan dalam Science pada 2012 menunjukkan bahwa lalat buah jantan yang berulang kali ditolak saat kawin meningkatkan preferensinya terhadap makanan yang mengandung etanol. Mekanisme ini melibatkan neuropeptida F, molekul yang mengatur sistem penghargaan otak lalat, mengisyaratkan adanya hubungan antara pengalaman emosional dan pilihan makanan pada serangga.
Optimisme dan Pesimisme pada Lebah
Studi lain pada tahun 2016 mengamati lebah Bombus yang dilatih mengenali sinyal makanan. Lebah yang sebelumnya diberi larutan gula menanggapi sinyal samar lebih cepat, yang diinterpretasikan sebagai keadaan menyerupai optimisme. Sebaliknya, lebah yang diguncang cenderung menganggap sinyal samar sebagai pertanda buruk, menandakan adanya kemungkinan “pesimisme” pada serangga.
Para ilmuwan menekankan penggunaan istilah emotion‑like states untuk mencerminkan ketidakpastian ilmiah; mereka tidak langsung menyebutnya “emosi” melainkan mengamati perubahan kimia otak seperti dopamin dan serotonin yang berhubungan dengan perilaku tersebut.
Kecerdasan Miniatur: Otak Lebah yang Luar Biasa
Meskipun otak lebah sekecil biji popi, ia mampu mengingat lokasi bunga, membandingkan kualitas nektar, serta menyesuaikan rute pencarian ketika sumber makanan berubah. Penelitian Chittka menegaskan bahwa ukuran otak tidak selalu sebanding dengan kemampuan kognitif.
Lebah madu bahkan dapat dilatih mengenali gambar wajah manusia, menunjukkan bahwa sistem visual serangga dapat memproses pola kompleks layaknya pengenalan sosial pada mamalia.
Dampak Praktis bagi Pertanian
Lebah berperan penting dalam penyerbukan tanaman pangan, tetapi koloni mereka kini terancam oleh pestisida, penyakit, dan kehilangan habitat. Laporan The Guardian (April 2023) mencatat penurunan drastis koloni di Amerika Serikat, dengan Bee Informed Partnership memperkirakan kehilangan sekitar 39 % koloni antara 2021‑2022.
Teknologi modern seperti sensor akustik yang dipasang pada sarang (misalnya oleh perusahaan BeeHero) dapat mendeteksi gangguan lebih awal, membantu peternak mengintervensi sebelum kerusakan meluas.
Implikasi Etis dan Religius
Jika lebah memang mengalami keadaan negatif, maka kesejahteraannya harus menjadi pertimbangan moral dalam praktik pertanian. Dalam perspektif Islam, Surah An‑Nahl ayat 68‑69 menekankan peran lebah sebagai makhluk yang menerima petunjuk Ilahi untuk membangun sarang dan memproduksi madu, mengajak manusia menghargai keberadaannya.
Kesadaran bahwa serangga mungkin memiliki “kehidupan batin” menantang pandangan antropentris tradisional dan mendorong kebijakan yang lebih ramah lingkungan, seperti pengurangan pestisida berbahaya, penanaman flora berbunga sepanjang musim, serta perlindungan habitat alami.
Secara ilmiah, perdebatan mengenai emosi pada serangga masih berlangsung; peneliti terus menguji hipotesis dengan eksperimen yang semakin cermat. Sementara bukti belum cukup untuk menyimpulkan bahwa lebah merasakan emosi sebagaimana manusia, temuan‑temuan tersebut membuka ruang diskusi tentang etika, ekologi, dan cara kita memperlakukan makhluk sekecil lebah.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Legalitas Batik Khas Gresik melalui Perjanjian Jual Putus
Dalam acara resmi, Fatma Hajar bersama pihak pencipta desain batik, Abidin Roiyyani, menandatangani surat perjanjian yang memberikan hak eksklusif kepada PDNA Gresik untuk memproduksi, memodifikasi, memasarkan, dan menjual motif batik tersebut di seluruh wilayah Republik Indonesia maupun internasional. Kesepakatan ini bersifat permanen dan tidak melibatkan pembagian royalti di masa mendatang.
Ketua PDNA Gresik Fatma Hajar Islamiyah, M.Pd., dan Abidin Roiyyani memperlihatkan dokumen perjanjian yang baru saja ditandatangani.
Fatma menegaskan bahwa administrasi yang tertib merupakan landasan utama organisasi kaderisasi. "Organisasi kita bersifat perkaderan; tidak mungkin satu orang memegang semua peran selamanya. Maka warisan nilai dan kebijakan harus jelas agar generasi berikutnya dapat melanjutkan dengan lebih baik," ujarnya.
Motif batik khas Gresik yang kini menjadi identitas visual organisasi pertama kali diperkenalkan pada periode PDNA Gresik 2016‑2022. Penggunaan batik tersebut semakin meluas, termasuk pada acara Tanwir PP NA, sehingga diharapkan menjadi simbol keberlanjutan identitas organisasi.
Sahnya Pengalihan Hak Cipta
Surat perjanjian mencantumkan bahwa hak ekonomi atas desain batik beralih sepenuhnya kepada PDNA Gresik tanpa batas waktu, mencakup hak produksi, reproduksi, adaptasi pada produk fesyen, serta promosi dan penjualan. Nilai transaksi disepakati kedua belah pihak dan telah dibayar lunas melalui transfer bank setelah penandatanganan, dengan jaminan bahwa desain tersebut orisinal dan bebas sengketa.
Dokumen perjanjian jual putus dan pengalihan hak cipta desain Batik Khas Nasyiatul Aisyiyah Gresik.
Langkah ini diharapkan memperkuat tata kelola organisasi, memberi kepastian hukum, serta menumbuhkan rasa memiliki di antara para anggota terhadap warisan budaya lokal.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Kepercayaan yang paling tinggi sekalipun tidak selalu menjamin loyalitas. Sejarah panjang bangsa-bangsa menunjukkan bahwa musuh paling berbahaya seringkali berada di dalam lingkaran terdekat pemimpin, memegang kunci rahasia negara.
Jejak Pengkhianatan di Panggung Sejarah
18, Jenderal Benedict Arnold, yang dulu dipuja sebagai pahlawan Revolusi Amerika, diam-diam bersekongkol dengan Inggris untuk menyerahkan benteng West Point. Arnold memiliki akses penuh ke rencana pertahanan, namun kepercayaannya tidak menghentikannya berkhianat.
Di era Perang Dingin, kelompok yang dikenal sebagai Cambridge Five menancapkan mata mereka ke dalam layanan diplomatik dan intelijen Inggris. Anggota-anggota yang berpendidikan tinggi itu menyelundupkan informasi strategis ke Uni Soviet, memanfaatkan posisi resmi mereka untuk menggerogoti keamanan nasional.
Amerika Serikat pun tak luput dari pengkhianatan serupa. Aldrich Ames, seorang analis CIA, dan Robert Hanssen, agen FBI, masing‑masing mengeksploitasi akses mereka terhadap data rahasia, mengirimkan dokumen‑dokumen penting kepada pihak asing demi imbalan pribadi.
Mengapa Orang Kepercayaan Bisa Menjadi Ancaman?
ideologi, ambisi, keinginan materi, rasa kecewa, atau kepentingan politik. Beberapa memang menempuh karier dengan loyalitas ganda sejak awal, sementara yang lain tergoda oleh peluang yang muncul dari kedudukan mereka di dalam sistem.
Karena mereka sudah memegang kunci, pengawasan tradisional sering kali tidak mampu mendeteksi niat jahat hingga terlambat. Oleh karena itu, keamanan modern harus mengandalkan mekanisme pengawasan yang terintegrasi, bukan sekadar harapan pada integritas pribadi.
Kasus Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo Subianto
Isu ini kembali muncul di Indonesia ketika Bareskrim Polri menjerat empat perwira tinggi kepolisian sebagai tersangka dalam dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto. Hingga kini, motif, tujuan, serta isi rekaman yang diduga disadap belum terungkap secara resmi melalui proses peradilan.
Kasus tersebut menggarisbawahi pertanyaan mendasar: siapa yang mengendalikan akses ke sistem penyadapan, dan bagaimana mekanisme pengawasan dapat memastikan bahwa alat-alat intelijen tidak disalahgunakan?
Keberadaan orang kepercayaan dalam struktur negara memang penting, tetapi keamanan negara tidak boleh diletakkan sepenuhnya pada individu. Pengawasan yang kuat, audit berkala, dan akuntabilitas hukum menjadi prasyarat agar kunci‑kunci strategis tidak jatuh ke tangan yang salah.
Sejarah mengajarkan bahwa pengkhianatan paling menyakitkan datang dari orang yang paling dipercaya. Sebuah bangsa yang belajar dari pelajaran ini akan lebih siap mencegah pengulangan tragedi serupa.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
nilai seperti amanah, keadilan, dan musyawarah seolah menjadi tameng yang melindungi dari bahaya kekuasaan. Namun realitas menunjukkan bahwa struktur kepemimpinan dapat berubah menjadi sarana mempertahankan posisi, bukan lagi sekadar melayani tujuan kolektif.
Pengabdian yang Terselubung Kekuasaan
Seorang anggota organisasi biasanya masuk dengan semangat melayani, mengabdikan waktu, tenaga, dan jaringan untuk mewujudkan visi bersama. Seiring berjalannya waktu, jabatan yang awalnya dipandang sebagai amanah beralih menjadi identitas pribadi, sehingga kepentingan mempertahankan jabatan mengaburkan batas antara kepentingan organisasi dan kepentingan pribadi.
Lord Acton pernah menegaskan, “Kekuasaan cenderung merusak, dan kekuasaan absolut merusak secara mutlak.” Pernyataan ini tidak hanya relevan bagi pemimpin negara, tetapi juga bagi mereka yang memimpin komunitas keagamaan.
Kesalehan Sebagai Legitimasi Kekuasaan
Berbeda dengan arena politik yang mengandalkan hukum dan aparat, organisasi keagamaan sering memanfaatkan otoritas moral, kharisma, serta reputasi sejarah untuk memperoleh legitimasi. Kritik terhadap pemimpin kerap dianggap sebagai ketidakpatuhan atau penghinaan terhadap jasa masa lalu, padahal pengalaman tidak boleh menjadi tiket kepemilikan atas masa depan lembaga.
Pemimpin tetap manusia yang dapat keliru, memiliki kepentingan, dan memerlukan pengawasan. Tanpa ruang kritis, prinsip amar makruf nahi mungkar menjadi sekadar retorika yang tak diterapkan di dalam institusi itu sendiri.
Regenerasi dan Risiko Oligarki
Menurut Robert Michels dengan teori “Iron Law of Oligarchy”, organisasi yang semakin kompleks cenderung dikuasai oleh kelompok elite kecil yang mengendalikan informasi dan keputusan strategis. Dalam konteks ormas keagamaan, nama‑nama baru sering muncul di struktur formal, namun pusat keputusan tetap berada pada lingkaran lama.
Kader muda biasanya diberikan tugas operasional, bukan otoritas untuk menentukan arah kebijakan. Akibatnya, proses kaderisasi menghasilkan pelaksana, bukan pemimpin masa depan. Loyalitas pribadi pun mengalahkan loyalitas ideologis, membuat kritik dianggap mengganggu harmoni.
Kasus Muhammadiyah Menjelang Muktamar 2027
Refleksi semacam ini menjadi krusial bagi Muhammadiyah menjelang Muktamar 2027. Tradisi tajdid, musyawarah, dan kolektivitas kepemimpinan yang menjadi fondasi institusional harus dijaga lewat praktik yang konsisten, bukan sekadar retorika formal.
Apakah organisasi membuka ruang bagi kader potensial atau sekadar memutar posisi di antara elit yang sama? Apakah perbedaan pandangan diperlakukan sebagai kekayaan intelektual atau dianggap ancaman stabilitas? Pertanyaan‑pertanyaan ini merupakan muhasabah internal yang penting untuk menjaga relevansi dan dinamika organisasi.
Menyerahkan Kekuasaan sebagai Amanah
Dalam perspektif Islam, kekuasaan adalah amanah, bukan hak pribadi. QS. An‑Nisa ayat 58 menekankan penyerahan amanah kepada yang berhak, sementara QS. Asy‑Syura ayat 38 menegaskan pentingnya musyawarah dalam urusan bersama. Kedua ayat ini menolak monopoli kekuasaan dan menuntut akuntabilitas.
Pembatasan masa jabatan tidak berarti meremehkan jasa pemimpin senior; justru itu melindungi organisasi dari ketergantungan pada satu figur. Pemimpin yang matang menyambut generasi penerus, menjadikan mereka lebih kuat daripada dirinya. Pengabdian dapat terus berlanjut dalam peran guru, penasihat, atau inspirator meski tidak lagi memegang jabatan struktural.
Keberhasilan seorang pemimpin diukur bukan dari lamanya ia duduk di kursi, melainkan seberapa mandiri dan kuat organisasi setelah ia mundur. Ketika pemimpin mencintai institusi lebih dari jabatannya, itulah pengabdian yang sejati.
📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co